Aksi Nekat Petugas Kremasi di Thailand
Seorang petugas kremasi di Chonburi, Thailand, melakukan aksi yang tidak biasa dan viral di media sosial. Ia membawa jenazah ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) demi membuktikan bahwa dirinya tidak sedang menimbun bahan bakar minyak (BBM). Aksi ini dipicu oleh rasa frustrasi karena pihak SPBU sebelumnya menolak mengisi jeriken miliknya akibat aturan pembatasan ketat selama krisis energi global.
Kelangkaan BBM Memicu Aksi Tidak Biasa
Kelangkaan BBM jenis solar di Thailand memicu berbagai tindakan tak terduga. Salah satunya adalah aksi Preecha (48), seorang petugas kremasi di sebuah kuil di kawasan rute 344, Kota Madya Ban Bueng. Aksi ini dilakukan dalam video Facebook Live pada Minggu (29/3/2026).
Preecha mengungkapkan bahwa ia awalnya datang ke SPBU lokal untuk membeli solar menggunakan tiga jeriken berkapasitas 18 liter guna keperluan kremasi. Namun, petugas SPBU menolak permintaannya karena adanya aturan rasioning (pembatasan) ketat selama krisis BBM. Meski telah menjelaskan kegunaannya secara berulang kali, pihak SPBU tetap bersikeras menolak.
“Saya sudah bilang kepada mereka bahwa ini untuk keperluan kremasi, tetapi mereka tetap tidak mengizinkannya,” ujar Preecha seperti yang dilansir dari Thairath.
Membawa Jenazah ke SPBU
Guna mematahkan kecurigaan penimbunan, Preecha kembali ke SPBU tersebut dengan membawa mobil jenazah. Di dalamnya terdapat peti mati berisi jasad yang baru saja ia jemput dari rumah sakit, lengkap dengan tiga jeriken kosong yang biasa ia beli di sana.
Di area parkir pompa bensin, ia membuka peti mati tersebut untuk menunjukkan bukti nyata jenazah di dalamnya. Kepada petugas, Preecha menjelaskan bahwa solar tersebut dibutuhkan secara mendesak untuk segera digunakan dalam ritual kremasi.
Kepada wartawan, Preecha menjelaskan bahwa pihak keluarga almarhum telah setuju untuk segera melakukan kremasi karena keterbatasan biaya. Selain itu, pihak rumah sakit membutuhkan ruang penyimpanan untuk jenazah baru yang terus berdatangan, sementara opsi pemakaman tidak memungkinkan karena area pemakaman sedang dalam proses pembersihan oleh unit penyelamat setempat.
Beruntung, ada seorang dermawan yang bersedia membiayai kebutuhan solar untuk prosesi tersebut. Setelah melihat langsung jenazah di dalam peti, petugas SPBU tampak berkonsultasi dengan manajer selama 1-2 menit sebelum akhirnya bersedia mengisi jeriken milik Preecha.
Pengalaman Profesi yang Berbeda
Preecha menuturkan bahwa ia telah menjalani profesi ini sejak 2005, jauh sebelum krematorium di kuilnya ditingkatkan dari berbahan bakar arang menjadi sistem elektrik bertenaga diesel.
“Ini adalah pertama kalinya saya harus melakukan hal seperti ini,” katanya.
“Saya paham mereka mencoba mencegah penimbunan, tetapi kami benar-benar membutuhkan bahan bakar untuk melaksanakan kremasi.” pungkas Preecha.
Stok BBM di Thailand Jelang Songkran
Krisis BBM yang berdampak ke masyarakat umum seperti yang dialami Preecha mencerminkan tantangan besar di lapangan, kontras dengan laporan mengenai kendaraan dan mesin yang juga kesulitan mendapatkan BBM.
Menanggapi hal ini, Pemerintah Thailand memastikan stok BBM cukup untuk kebutuhan libur panjang Songkran melalui percepatan distribusi nasional. Songkran adalah perayaan Tahun Baru tradisional Thailand yang dirayakan setiap bulan April.
Pada tahun ini, Perayaan Songkran dihelat dari Senin, 13 April hingga Rabu, 15 April 2026. Pemerintah Thailand sendiri telah menetapkan Songkran sebagai hari libur nasional resmi dengan durasi cukup panjang sekitar seminggu.
Guna mengantisipasi libur panjang tersebut, Rachada Dhnadirek, asisten menteri di Kantor Perdana Menteri, menyatakan bahwa Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah memerintahkan penyaluran sekitar 7 juta liter BBM per hari kepada distributor grosir. Kebijakan ini dilakukan guna mengurangi antrean selama periode hari raya Songkran.
Pemerintah juga menurunkan kewajiban cadangan BBM dari 3 persen menjadi 1 persen untuk mempermudah impor minyak olahan dari negara produsen seperti Brasil, Azerbaijan, dan Nigeria. Data menunjukkan sekitar 24 juta barel minyak dijadwalkan tiba di Thailand pada April ini untuk menutupi lonjakan permintaan perjalanan.
Selain itu, otoritas keamanan seperti Departemen Investigasi Khusus (DSI) terus melakukan inspeksi mendadak, termasuk penggerebekan tiga lokasi penyimpanan ilegal di Saraburi yang menimbun lebih dari 31.000 liter bahan bakar tanpa izin.







