George Soros: Dari Seorang Ekonom Hingga Filantropis Kontroversial
George Soros, seorang ekonom dan filantropis yang sering muncul dalam berbagai isu krisis global. Namanya juga dikaitkan dengan beberapa lembaga di Indonesia sebagai pendonor. Siapa sebenarnya sosok George Soros?
George Soros lahir dengan nama asli György Schwartz pada 12 Agustus 1930 di Budapest, Hungaria. Ia tumbuh di tengah perang dunia kedua, masa di mana banyak orang Yahudi mengalami diskriminasi dan pembantaian. Keluarganya berhasil bertahan hidup dengan cara memperoleh identitas palsu dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.
“Alih-alih menyerah pada nasib, kami melawan kekuatan jahat yang jauh lebih kuat daripada kami, tapi kami menang. Kami tidak hanya bertahan hidup, tapi juga bisa membantu orang lain,” ujar Soros terkait pengalamannya saat itu.
Setelah perang, Hungaria jatuh ke tangan rezim komunis. Pada tahun 1947, Soros pindah ke London untuk melanjutkan studinya di London School of Economics. Di sana, ia bekerja paruh waktu sebagai kuli kereta api dan pelayan klub malam untuk membiayai kuliahnya.
Pada tahun 1956, Soros hijrah ke Amerika Serikat dan mulai meniti karier di dunia keuangan. Kariernya melesat hingga pada 1970 dia mendirikan Soros Fund Management, sebuah hedge fund yang menjadikannya salah satu investor paling sukses dalam sejarah Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, Soros juga mendirikan Quantum Fund. Popularitasnya meningkat pada September 1992 ketika pemerintah Inggris terpaksa mendevaluasi pound sterling. Dengan strategi spekulasi, Soros menjual miliaran pound sterling dan membelinya kembali setelah nilai mata uang itu jatuh. Dari aksi ini, Soros meraup keuntungan sekitar 1 miliar dolar AS dalam waktu singkat. Aksi tersebut membuatnya dijuluki “orang yang menghancurkan Bank of England.”
Namun, tidak semua spekulasinya berhasil. Pada 1994, dia merugi besar setelah salah memprediksi penguatan dolar AS terhadap yen Jepang. Dana yang dikelolanya juga kehilangan ratusan juta dollar hanya dalam satu hari pada Februari tahun itu.
Nama Soros kembali menjadi perbincangan saat krisis finansial Asia 1997. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menuduhnya menjadi biang kerok kejatuhan ringgit. Faktanya, dana Soros justru ikut menderita kerugian miliaran dollar. Dia lalu bangkit lewat keuntungan dari saham internet pada 1999, tetapi mulai mengadopsi strategi investasi lebih hati-hati setelah gelembung teknologi pecah di 2000.
Pada 2002, Soros dijatuhi denda 2,2 juta euro (2,9 juta dollar AS) oleh pengadilan Prancis karena kasus perdagangan orang dalam (insider trading) terkait saham Société Générale pada 1988. Upaya bandingnya ditolak pada 2006.
Soros kemudian memutuskan, Quantum Fund tidak lagi mengelola dana investor eksternal. Statusnya hanya aset milik dirinya dan keluarganya.
Jejak Filantropi George Soros
Tidak hanya sebagai investor, Soros juga menorehkan jejak besar di bidang filantropi. Pada 1984, dia mendirikan Open Society Foundations (OSF), jaringan yayasan yang awalnya berfokus pada Eropa Timur. Di Hungaria, dia mendanai beasiswa, membantu modernisasi sekolah dan bisnis, bahkan memperoleh izin untuk beroperasi bebas meski negara itu masih di bawah rezim komunis.
Setelah Perang Dingin berakhir, OSF memperluas jangkauan ke Cekoslowakia, Polandia, Rusia, hingga Yugoslavia. Soros kerap menuai kritik, karena di satu sisi menentang praktik jangka pendek dalam pemerintahan Barat, sementara di sisi lain memperoleh keuntungan besar dari spekulasi mata uang.
Walau demikian, komitmennya dalam membangun demokrasi dan masyarakat terbuka tetap berjalan. Memasuki abad ke-21, OSF aktif di lebih dari 70 negara, mendukung berbagai inisiatif pendidikan, hak asasi manusia, dan transparansi pemerintahan.
Pada 2017, Soros dilaporkan telah mengalokasikan sekitar 18 miliar dolar AS untuk OSF, menjadikannya salah satu organisasi filantropi terbesar di dunia.







