Dampak Konflik Timur Tengah pada Sektor Konstruksi
Konflik di kawasan Timur Tengah yang terus berlangsung memberikan dampak signifikan terhadap sektor konstruksi di Indonesia. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) mengungkapkan bahwa kondisi global, khususnya kenaikan harga energi, telah memicu kenaikan biaya konstruksi secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Umum GAPENSI, Andi Rukman Nurdin Karumpa, menyampaikan bahwa dalam periode Februari hingga April 2026, kenaikan biaya konstruksi bisa mencapai 3-8 persen dan berpotensi meningkat lebih tinggi jika kondisi ini terus berlanjut.
Harga Bahan Baku Naik
Andi menjelaskan bahwa harga solar industri saat ini berada di kisaran Rp21 ribu–23 ribu per liter, naik dari sebelumnya Rp18 ribu–20 ribu. Kenaikan harga solar industri ini turut mendorong kenaikan harga material seperti aspal, semen, dan baja.
Menanggapi hal ini, GAPENSI meminta pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian harga (eskalasi) terhadap proyek-proyek yang belum dikontrak. Hal ini dilakukan karena harga acuan yang digunakan masih berdasarkan kondisi tahun sebelumnya.
Sekretaris Jenderal GAPENSI, La Ode Safiul Akbar, menegaskan bahwa tanpa adanya penyesuaian harga, kontraktor berpotensi mengalami kerugian yang signifikan. Ia meminta agar proyek yang belum berkontrak diberikan ruang untuk penyesuaian harga agar pelaku usaha tidak menanggung beban biaya yang tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini.
Selain itu, GAPENSI menekankan pentingnya pemerataan kesempatan kerja bagi pelaku usaha konstruksi nasional, khususnya anggota asosiasi.
Permintaan Pemerintah untuk Penyesuaian Nilai Kontrak Proyek

Beberapa poin utama yang disampaikan oleh GAPENSI antara lain:
- Proyek konstruksi sebaiknya ditenderkan secara terbuka, bukan melalui skema swakelola dalam skala besar.
- Paket pekerjaan bernilai besar diharapkan dapat melibatkan swasta nasional, bukan hanya BUMN.
- Praktik swakelola dinilai berpotensi menghambat partisipasi kontraktor dan menimbulkan ketidakpastian pembayaran.
- GAPENSI mengingatkan bahwa dominasi skema tertentu dapat berdampak pada menurunnya jumlah pelaku usaha konstruksi, yang tercermin dari penurunan jumlah anggota secara nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan pada Sektor Konstruksi

La Ode mengungkapkan bahwa tekanan terhadap sektor konstruksi tidak hanya berdampak pada margin keuntungan, tetapi juga berpotensi mengancam keberlangsungan usaha. “Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penyesuaian kebijakan, maka cepat atau lambat pelaku usaha konstruksi, khususnya skala kecil dan menengah, akan mengalami kesulitan bahkan berpotensi berhenti beroperasi,” ujar La Ode.
Andi Rukman menambahkan bahwa untuk mempertahankan keberlangsungan usaha konstruksi nasional, diperlukan pemerataan distribusi proyek antara BUMN dan swasta nasional, keterlibatan pelaku usaha di daerah, serta penguatan ekosistem konstruksi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami berharap proyek-proyek besar juga dapat melibatkan swasta nasional, sehingga tidak terjadi ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan hingga ke daerah,” ujar Andi Rukman.







