Adaptasi Film “Wuthering Heights” yang Menuai Kontroversi
Film Wuthering Heights yang disutradarai oleh Emerald Fennell akhirnya dirilis di bioskop. Sebagai sutradara dari film-film seperti Saltburn (2023) dan Promising Young Woman (2020), Fennell terkenal dengan pendekatannya yang unik dan seringkali menimbulkan perdebatan. Dalam adaptasi ini, ia melakukan banyak perubahan dari novel klasik Emily Brontë. Hal ini membuat film ini menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir.
Adaptasi ini diangkat dari novel klasik yang memiliki judul sama, yaitu Wuthering Heights. Jika kamu belum familiar dengan buku tersebut, film ini lebih menonjolkan sisi sensual dan visual. Namun, ada beberapa perubahan signifikan yang dilakukan oleh Fennell dari novel aslinya. Berikut adalah beberapa perubahan utama yang membuat film ini menuai kontroversi.
1. Adaptasi Hanya Mengambil Setengah dari Novel
Sebagian besar adaptasi Wuthering Heights fokus pada hubungan antara Catherine dan Heathcliff, daripada menggambarkan seluruh cerita dari novel Emily Brontë. Film ini juga mengesampingkan elemen Gotik yang terdapat dalam novel, seperti rasa bersalah yang menghantui Heathcliff setelah kematian Cathy, serta hal-hal supranatural yang memiliki intensitas emosional tinggi. Akibatnya, film ini tidak menjelaskan secara lengkap generasi berikutnya dari kedua karakter tersebut, termasuk kehidupan anak-anak Cathy dan Heathcliff yang dipenuhi oleh kekerasan dan balas dendam yang diwariskan dari orang tua mereka.
Selain itu, film ini tidak menyertakan Tuan Lockwood sebagai penengah cerita, dan tidak ada Nelly Dean untuk memperumit jalan ceritanya. Tanpa perspektif dari Isabella atau Zillah, hubungan antara Cathy dan Heathcliff disajikan secara lugas, sehingga membuat penonton kurang memahami karakter Cathy.
Perubahan yang paling kontroversial adalah penghapusan adegan kematian Cathy setelah melahirkan bayinya secara prematur. Dalam film, Cathy digambarkan meninggal karena depresi dan sakit parah. Dialog terakhir Heathcliff di menit-menit terakhir kematian Cathy, yaitu “Aku mencintai pembunuhku. Tapi pembunuhmu, bagaimana mungkin aku bisa?” diucapkan di adegan lain dalam film. Menghilangkan momen ini setara dengan mengadaptasi Romeo and Juliet tanpa adegan balkon.
2. Pemilihan Pemeran yang Mengubah Implikasi Cerita
Salah satu kontroversi terbesar seputar adaptasi Emerald Fennell adalah pemilihan pemerannya, yakni Jacob Elordi sebagai Heathcliff. Dalam novel, Heathcliff tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai orang kulit putih, tetapi digambarkan memiliki kulit yang lebih gelap dan sering disebut sebagai “Lascar” (istilah untuk pelaut Asia Selatan/India). Karena itu, Cathy dan Heathcliff tidak bisa bersama karena ras yang berbeda, yang membuat Heathcliff sering menerima perlakuan rasis sepanjang hidupnya.
Fennell memperumit hal ini dengan memilih Shazad Latif sebagai suami Cathy yang kaya raya, Edgar Linton. Heathcliff cemburu kepada Edgar bukan hanya karena menikahi Cathy, tetapi juga karena warna kulitnya yang putih memberinya hak istimewa yang tidak bisa didapatkan Heathcliff. Pemilihan aktor ini sangat memengaruhi makna cerita.
Selain itu, Hong Chau yang memerankan Nelly Dean dalam film ini digambarkan sebagai antagonis utama. Sebagai salah satu dari sedikit aktor non-kulit putih dalam film, Nelly dan Edgar menjadi dua rintangan terbesarnya. Pilihan ini pun dipertanyakan dan dianggap rasis.
3. Perubahan Karakter dalam Film
Dalam novel, Tuan Earnshaw dikenal baik hati, sedangkan saudara laki-laki Cathy, Hindley, tidak suka ayahnya lebih menyayangi Heathcliff. Dalam film, Tuan Earnshaw digambarkan sebagai penjudi yang mabuk dan kasar. Perubahan ini mengurangi ketegangan cerita.
Pelayan bernama Joseph yang sangat religius dan pemarah pun menjadi seorang laki-laki tampan yang diperankan oleh Ewan Mitchell. Sifatnya tidak mirip dengan orang tua, sehingga mengurangi konflik antara Cathy dan Heathcliff dengan karakter-karakter di sekelilingnya.
Perubahan lain yang cukup kontroversial adalah kepribadian Isabella, adik perempuan Edgar. Alison Oliver yang memerankannya digambarkan sebagai seorang yang canggung, kekanakan, dan tidak punya power. Meskipun ia tahu Heathcliff tidak akan pernah mencintainya, Isabella tetap nurut dan tidak memiliki pendirian. Dalam film, Isabella diperlakukan layaknya seekor anjing, meskipun dalam novel ia hanya diperlakukan layaknya binatang oleh Heathcliff.









