Ancaman Penyakit Campak yang Mengancam Nyawa Anak-anak Indonesia
Penyakit campak, yang disebabkan oleh virus yang menular cepat melalui batuk dan bersin, kembali merebak dan mengancam nyawa anak-anak Indonesia. Meskipun penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi atau vaksinasi, kondisi saat ini menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi yang memperparah risiko wabah.
Campak bukan sekadar penyakit ringan, melainkan ancaman serius yang dapat berujung pada komplikasi berbahaya seperti pneumonia, diare, dan meningitis, yang bisa menyebabkan kematian. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling berhasil dan hemat biaya dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian, termasuk untuk campak.
Laporan dari Centers for Disease Control and Prevention Amerika (CDC) mencatat bahwa secara global, 10,3 juta orang telah terinfeksi campak dengan 95.000 balita meninggal akibat tidak divaksinasi campak di seluruh dunia. Data WHO juga menunjukkan adanya penurunan anak yang mendapat vaksinasi campak di tahun 2024, yang hanya mencapai 84 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat tahun 2019 yang sebesar 86 persen.
Indonesia menempati urutan kedua di bawah Yaman dengan kasus campak tertinggi di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak (meningkat 147 persen dibanding kasus campak di 2024), dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen). Dari jumlah tersebut, 68 persen kasus terjadi pada anak usia di bawah satu tahun dan mayoritas belum mendapatkan imunisasi.
Kondisi ini terus berlanjut hingga minggu ke-7 di tahun 2026 ini, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Faktor Penyebab Turunnya Cakupan Imunisasi
Salah satu faktor utama meningkatnya kasus campak dan KLB di Indonesia adalah menurunnya cakupan imunisasi. Data dari UNICEF (2023) menunjukkan adanya penurunan kepercayaan terhadap vaksin anak hingga mencapai 44 poin persentase di beberapa negara selama pandemi COVID-19.
Fenomena penolakan atau keraguan terhadap imunisasi (vaccine hesitancy) menjadi tantangan serius bagi program imunisasi nasional. Penyebab utama rendahnya cakupan imunisasi terletak pada rendahnya penerimaan masyarakat terhadap imunisasi. Penelitian Vaccine Confidence Project menunjukkan kepercayaan terhadap vaksin sempat terguncang secara global dipengaruhi oleh misinformasi, alasan agama, disrupsi program imunisasi akibat pandemi COVID-19, faktor pengetahuan, ekonomi, psikologis, sosiokultural, dan politik.
Di Indonesia, kondisi ini juga dipengaruhi oleh komunikasi publik yang terkesan satu arah dan pengaruh informasi media sosial yang tidak benar atau hoaks. UNICEF juga menemukan, hambatan imunisasi di Indonesia juga dipengaruhi norma sosial dan dinamika kekuasaan yang membatasi peran perempuan dalam keputusan vaksinasi.
Apa yang Harus Dilakukan?
Turunnya cakupan vaksinasi, termasuk campak, membuat kasus dan kematian akibat campak kembali meningkat. Penyebabnya beragam: misinformasi soal keamanan vaksin, alasan agama, gangguan layanan saat pandemi, hingga faktor ekonomi dan politik.
Karena itu, strategi komunikasi imunisasi harus lebih terbuka, partisipatif, dan sesuai konteks budaya. Tokoh agama, tenaga kesehatan, serta komunitas lokal perlu dilibatkan dengan pendekatan empatik. Media sosial juga bisa jadi senjata utama untuk melawan hoaks dan membangun kembali kepercayaan publik.
Para tenaga kesehatan perlu dilibatkan secara efektif untuk melawan misinformasi tentang imunisasi, sebagai garda terdepan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Libatan berbagai komunitas secara terarah dengan berbasis bukti, misalnya Rumah Ramah Rubella- komunitas yang diperuntukkan khususnya bagi para orangtua dengan anak yang anak-anaknya mengalami infeksi TORCH kongenital/bawaan (kumpulan penyakit infeksi bawaan yang menyerang ibu dan janin), dapat memberi pesan dan dukungan bagi program imunisasi dengan lebih baik.
Pemerintah juga harus memastikan akses vaksin yang merata, terutama bagi kelompok rentan. UNICEF menekankan pentingnya strategi yang responsif gender, melibatkan laki-laki dan pemimpin agama, serta layanan kesehatan yang inklusif dan terjangkau.
Kesimpulan
Keberhasilan program imunisasi bergantung pada kolaborasi yang baik antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai elemen masyarakat yang secara bersama-sama melawan hoaks untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Program imunisasi atau vaksinasi bukan sekadar untuk perlindungan individu, tapi merupakan tanggung jawab sosial bersama untuk melindungi generasi mendatang dari campak dan penyakit berbahaya lainnya yang dapat dicegah dengan imunisasi.







