Penggeledahan Toko Emas Semar dan Rumah TW di Nganjuk dan Surabaya
Bareskrim Polri melakukan penggeledahan terhadap Toko Emas Semar dan rumah milik inisial TW di Kabupaten Nganjuk serta Kota Surabaya. Penggeledahan ini dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang berasal dari aktivitas tambang emas ilegal di Kalimantan Barat. Dalam operasi tersebut, petugas menyita belasan kilogram emas batangan serta dokumen-dokumen penting yang terkait dengan transaksi jual beli emas.
Lokasi Penggeledahan
Penggeledahan dilakukan di tiga lokasi berbeda, yaitu:
- Satu lokasi di Kota Surabaya, khususnya di sebuah rumah mewah dua lantai di Jalan Tampomas, Kecamatan Sawahan.
- Dua lokasi di Kabupaten Nganjuk, yaitu Toko Emas Semar di Pasar Wage, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Payaman, dan satu unit rumah tinggal milik TW.
Di Surabaya, rumah mewah tersebut diduga menjadi salah satu tempat pengelolaan emas yang berasal dari tambang ilegal di Kalbar. Sementara itu, di Nganjuk, toko emas dan rumah milik TW juga tidak luput dari penggeledahan.
Peran TW dalam Masyarakat
TW dikenal sebagai sosok yang murah hati oleh warga sekitar. Menurut tetangga, TW sering memberikan bantuan untuk kegiatan kampung. Ketua RW 2 lingkungan Jalan Diponegoro, Hartono, mengatakan bahwa hubungan TW dengan warga sangat baik. Bahkan, pada momen tertentu, TW rutin memberikan bantuan uang untuk kegiatan kampung.
Ketua RT 1 RW 2 lingkungan Jalan Diponegoro, Hari Kusyanto, juga mengungkapkan hal serupa. Ia menilai TW sebagai sosok yang dermawan. Setiap ada kegiatan kampung, dia selalu membantu. Namun, setelah TW pindah ke Surabaya sekitar tahun 2016 silam, hubungan dengan warga Nganjuk semakin jarang.
Proses Penggeledahan
Penggeledahan dilakukan pada Kamis (19/2/2026), pukul 09.00 WIB. Petugas dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri membutuhkan waktu hingga 16 jam untuk menyelesaikan penggeledahan di Toko Emas Semar. Sedangkan penggeledahan di rumah mewah di Jalan Diponegoro berlangsung selama 12 jam lebih.
Selama proses penggeledahan, petugas menyita perhiasan emas dan berbagai dokumen administrasi. Akibatnya, etalase toko kosong setelah semua barang bukti diamankan.
Kasus Tambang Emas Ilegal
Direktur Dittipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak, menjelaskan bahwa kasus ini terkait dengan tambang emas ilegal di Kalimantan Barat antara tahun 2019 hingga 2022. Meskipun kasus tersebut sudah inkracht di Pengadilan Negeri Pontianak, dana hasil penjualan emas ilegal tersebut diketahui mengalir ke beberapa pihak, sehingga menciptakan praktik TPPU.
Nilai transaksi jual-beli emas yang diduga berasal dari pertambangan ilegal mencapai Rp25,8 triliun. Toko Emas Semar di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Payaman, ikut digeledah karena diduga terlibat dalam transaksi tersebut.
Informasi tentang Pemilik Toko Emas
Menurut Koordinator Pasar Wage Nganjuk, Mulyadi, pemilik Toko Emas Semar tidak berdomisili di Kabupaten Nganjuk, melainkan di Kota Surabaya. Ia menyebut bahwa pemilik toko berinisial T dan telah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 1976 silam.
Saat penggeledahan dilakukan, pemilik toko tidak berada di lokasi. Mulyadi ditunjuk sebagai saksi dalam penggeledahan tersebut. Selama proses penggeledahan, para pegawai toko sempat membuka toko sebentar dan melayani pembeli. Namun, sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan polisi tiba dan langsung melakukan penggeledahan.
Hasil Penggeledahan
Setelah penggeledahan, seluruh perhiasan emas dan dokumen administrasi toko diamankan. Barang bukti kemudian dibawa menggunakan dua unit mobil Toyota Innova. Etalase toko juga terlihat kosong akibat pengangkutan barang bukti.







