Potensi Ekonomi Pasar Ranggeh yang Menarik Perhatian
Pasar Ranggeh di Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, menjadi salah satu tempat yang memiliki keunikan dalam hal distribusi hasil pertanian langsung dari petani kepada konsumen. Aktivitas perdagangan di kawasan ini dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar.
Keberadaan pasar tumpah yang telah berlangsung selama puluhan tahun tidak hanya menjadi ruang transaksi masyarakat, tetapi juga menjadi jalur distribusi langsung hasil panen petani kepada konsumen. Hal ini membuat harga barang lebih murah dan kualitas produk lebih segar karena tidak melalui banyak perantara.
Diskusi Forum Jagongan Wakil Rakyat (JAWARA) bertema “Menata Potensi Pasar untuk Penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)” digelar di area Pasar Ranggeh, Rabu (4/3/2026) dini hari. Diskusi ini menjadi wadah untuk membahas bagaimana memaksimalkan potensi ekonomi yang ada sambil tetap menjaga ketertiban dan kenyamanan publik.
Dilema Penataan: Antara Ekonomi dan Ketertiban
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Rias Judikari Drastika, menyampaikan bahwa pasar tumpah di Ranggeh memiliki keunikan tersendiri karena banyak pedagang merupakan petani yang menjual langsung hasil panennya. Model perdagangan seperti ini membuat rantai distribusi menjadi lebih pendek, sehingga harga barang lebih terjangkau dan kualitas produk lebih segar.
Namun, keberadaan pedagang yang berjualan di sepanjang badan jalan juga menimbulkan persoalan kenyamanan dan penataan kawasan. Oleh karena itu, diperlukan langkah penataan yang tetap mempertahankan aktivitas ekonomi pedagang, namun juga menghadirkan kenyamanan bagi pembeli serta ketertiban kawasan.
“Penataan perlu dilakukan, tapi harus dengan pendekatan yang tidak merugikan pedagang. Justru tujuannya agar pedagang lebih nyaman berdagang dan pembeli juga merasa aman serta mudah menjangkau,” ujarnya.
Ia menambahkan, penataan yang baik dapat dilakukan dengan menyediakan area yang lebih representatif bagi pedagang, tanpa harus memindahkan mereka terlalu jauh dari lokasi saat ini yang sudah dikenal masyarakat. Pemerintah daerah perlu berdialog dengan para pedagang untuk mengetahui kebutuhan mereka sebelum merancang skema penataan.
Kontribusi PAD dan Tantangan Pengelolaan
Kepala UPT Pasar Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Iwan Wahyudi, mengatakan bahwa saat ini pasar tumpah tersebut sudah memberikan kontribusi retribusi, meskipun nilainya masih terbatas. Dari aktivitas pedagang yang ada, potensi retribusi saat ini berkisar antara Rp75.000 hingga Rp100.000 per hari.
Namun, ia mengakui pengelolaan pasar tumpah tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya belum adanya pendataan pedagang secara menyeluruh. Selain itu, jam operasional pasar yang berlangsung pada dini hari, yakni sekitar pukul 02.00 hingga 06.00 WIB, juga menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan petugas di lapangan.
Di sisi lain, lokasi pedagang yang berada di badan jalan juga menjadi persoalan kewenangan karena area tersebut berada di luar pengelolaan langsung pasar. Karena itu, ke depan pihaknya berencana berkoordinasi dengan instansi terkait serta menjalin komunikasi dengan paguyuban pedagang untuk mencari solusi pengelolaan yang lebih efektif.
Solusi yang Saling Menguntungkan
Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah penyediaan area khusus atau penataan lokasi berdagang agar aktivitas pasar tetap berjalan tanpa mengganggu fungsi jalan. “Yang penting bagaimana pedagang tetap bisa berdagang dengan baik, pembeli juga nyaman, dan pengelolaannya bisa lebih tertib,” katanya.
Melalui diskusi tersebut, DPRD berharap potensi ekonomi rakyat di Pasar Ranggeh dapat terus berkembang melalui penataan yang tepat. Dengan pengelolaan yang lebih baik, pasar tradisional tidak hanya menjadi ruang perdagangan masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi pembangunan daerah.







