Pengembangan Kawasan Lumbung Pangan di Papua Selatan
Pengembangan kawasan lumbung pangan di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa pembangunan kawasan pangan terpadu di Papua Selatan merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun fondasi ekonomi kuat berbasis sektor riil. Ia menjelaskan bahwa program cetak sawah telah dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Papua Selatan, Lampung, hingga Kalimantan Tengah.
Peran Penting Cetak Sawah
Di wilayah Wanam, Papua Selatan, daerah tersebut memiliki kondisi lahan yang berawa. Menurut Sudaryono, menanam padi di daerah ini tidak hanya sulit karena lahan, tetapi juga karena air. “Bisnis bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita ciptakan, air tidak bisa kita ciptakan, hanya bisa kita kelola. Kita memang memfokuskan daerah yang banyak airnya, seperti di Papua Selatan,” jelasnya.
Selain itu, daerah yang menjadi lokasi cetak sawah telah diberikan insentif, pelatihan dalam mengelola lahan, hingga penyediaan alat mesin pertanian dan pengelolaan air serta pupuk. Hasilnya mensejahterakan rakyat setempat. “Kalau ini butuh kadang setahun, dua tahun, tiga tahun, sampai lahannya optimal sebagai lahan pertanian,” tambahnya.
Sudaryono juga menegaskan bahwa cetak sawah tetap diperlukan meski negara sudah berhasil swasembada beras. “Karena penduduk kita nambah terus, maka mau tidak mau, suka tidak suka, memang ini untuk cadangan kita persiapan pangan kita 50 sampai 100 tahun yang akan datang,” tekannya.
Tanggapan DPR RI
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Panggah Susanto, menilai PSN pengembangan kawasan lumbung pangan berupa cetak sawah baru seluas satu juta hektare di Wanam, Papua Selatan, memiliki peran krusial bagi ketahanan pangan nasional jangka panjang.
Ia menyatakan bahwa cetak sawah baru ini penting untuk ketahanan pangan jangka panjang, untuk antisipasi kebutuhan pangan yang meningkat, dan menghindari ketergantungan pangan dari negara lain. “Cetak sawah baru ini penting untuk ketahanan pangan jangka panjang, untuk antisipasi kebutuhan pangan yang meningkat, dan menghindari ketergantungan pangan dari negara lain,” ujar Panggah.
Panggah menambahkan bahwa untuk jangka pendek dan menengah, pemerintah juga perlu melakukan langkah simultan dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada demi mencapai kedaulatan pangan nasional.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa program pengembangan lahan pertanian di Merauke merupakan upaya pemerintah membangun ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi lahan dan peningkatan produksi pangan di berbagai daerah.
Menurutnya, lahan yang dibangun bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan untuk petani dan masyarakat sekitar. “Yang kami lakukan di Merauke untuk rakyat. Kami membangun optimalisasi lahan, menyediakan irigasi, menyerahkan alat dan mesin pertanian, serta meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat,” katanya.
Amran menegaskan bahwa program tersebut telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat Papua. Salah satunya adalah perbaikan ketersediaan pangan yang berdampak pada stabilitas harga beras. “Dulu harga beras di Papua bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram. Sekarang sekitar Rp13 ribu. Ini hasil kerja nyata yang dirasakan masyarakat,” katanya.






