Kemacetan di Pintu Tol: Masalah yang Terus Berulang
Kemacetan di pintu tol kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari arus mudik Lebaran. Di balik lampu rem yang menyala, tersimpan kelelahan dan kecemasan para pemudik yang berharap perjalanan pulang kampung tidak lagi terhambat di titik yang sama: gerbang tol.
Tri Sulisityono (35), warga Tangerang, Banten, mengalami pengalaman serupa tahun ini. Perjalanan dari Tangerang ke Purwokerto, Jawa Tengah, memakan waktu hampir 12 jam. Ia harus menghadapi kemacetan di beberapa titik seperti Cawang dan Cikarang. “Saya berangkat jam 10 pagi, keluar dari Tangerang, tapi macet di pintu tol masuk ke arah Bekasi,” ujarnya saat ditemui di rest area KM 57 Karawang.
Menurut Tri, kemacetan bukan hanya disebabkan oleh lonjakan kendaraan. Titik-titik seperti akses contraflow dan gerbang tol menjadi simpul kepadatan yang sulit dihindari. “Mungkin karena beberapa pemudik kekurangan saldo,” katanya. Akibatnya, perjalanan yang seharusnya cepat justru tersendat. Dari Tangerang ke rest area KM 57 saja, ia butuh waktu sekitar tujuh jam. “Dari sini ke Purwokerto masih 5 jam lagi menurut Google Map,” tambahnya.
Sebagai pengemudi ojek online, Tri merasa kondisi ini tidak hanya melelahkan, tetapi juga berisiko. Ia berharap ada perubahan nyata agar kemacetan di gerbang tol tidak terus berulang setiap tahun. “Jangan sampai diulang-ulangi lagi. Kasihan banyak orang stress dan bisa meningkatkan risiko kecelakaan,” tegas dia.
Pengalaman serupa dirasakan Yosep (60), seorang pengusaha yang ingin pulang ke Rembang, Jawa Tengah. Ia terjebak antrean panjang di akses menuju tol layang Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ). Perjalanan dari Jakarta Timur ke Karawang memakan waktu hingga tujuh jam. “Kendaraan over, banyak sekali, dan membuat lalu lintas melambat,” ujarnya.
Berbeda dengan Tri yang menyoroti saldo e-money, Yosep membandingkan pengalaman berkendara di luar negeri. Ia menilai sistem pembayaran tol di Indonesia masih menjadi sumber hambatan utama. “Saya pernah di negara lain, seperti di Malaysia, kita masuk tol langsung gak harus ngetap dengan begitu tidak ada antrian,” terang dia.
Penyebab Kemacetan di Gerbang Tol
Pengamat Transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai kemacetan di gerbang tol merupakan fenomena klasik dalam sistem lalu lintas. “Dalam teori lalu lintas, kapasitas ruas jalan akan turun signifikan ketika terdapat titik gangguan atau friction point, seperti gerbang tol yang mengharuskan kendaraan melambat atau berhenti,” ujarnya.
Masalahnya, sistem pembayaran saat ini masih mengandalkan tapping e-money, sementara volume kendaraan saat mudik bisa melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat. Dengan waktu layanan 4–5 detik per kendaraan, antrean menjadi tak terhindarkan. Akibatnya, terbentuk bottleneck yang merambat hingga ke lajur utama, memperparah kepadatan arus mudik.
Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Anton menyebut solusi jangka pendek bisa dilakukan melalui optimalisasi operasional, seperti penambahan gardu tol, gardu satelit, serta rekayasa lalu lintas seperti contraflow. Namun, solusi mendasar justru terletak pada penghilangan titik henti itu sendiri.
“Analogi sederhananya seperti aliran air dalam selang. Jika selang ditutup, akan terjadi hambatan. Jika dibuka, air mengalir lancar. Prinsip yang sama berlaku pada lalu lintas. Cara menghilangkannya adalah melalui sistem pembayaran nirsentuh dan nirhenti (multi lane free flow),” tegas dia.
Pemerintah telah menyiapkan solusi jangka panjang melalui penerapan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF), yakni pembayaran tol tanpa gerbang yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek ini tetap berjalan meski sempat menghadapi berbagai kendala.
“MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah teknis dan nonteknis, tetapi itu sudah dibereskan semua. Namun karena melibatkan banyak pihak, tentu perlu waktu untuk merapikannya,” ujar Dody dalam media gathering persiapan mudik Lebaran 2026 di Jakarta.
Uji Coba MLFF dan Kesiapan Infrastruktur
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian menyebut pengembangan MLFF kini telah memasuki tahap pra-uji coba. “Memang sesuai harapan Bapak Menteri, kami akan melakukan uji coba kembali dengan sistem MLFF ini. Saat ini kami masih berada dalam tahap pra-uji coba,” kata Wilan.
Ia mengungkapkan, pengujian fungsional telah dilakukan dengan 64 skenario dan seluruhnya berhasil dijalankan. “Sejauh ini sudah dicoba sebanyak 64 skenario, dan hasilnya seluruh skenario tersebut dapat dilaksanakan serta dapat dinilai,” ujarnya.
Tahap berikutnya adalah uji coba di lapangan untuk memastikan kesiapan sistem sebelum diterapkan secara luas. MLFF sendiri memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti atau memperlambat laju di gerbang tol. Dengan demikian, diharapkan antrean panjang saat mudik dapat ditekan secara signifikan.
Pemerintah pun menegaskan bahwa manfaat bagi masyarakat menjadi prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur. “Kalau sudah berfungsi, langsung kita gunakan. Yang penting manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Wilan.
Di tengah kepadatan arus mudik yang terus berulang setiap tahun, MLFF menjadi harapan baru. Bagi para pemudik seperti Tri dan Yosep, teknologi ini bukan sekadar inovasi, melainkan solusi nyata agar perjalanan pulang kampung tak lagi diwarnai antrean panjang di gerbang tol.







