Kasus Narkoba yang Menyeret Eks Kapolres Bima Kota
Sejumlah fakta baru muncul dalam kasus dugaan narkotika yang menjerat eks Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro. Dalam proses penyidikan yang sedang berlangsung, nama Aipda Dianita Agustina juga ikut terseret setelah kediamannya di Curug, Kabupaten Tangerang, digeledah oleh penyidik.
Kasus ini bermula pada Rabu (11/2/2026) sore di Perumahan Cluster Grande Karawaci, Banten. Saat itu, Tim Paminal Mabes Polri mengamankan Didik untuk pemeriksaan. Dari interogasi awal, penyidik mendapatkan petunjuk mengenai sebuah koper putih yang diduga berisi narkotika. Informasi tersebut kemudian mengarah ke rumah Aipda Dianita Agustina di kawasan Curug, Kabupaten Tangerang.
Dalam penggeledahan di lokasi itu, aparat menyita 16,3 gram sabu, 49 butir ekstasi, alprazolam, Happy Five, serta ketamin. Selain itu, penyidik turut memeriksa Miranti Afriana dan Aipda Dianita guna mendalami peran masing-masing pihak. Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 609 ayat (2) huruf a KUHP juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana serta Pasal 62 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dan penyidikan masih terus dikembangkan.
Tabiat Asli Dianita Agustina
Di luar proses hukum tersebut, kehidupan Dianita di lingkungan tempat tinggalnya ternyata dikenal biasa saja oleh warga sekitar. Ketua RT setempat, Eka Media, menyebut tidak pernah ada gelagat mencurigakan selama Dian tinggal di klaster tersebut.
“Kalau kesehariannya sih baik kok. Sama tetangga juga welcome. Kalau papasan ya tegur-tegur sapa,” ujar Eka, Senin (16/2/2026). Menurutnya, Dian sudah tinggal di lingkungan tersebut sekitar dua hingga tiga tahun terakhir bersama dua anaknya. Suaminya diketahui telah meninggal dunia karena sakit.
“Kurang lebih dua sampai tiga tahun. Tinggal sama dengan dua anaknya,” kata Eka. Kawasan itu merupakan perumahan klaster dengan aktivitas warga yang padat. Interaksi antar tetangga pun terbatas karena sebagian besar berangkat kerja saat subuh dan pulang ketika hari sudah gelap.
“Namanya kehidupan di klaster, kita berangkat gelap, pulang gelap. Jadi jarang ketemu. Paling kalau lagi sama-sama di depan rumah ya ngobrol sebentar,” tutur pria berumur 39 tahun itu.
Peristiwa yang kemudian menjadi perhatian warga terjadi pada Rabu malam. Berdasarkan informasi dari petugas keamanan, sejumlah kendaraan mendatangi rumah Dian.
“Kalau kata petugas keamanan sih ada enam mobil. Isinya berapa orang nggak tahu,” ujar Eka. Ia sendiri tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut. Menurut penjelasan yang diterimanya, kedatangan rombongan itu tidak menimbulkan kecurigaan karena sama-sama anggota kepolisian.
“Karena yang bersangkutan polisi dan yang datang juga polisi, jadi sekuriti nggak terlalu banyak tanya. Kita pikir teman-temannya,” jelasnya. Tidak ada pemberitahuan khusus kepada pengurus RT terkait kegiatan di rumah tersebut.
“Memang nggak ada laporan ke saya. Kita juga nggak ada curiga apa-apa. Karena sama-sama polisi,” tambahnya. Sejak malam itu, Dian belum kembali ke kediamannya. Anak-anaknya pun telah dijemput keluarga dari pihak orang tua.
“Setahu saya, besoknya anak-anaknya dijemput sama orang tua Dian. Sekarang rumahnya memang kosong,” kata Eka. Ia berharap seluruh proses berjalan sesuai aturan dan fakta yang sebenarnya dapat terungkap.

“Kalau secara keseharian ya normal-normal saja. Baik-baik saja. Selebihnya kita serahkan ke proses yang berjalan,” tutupnya.
Pesan Terakhir
Hal serupa disampaikan Udi, petugas keamanan perumahan, yang mengaku mengenal Dian secara pribadi. Di matanya, polwan tersebut tidak pernah bermasalah dengan warga.
“Baik,” katanya tegas. Udi juga mengingat percakapan terakhir sebelum Dian meninggalkan rumahnya malam itu.
“Mau berangkat dia sempat bilang, “Pak tolong matiin (mesin air) Sanyo ya”,” ujar Udi menirukan ucapan Dian. Permintaan itu disampaikan ketika Dian sudah berada di dalam mobil yang terparkir dekat gerbang klaster.
“Di sini, dekat pager masuk. Bilang, ‘Pak, pak, pak tolong matiin mesin air’,” katanya. Saat itu, kaca mobil dalam keadaan terbuka.
“Di dalem mobil? Iya. Kacanya kebuka? Iya,” pungkasnya.







