Pengalaman dan Pelajaran Berharga dalam Karier Sangarthit Looksaikongdin
Sangarthit Looksaikongdin telah melewati berbagai tantangan dalam perjalanan karier di dunia olahraga bela diri. Di ONE Friday Fights 144, ia kembali ke Lumpinee Stadium, Bangkok, pada Jumat, 27 Februari, untuk menghadapi striker Jepang TAKU dalam pertandingan bantamweight kickboxing yang disiarkan secara live di jam primetime Asia.
Sebagai petarung muda berusia 22 tahun, Sangarthit memiliki latar belakang yang menarik. Ia tidak hanya berjuang untuk membuktikan dirinya, tetapi juga mencoba membangun identitasnya sendiri. Sebagai adik ipar mantan Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon, perbandingan dengan kakak iparnya menjadi hal yang tak terhindarkan. Namun, ia telah membuktikan bahwa ia layak berada di level ini.
Catatan 2-1 melawan lawan-lawan tangguh di ajang mingguan ONE Friday Fights menjadi bukti bahwa ia mampu bertahan di kompetisi ini. Setelah kalah dari Suablack Tor Pran49 di ONE Friday Fights 114, ia bangkit dengan kemenangan mutlak atas Ali “The King” Koyuncu di ONE Friday Fights 126. Meski hasilnya positif, ia merasa performanya belum maksimal.
Ia menjelaskan kepada onefc.com:
“Walaupun saya menang di laga terakhir, itu pertarungan yang sangat tipis. Kesalahan terbesar saya adalah soal penurunan bobot badan, dan di ring saya terlalu terbawa emosi.
Setelah kalah dari Suablack, saya sadar harus berubah. Di laga ketiga saya justru terlalu santai. Untuk laga ini, saya menemukan keseimbangan – tidak terlalu tegang, tapi juga tidak terlalu rileks.”
Dasar yang Kuat Sebelum Memasuki Kickboxing
Fondasi Sangarthit sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum ia terjun ke kickboxing. Sebelum beralih disiplin, ia mencatat rekor 19-0 di tinju profesional. Pengalaman ini memberinya bukan hanya pukulan tajam, tetapi juga mengasah insting, meningkatkan ring IQ, dan membangun kemampuan membaca pola lawan secara langsung.
Itulah senjata yang ingin ia manfaatkan saat menghadapi TAKU yang agresif. Ia menyampaikan:
“Keunggulan saya ada di kemampuan membaca pola pukulannya. Dengan pengalaman tinju profesional, saya bisa melihat celah dalam strikingnya. Saya harus cepat beradaptasi dan memanfaatkan celah itu.
Saya sudah mempelajarinya. Dia tipe petarung yang maju terus dan bertukar pukulan. Ini akan jadi pertarungan yang seru karena saya suka saat lawan datang menyerang – kita bisa langsung masuk dan bertarung.”
Mengendalikan Emosi dan Agresivitas
Sangarthit sadar bahwa agresivitas bisa menjadi pedang bermata dua. Terjebak dalam duel terbuka pernah merugikannya, dan ia tak ingin hal itu terulang. Melawan TAKU, ia ingin tetap terukur dalam mengendalikan tempo, tetapi tetap percaya diri untuk mengakhiri laga secara tegas.
Ia menjelaskan:
“Saya akan lebih terukur kali ini. Saya tidak akan bertukar pukulan secara membabi buta karena dia bukan lawan sembarangan. Tapi saya sangat percaya diri dengan kekuatan saya.”
Peran Penting Rodtang dalam Perkembangan Sangarthit
Tak banyak petarung yang memiliki sistem dukungan seperti Sangarthit Looksaikongdin. Rodtang Jitmuangnon bukan sekadar nama besar di Muay Thai, secara harfiah, ia adalah keluarga. Pengaruhnya terhadap Sangarthit melampaui sudut ring, terutama lewat contoh yang ia tunjukkan saat bertarung.
Meski dikenal sebagai salah satu petarung paling garang, Rodtang selalu tahu kapan harus menahan diri, tetap tenang, dan mengeksekusi strategi di bawah tekanan. Pelajaran itu terus diulang setiap hari di gym oleh Rodtang dan para kakaknya.
Sang adik ipar menjelaskan:
“Soal mengendalikan emosi, saya masih terus belajar. Keluarga saya sangat tegas dalam hal ini. Orang tua dan adik ipar saya selalu mengingatkan untuk tetap tenang. Tapi karena saya masih muda, kadang emosi mudah terpancing di tengah pertarungan.
Selama camp, bang Ya, bang Lot, dan Rodtang terus mengawasi pertahanan saya. Kami melatih offense dan defense, karena untuk punya serangan hebat, kamu butuh pertahanan yang solid.”
Mencapai Potensi Terbaik
Memasuki penampilan keempatnya di ONE, Sangarthit paham bahwa panggung global menuntut lebih dari sekadar bakat mentah. Penyempurnaan teknik, kesabaran, dan kemampuan eksekusi di bawah tekanan adalah pembeda antara penantang dan calon Juara Dunia ONE.
Melawan TAKU, ia ingin menampilkan semuanya:
“Saya masih di usia berkembang, dan di laga ini kalian akan melihat saya lebih terkontrol. Tahun ini saya tidak terlalu banyak berpikir. Saya hanya bersaing dengan diri sendiri untuk jadi lebih cepat dan lebih lincah.
Saya menjalaninya satu per satu. Setiap petarung ingin jadi juara, tapi untuk sampai ke sana, saya harus mencapai potensi terbaik saya dulu.”







