Isu Penggunaan Jet Pribadi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Isu penggunaan fasilitas jet pribadi oleh Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, kembali menjadi perbincangan publik. Dugaan ini muncul setelah adanya laporan bahwa Menag menggunakan pesawat pribadi milik Oesman Sapta Odang (OSO), Ketua Umum Partai Hanura. Laporan tersebut telah resmi diajukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI).
Laporan ke KPK dan Tanggapan dari MAKI
Laporan yang diajukan oleh MAKI terdaftar melalui surat bernomor 01/MAKI-DUMAS_KPK/20.II/2026 yang diterbitkan pada 20 Februari 2026. Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, membenarkan bahwa laporan tersebut telah diajukan secara resmi. Ia menegaskan pentingnya sikap terbuka dan kooperatif dari Menag untuk memberikan data lengkap mengenai penggunaan jet pribadi tersebut.
Boyamin menyatakan bahwa jika nanti oleh KPK dinyatakan bahwa tidak ada unsur gratifikasi, maka laporan tersebut justru akan membantu Menag dalam membersihkan reputasinya. Ia berharap agar Menag segera datang ke KPK untuk menyerahkan seluruh data yang berkaitan dengan penerbangan tersebut.
Penjelasan dari Kementerian Agama
Menanggapi isu tersebut, Kementerian Agama melalui Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Thobib Al Asyhar, menjelaskan bahwa penggunaan jet pribadi adalah inisiatif dari OSO. Menurut Thobib, OSO secara khusus mengundang Menag untuk meresmikan Gedung Balai Sarkiah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Jet pribadi disiapkan oleh OSO untuk memudahkan Menag hadir di tengah agenda yang padat.
Selain itu, Kemenag juga menekankan bahwa kehadiran Menag di lokasi tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah atas inisiatif tokoh masyarakat dalam membangun infrastruktur keagamaan, sosial, dan ekonomi umat.
Perjalanan Karier dan Pendidikan Nasaruddin Umar
KH Nasaruddin Umar lahir pada 23 Juni 1959 dan kini berusia 65 tahun. Sebelum menjabat sebagai Menteri Agama, ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama dari tahun 2011 sampai 2014. Ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama untuk Masyarakat Dialog antar Umat Beragama dan pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Departemen Agama/Kementerian Agama Republik Indonesia.
Nasaruddin Umar juga merupakan anggota dari Tim Penasehat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair. Selain itu, ia juga terpilih sebagai Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022-2027.
Pendidikan dan Kiprah Akademis
Nasaruddin Umar melakukan studi pascasarjana di IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan mendapatkan gelar Magister (1992) serta doktoral (PhD) (1998). Selama studi kedoktorannya, ia sempat menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas McGill, Montreal, Kanada (1993-1994) dan Program Ph.D di Universitas Leiden, Belanda (1994-1995).
Setelah mendapatkan gelar doktoral, ia pernah menjadi sarjana tamu di Sophia University, Tokyo (2001), sarjana tamu di SOAS University of London (2001-2002), dan sarjana tamu di Georgetown University, Washington DC (2003-2004). Ia juga penulis dari 12 buku yang mencakup topik seperti Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran.
Riwayat Pendidikan
Pendidikan Nasaruddin Umar dimulai dari SDN 6 tahun di Ujung-Bone pada 1970. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Madrasah Ibtida’iyah selama 6 tahun di Pesantren As’adiyah Sengkang pada 1971. Ia juga menempuh PGA selama 4 tahun di Pesantren As’adiyah Sengkang pada 1974 dan PGA selama 6 tahun pada 1976.
Nasaruddin Umar menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang pada 1980 dan 1984. Ia juga menempuh program S2 (tanpa tesis) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1990-1992 dan program S3 (alumni Terbaik) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan disertasi tentang “Perspektif Jender Dalam al-qur’an” pada 1993-1998.
Nasaruddin Umar juga pernah menjadi visiting student di Mc Gill University Canada, Leiden University Belanda, dan Paris University Prancis. Ia juga melakukan penelitian kepustakaan perguruan tinggi di berbagai negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, Ankara, Istanbul, Srilanka, Korea Selatan, Saudi Arabia, Mesir, Abu Dhabi, Yordania, Palestina, dan Singapore, Kualalumpur, Manila.
Sebagai guru besar dalam bidang Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia mulai menjabat pada 12 Januari 2002.







