Rekor Tujuh Tahun Tak Terkalahkan Persebaya Surabaya di Ambang Derbi Jawa Timur
Persebaya Surabaya kini berada di ambang ujian terberat dalam sejarah mereka. Rekor tujuh tahun tanpa kekalahan yang telah mereka bangun menjadi sorotan utama menjelang laga Derbi Jawa Timur melawan Arema FC. Catatan ini bukan sekadar angka, tetapi simbol dominasi dan kepercayaan diri yang harus dipertahankan.
Sejak terakhir kali kalah pada 15 Agustus 2019, Persebaya Surabaya menjadi tim yang selalu mengancam Arema FC. Dalam 10 pertemuan terakhir, Green Force berhasil meraih tujuh kemenangan dan tiga hasil imbang tanpa pernah kalah. Dominasi ini dimulai dari kemenangan 4-1 pada 12 Desember 2019, yang menjadi titik balik bagi Persebaya Surabaya.
Sejak saat itu, performa konsisten dan mental kuat membuat Persebaya Surabaya mampu mengendalikan jalannya laga saat bertemu dengan rival bebuyutan. Rekor panjang ini memberikan tekanan tersendiri bagi pelatih Bernardo Tavares. Ia tidak hanya dituntut untuk menjaga tren positif, tetapi juga memastikan tim tampil dengan karakter kuat di laga penuh gengsi.
Derbi Jawa Timur selalu membawa tensi tinggi. Atmosfer pertandingan sering kali memengaruhi performa pemain, sehingga faktor mental menjadi kunci utama dalam menjaga rekor tersebut. Di sisi lain, Persebaya Surabaya datang dengan modal kepercayaan diri setelah meraih kemenangan atas Malut United. Meski hanya dibahas sekilas, hasil ini memberikan dorongan psikologis bagi skuad Green Force.
Dalam laga tersebut, Persebaya Surabaya menunjukkan efektivitas permainan meskipun tidak mendominasi penguasaan bola. Dua gol di babak kedua menjadi bukti ketajaman mereka dalam memanfaatkan peluang yang ada. Bernardo Tavares mengapresiasi kinerja anak asuhnya setelah laga tersebut.
“Secara permainan, saya melihat tim tampil sangat baik, baik saat menguasai bola maupun tanpa bola. Para pemain menunjukkan sikap dan mentalitas yang bagus. Kami menciptakan banyak peluang, terutama di babak kedua,” ujarnya.
Meski demikian, Tavares tidak menutup mata terhadap kekurangan timnya. Ia mengakui sempat ada celah dalam transisi permainan, terutama di babak pertama yang membuat lini pertahanan kurang optimal. “Di pertandingan ini, kami sempat menghadapi beberapa situasi transisi di babak pertama yang membuat pertahanan kurang optimal. Bahkan ada satu momen di mana lawan mencetak gol, tetapi akhirnya dianulir,” jelasnya.
Evaluasi tersebut menjadi penting karena Arema FC dikenal memiliki serangan balik cepat yang berbahaya. Jika celah serupa kembali muncul, rekor panjang Persebaya Surabaya bisa saja berada dalam ancaman serius. Selain aspek taktik, Tavares juga menyoroti mentalitas pemain yang mulai kembali setelah sempat tertekan akibat dua kekalahan beruntun.
Kemenangan terakhir dinilai menjadi titik balik penting bagi tim. “Saya melihat para pemain sangat senang dengan hasil ini, apalagi setelah dua pertandingan sebelumnya tidak berjalan baik. Secara mental, mereka memang membutuhkan momen seperti ini,” tegasnya.
Momentum positif ini diharapkan bisa berlanjut saat menghadapi Arema FC. Namun, derby selalu menghadirkan dinamika berbeda yang tak bisa diprediksi hanya dari statistik semata. Persebaya Surabaya memang unggul secara rekor, tetapi tekanan justru ada di pihak mereka untuk mempertahankan dominasi tersebut.
Sementara Arema FC datang dengan motivasi besar untuk memutus rantai buruk yang sudah terlalu lama. Faktor lokasi pertandingan yang digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, juga menambah nuansa berbeda. Bermain di tempat netral bisa mengurangi tekanan suporter, tetapi tetap tidak menghilangkan rivalitas panas di lapangan.
Dalam kondisi seperti ini, peran pelatih menjadi sangat vital. Bernardo Tavares harus mampu meramu strategi yang tidak hanya efektif, tetapi juga menjaga stabilitas emosi pemain sepanjang pertandingan. Ia menutup pernyataannya dengan penuh keyakinan terhadap timnya.
“Saya pikir para pemain pantas mendapatkan hasil ini. Saya sangat senang karena seluruh tim layak merasakan kebahagiaan atas kerja keras yang mereka tunjukkan di lapangan,” pungkasnya.
Kini, tantangan sesungguhnya ada di depan mata. Rekor tujuh tahun tak terkalahkan bukan hanya angka, tetapi warisan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Jika mampu mempertahankan tren positif, Persebaya Surabaya akan semakin mengukuhkan diri sebagai penguasa Derbi Jawa Timur. Namun jika lengah sedikit saja, sejarah panjang itu bisa runtuh dalam satu malam.






