Prediksi Perjalanan Mudik Lebaran 2026

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memberikan prediksi terkait jumlah masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik pada periode Lebaran 2026. Ia menyebutkan bahwa sebanyak 143,9 juta orang diperkirakan akan melakukan pergerakan selama musim mudik tahun ini. Angka tersebut diperoleh dari hasil survei potensi pergerakan masyarakat.
Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (6/3), Dudy mengungkapkan bahwa meskipun jumlah ini lebih rendah 1,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah tetap menyiapkan antisipasi. Hal ini karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa realisasi pergerakan masyarakat sering kali melampaui hasil survei.
“Kami harus mengantisipasi apabila ternyata timbul lonjakan dengan angka yang berbeda dari survei tersebut,” ujarnya.
Wilayah Asal dan Tujuan Mudik
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Dudy, lima provinsi dengan jumlah pemudik terbanyak adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Sedangkan tujuan utama para pemudik adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Sulawesi Selatan.
Jika dilihat lebih rinci, wilayah dengan jumlah pemudik terbanyak sebagai titik keberangkatan adalah Jakarta Timur, Bogor, Bekasi, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat. Sementara kota tujuan utama antara lain Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Banyumas, dan Bandung.
Selain perjalanan antarprovinsi, beberapa destinasi wisata di sekitar Jabodetabek juga diperkirakan ramai dikunjungi selama libur Lebaran. Salah satunya adalah Puncak Bogor, yang menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat.
Moda Transportasi yang Digunakan
Dari sisi moda transportasi, Dudy menyebutkan bahwa mobil pribadi menjadi pilihan utama masyarakat dengan porsi mencapai sekitar 52,68 persen. Setelah itu diikuti oleh sepeda motor dan bus.
“Moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat ternyata yang paling besar adalah penggunaan kendaraan pribadi mobil sekitar 52,68 persen, disusul dengan motor dan bus, kemudian kapal penyeberangan, pesawat, dan seterusnya kereta api,” ujar dia.
Jalur Perjalanan yang Dipilih
Pemudik yang menggunakan mobil diperkirakan bakal memanfaatkan sejumlah ruas jalan utama seperti jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatra, serta jalur arteri di Pulau Jawa. Beberapa jalur yang umum digunakan antara lain jalan tol Trans Jawa, Trans Sumatra, jalur lintas Tengah Jawa, jalur lintas Utara, Pantura, dan jalur lintas Selatan.
Mereka juga menuju arah Bogor dan Puncak, yang menjadi destinasi favorit selama masa liburan.
Harga Tiket Pesawat yang Mengalami Kenaikan

Lebih lanjut, Menhub Dudy mengungkapkan bahwa tarif pesawat sering menjadi isu yang muncul setiap musim liburan, khususnya saat arus mudik Lebaran. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket biasanya mengikuti mekanisme pasar. Ketika permintaan perjalanan meningkat tajam sementara jumlah kursi penerbangan terbatas, harga tiket secara otomatis terdorong naik.
“Dan kalau dari saya ingin menyampaikan bahwa memang kalau peak season, ini sebenarnya rumus ekonomi gitu ya. Ketika ada high demand kemudian supply kendaraan-kendaraan sedikit, berarti harganya pasti naik,” ujar Dudy.
Dia menambahkan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi pada masa Lebaran, tetapi juga pada berbagai periode libur panjang atau acara besar yang memicu lonjakan perjalanan masyarakat.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Kenaikan Harga Tiket
Meski demikian, pemerintah berupaya menekan dampak kenaikan harga melalui berbagai kebijakan stimulus agar masyarakat tetap bisa mendapatkan tiket dengan harga yang lebih terjangkau. Contohnya, diskon tiket pesawat sebesar 17-18 persen pada masa Lebaran tahun ini.
“Jadi pemerintah berupaya supaya masyarakat dapat membeli tiket dengan harga yang terjangkau. Ini yang terus-menerus dilakukan oleh pemerintah supaya bisa membantu masyarakat,” papar dia.
Selain itu, Dudy juga mendorong maskapai untuk menambah penerbangan tambahan atau extra flight pada rute-rute yang mengalami lonjakan permintaan. Dengan tambahan penerbangan, pemerintah berharap jumlah kursi pesawat yang tersedia bisa meningkat sehingga mampu mengakomodasi lebih banyak penumpang.

Namun, Dudy saat ini belum mengambil langkah perubahan kebijakan tarif karena masih mempertimbangkan keluhan masyarakat mengenai harga tiket pesawat. “Kondisinya sekarang belum dilakukan saja, masyarakat banyak yang mengeluhkan mengenai tarif pesawat,” jelas dia.
Di sisi lain, keterbatasan jumlah pesawat juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi harga tiket. Menurut Dudy, jumlah armada pesawat di Indonesia hingga kini belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi COVID-19. Sebelum pandemi, jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia mencapai sekitar 700 unit. Namun saat ini jumlahnya sekitar setengah dari angka tersebut.
“Jadi pada saat sebelum COVID-19 itu pesawat sampai berapa? 700 (unit), sekarang yang tersedia setengahnya,” ungkapnya.






