Ukraina dan Rusia Berusaha Menjalin Perdamaian
Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, menyatakan bahwa pihaknya hampir mencapai kesepakatan perdamaian dengan Rusia. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Bloomberg yang dirilis pada Jumat (10/4/2026). Meski begitu, proses negosiasi damai antara kedua negara terbukti sangat rumit karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing.
Budanov menjelaskan bahwa dalam negosiasi damai, baik Ukraina maupun Rusia sama-sama mempertahankan pendirian mereka. Hal ini membuat proses negosiasi berjalan alot dan seringkali berakhir tanpa kesepakatan berarti. Namun, ia tetap yakin bahwa kedua pihak semakin dekat pada kesepakatan perdamaian. Terlebih, Rusia juga mulai ingin segera mengakhiri perang dengan Ukraina.
Perang yang telah berlangsung selama empat tahun ini sudah menghabiskan biaya yang sangat besar. Menurut Budanov, jumlah biaya tersebut sudah mencapai triliunan. Hal ini menjadi alasan mengapa Rusia mulai lebih terbuka untuk menyelesaikan konflik melalui negosiasi.
Proses Negosiasi Damai yang Terus Berlangsung
Sejak awal konflik, Ukraina dan Rusia sudah berkali-kali melakukan pertemuan trilateral dengan Amerika Serikat sebagai mediator. Sayangnya, semua pertemuan tersebut gagal mencapai kesepakatan yang bermakna. Pertemuan pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 23–24 Januari dan 4–5 Februari 2026. Kedua pertemuan itu tidak berhasil menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

Meskipun demikian, kedua negara tidak menyerah. Mereka lalu menggelar pertemuan ketiga di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari lalu. Sayangnya, pertemuan tersebut juga gagal menghasilkan perdamaian. Proses negosiasi terus berjalan, meski hasilnya belum memuaskan.
Tertundanya Negosiasi Tahap Keempat
Sebetulnya, Ukraina dan Rusia sudah siap melakukan pertemuan trilateral tahap keempat untuk menegosiasikan perdamaian. Namun, pertemuan ini tertunda karena AS masih fokus pada perang Iran. Negosiasi damai antara Ukraina dan Rusia tidak bisa berjalan tanpa melibatkan Negeri Paman Sam.

Pertemuan tahap keempat ini sebenarnya hampir terlaksana. Sayangnya, upaya ini gagal karena AS tidak menyetujui tempat pertemuan trilateral tersebut. AS ingin pertemuan dilakukan di wilayahnya. Saat ini, AS tidak mau menggelar pertemuan di luar negeri karena situasi konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, Rusia tidak mau pertemuan digelar di AS. Mereka ingin pertemuan digelar di Turki atau Swiss. Namun, AS menolak mentah-mentah usulan tersebut.
Meski begitu, Budanov menyatakan bahwa delegasi dari AS akan berkunjung ke Ukraina pada pekan depan. Kunjungan tersebut dikabarkan bertujuan untuk membahas negosiasi damai antara Kyiv dan Moskow.
Isu-isu Terkait Krisis Energi dan Kapal Gandum
Selain isu perdamaian, Filipina juga meminta izin kepada AS untuk mengimpor minyak Rusia demi mengatasi krisis energi. Sementara itu, Ukraina mendesak Israel untuk menjelaskan soal kapal gandum Rusia yang ditemukan di pelabuhan Haifa. Di sisi lain, Rusia telah setuju untuk membayar kompensasi atas jatuhnya pesawat Azerbaijan. Isu-isu ini menunjukkan bahwa konflik antara Ukraina dan Rusia tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga berdampak secara global.






