Tren Olahraga Saat Ramadan di Palembang
Di Palembang, tren olahraga selama bulan Ramadan tetap tinggi meskipun banyak orang khawatir akan rasa lemas dan dehidrasi saat berpuasa. Berolahraga saat puasa bisa dilakukan dengan aman jika dilakukan dengan cara yang tepat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. dr. H. Zulkhair Ali, menyatakan bahwa olahraga saat puasa tergolong aman selama memperhatikan kondisi fisik individu masing-masing.
Waktu terbaik untuk berolahraga adalah pada sore hari menjelang berbuka atau malam hari setelah berbuka agar tubuh tidak mengalami dehidrasi terlalu lama. Jika ingin berolahraga di pagi hari, pilihlah jenis aktivitas ringan yang tidak menguras keringat.
Batas Aman dalam Berolahraga
Mengenai batas aman antara menjaga kebugaran dan risiko membahayakan diri, ia mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri dan tetap menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh. Menurutnya, tubuh yang dipaksa berolahraga saat berpuasa rentan mengalami dehidrasi serta hipoglikemia atau kondisi kekurangan kadar gula darah.
“Olahraga bisa menjadi sangat berbahaya saat kadar gula darah terlalu rendah. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan koma hingga kematian,” tegasnya. Secara medis, intensitas olahraga yang dianjurkan selama Ramadan adalah aktivitas ringan seperti jogging santai, senam, atau olahraga intensitas rendah lainnya dengan durasi maksimal 30 menit.
Dr. Zulkhair juga mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda bahaya saat berolahraga, seperti rasa haus yang luar biasa, badan yang mendadak lemas, hingga mulai terjadinya gangguan orientasi atau penurunan kesadaran. “Sangat disarankan bagi pasien penderita penyakit jantung dan diabetes untuk tidak melakukan olahraga saat sedang berpuasa demi menghindari komplikasi medis.”
Tips dari Pelatih Fisik
Menjaga kebugaran fisik selama bulan Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Perubahan pola makan dan berkurangnya jam tidur sering kali memengaruhi tingkat energi serta produktivitas harian. Pelatih Fisik Sumsel United, Dino Sefriyanto, membagikan tips bagi masyarakat agar tetap bugar dan dapat menjalankan aktivitas olahraga dengan aman selama berpuasa.
Dino menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas fisik dan asupan nutrisi. “Saat berolahraga di bulan puasa, kita tidak boleh berlebihan karena ada risiko dehidrasi. Asupan kalori harus seimbang.” Menurut Dino, waktu paling ideal untuk berolahraga selama Ramadan adalah mendekati waktu berbuka puasa, yakni sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Ia menyarankan jenis olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti bersepeda, jalan cepat, workout cardio, atau skipping.
Setelah berbuka, kita bisa melakukan olahraga dengan intensitas rendah hingga tinggi, termasuk latihan kekuatan dan pembentukan otot, dengan durasi 1 hingga 2 jam. Terkait asupan makanan, Dino mengingatkan pentingnya nutrisi standar atlet pada saat sahur dan berbuka, yang meliputi karbohidrat, protein, lemak, serta sayuran dan buah-buahan yang cukup.
Pandangan dari Majelis Ulama Indonesia
Berolahraga selama bulan Ramadan tetap aman dan bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh jika dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang, Dr. H. Riza Pahlevi, M.A., menegaskan bahwa olahraga pada dasarnya tidak membatalkan puasa. “Olahraga tidak membatalkan puasa selama tidak menyebabkan hal-hal yang membatalkan, seperti makan, minum, atau memasukkan sesuatu ke rongga tubuh dengan sengaja.”
Riza menjelaskan bahwa Islam memandang olahraga sebagai upaya menjaga kesehatan. Tubuh merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. “Rasulullah SAW sendiri mempraktikkan aktivitas fisik seperti berjalan jauh, berkuda, memanah, hingga bergulat.”
Meski diperbolehkan, Riza mengingatkan agar umat Muslim tidak berolahraga secara berlebihan hingga membahayakan diri. Dalam kaidah fikih disebutkan, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” Jika olahraga memicu dehidrasi berat, pingsan, atau menghalangi ibadah wajib, maka hukumnya bisa berubah dari mubah (boleh) menjadi makruh, bahkan haram.
Waktu dan Jenis Olahraga yang Direkomendasikan
Untuk menjaga stamina, Ustaz Riza menyarankan waktu olahraga yang ideal:
Menjelang Berbuka: Sekitar 30–60 menit sebelum azan Magrib agar tubuh bisa segera rehidrasi.
Setelah Tarawih: Saat kondisi stamina lebih stabil setelah mendapatkan asupan nutrisi.
* Setelah Sahur: Aktivitas ringan seperti jalan santai atau peregangan (stretching).
Jenis olahraga yang direkomendasikan antara lain jalan cepat, jogging ringan, atau latihan beban intensitas rendah. “Niatkanlah olahraga sebagai ibadah. Misalnya dengan niat agar tubuh kuat untuk melaksanakan salat, puasa, dan amal saleh lainnya. Ramadan bukan alasan untuk melemah, melainkan momentum menata ulang keseimbangan hidup.”







