Kebijaksanaan Sejati Berakar pada Kejujuran Hati
Kebijaksanaan sejati tidak lahir dari kecerdasan atau kemampuan manusia semata, melainkan dari kejujuran hati di hadapan Allah. Dalam kitab Sirakh, Yesus bin Sirakh, seorang guru kebijaksanaan Yahudi, mengingatkan kita bahwa hanya hati yang jujur yang mampu mengenali dan menerima kebijaksanaan Allah sebagai anugerah, bukan sekadar hasil kecerdikan manusia.
Kitab Sirakh ditulis sekitar tahun 200–180 sebelum Masehi, ketika umat Israel sedang menghadapi tantangan budaya dan spiritual akibat pengaruh budaya Helenis. Di satu sisi, mereka memegang tradisi iman yang berakar pada Taurat, yang menekankan bahwa kebijaksanaan sejati berasal dari takut akan Tuhan. Di sisi lain, budaya Helenis menawarkan pendekatan rasional dan modern yang tampak lebih menarik.
Ketegangan ini bukan hanya tentang budaya, tetapi juga krisis identitas iman: apakah Israel akan tetap memahami hikmat sebagai anugerah dari Allah, atau justru menganggapnya sebagai hasil kecerdikan manusia? Dalam konteks ini, Yesus bin Sirakh menegaskan bahwa kebijaksanaan manusia tidak dapat dipisahkan dari kebijaksanaan Allah. Kesetiaan pada Taurat adalah pilihan sadar untuk hidup secara bertanggung jawab di hadapan Allah.
Sirakh menempatkan kebijaksanaan pada wilayah terdalam dari diri manusia, yaitu hati. Ia mengajak umat Israel untuk berani menghadapi kebebasan mereka sendiri. Dalam Kitab Sirakh 15:16-17, ia menulis, “Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu; kepada apa yang kau kehendaki, dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia; apa yang dia pilih akan diberikan kepadanya.” Ini menunjukkan bahwa manusia bukanlah boneka di tangan Allah. Allah menciptakan manusia dengan kebebasan sejati dan tidak pernah berniat untuk mengambilnya kembali.
Dengan memberikan kebebasan kepada manusia, Allah menunjukkan kepercayaan-Nya yang mendalam kepada hati manusia. Ia tidak memaksa manusia untuk mencintai-Nya, tetapi mengundang mereka untuk mengikuti-Nya secara bebas. Penyerahan diri kepada Allah adalah puncak kebebasan manusia.
Kepekaan batin sangat penting dalam mendengarkan suara Allah, baik dalam doa maupun dalam peristiwa-peristiwa hidup yang konkret. Kegagalan, keberhasilan, luka, dan pengharapan baru seringkali muncul dalam ketidakpastian. Oleh karena itu, Rasul Paulus menyebut kebijaksanaan Allah sebagai “hikmat yang tersembunyi” (1Kor. 2:7), yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus.
Yesus menyingkap logika terbalik dari kebijaksanaan Allah. Kebijaksanaan ini seringkali bertentangan dengan logika dunia. Ia tidak selalu tampil dalam kemenangan atau kekuasaan, tetapi dalam kesetiaan yang sunyi, kejujuran yang tidak populer, bahkan dalam kesediaan untuk ditolak dan menderita. Kebijaksanaan ini lahir dari kerelaan untuk dicintai sepenuhnya oleh Allah.
Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya dengan cara yang radikal. Ia menembus sampai ke sumbernya: hati manusia. Ketaatan sejati bukan tentang apa yang tampak di luar, tetapi tentang kebenaran batin yang bekerja di dalam diri seseorang.
Ajakan Yesus, “Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak” (Mat. 5:37), memanggil kita untuk menghayati kejujuran hati. Tanpa kejujuran, manusia kehilangan kepekaannya terhadap kebijaksanaan Allah. Di zaman ini, budaya pencitraan yang diproduksi oleh dunia digital mendorong manusia lebih mengutamakan kesan dan tampilan daripada kebenaran. Ajakan Tuhan hari ini menjadi sebuah kritik, karena kejujuran hati menuntut keberanian: mengakui kelemahan, berkata “tidak” ketika tidak sanggup, dan berkata “ya” dengan tanggung jawab.
Bersikap seperti ini berarti berani berdiri seperti anak kecil di hadapan Allah tanpa menyembunyikan kegelisahan, kemarahan, atau keraguan. Kejujuran hati adalah pintu bagi kebijaksanaan Allah yang akan terus membentuk hidup manusia agar menjadi persembahan yang pantas bagi Allah. Amin.







