Peran Presiden dalam Menyelesaikan Tantangan Kapal Pertamina di Selat Hormuz
Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, menyoroti pentingnya peran langsung Presiden Prabowo Subianto dalam mengatasi situasi yang melibatkan dua kapal tanker bahan bakar minyak (BBM) milik PT Pertamina yang terjebak di kawasan Timur Tengah. Ia menilai bahwa komunikasi antara pemimpin negara diperlukan untuk merespons situasi geopolitik yang sedang memanas.
Syafruddin menegaskan bahwa tidak cukup hanya melalui pejabat tinggi seperti Menteri ESDM atau Menteri Luar Negeri. Ia berpendapat bahwa keterlibatan Presiden akan memperkuat posisi daya tawar Indonesia sebagai negara non-blok. Hal ini sangat penting karena situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah masih memanas, sehingga diperlukan pendekatan multilateral.
“Masalah kapal di Pertamina memerlukan lobi langsung dari Presiden. Ini bukan hanya soal kapal, tapi bagaimana negara hadir melindungi aset strategis dan warganya di tengah konflik global,” ujar Syafruddin dalam pernyataannya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Namun, ia menilai bahwa upaya tersebut perlu ditingkatkan ke level strategis agar hasilnya lebih cepat dan efektif.
Siapa Syafruddin?
Syafruddin lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 15 Oktober 1977. Ia mewakili daerah pemilihan Kalimantan Timur dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Rekam jejaknya dalam organisasi termasuk sebagai Ketua Umum PC PMII Samarinda (2004–2005) dan pernah menjabat Ketua DPW PKB Kalimantan Timur.
Sebelum menjadi anggota DPR, ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur periode 2014–2019 dan 2019–2024. Dalam wawancara dengan Tribun Kaltim, ia menyatakan siap memperjuangkan aspirasi masyarakat Kaltim melalui kolaborasi dengan 8 kementerian dan lembaga mitra kerja.
Iran Beri Sinyal Positif
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mawengkang, mengatakan bahwa Kemlu bersama KBRI di Teheran terus berkoordinasi terkait dua kapal Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut terjebak akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Terkait status kapal Pertamina, Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Tehran sejak awal terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait di Iran,” kata Yvonne.
Dalam perkembangan koordinasi, kabar positif mulai diberikan oleh pihak Iran. Koordinasi berkembang hingga tahapan teknis dan operasional untuk melewati Selat Hormuz.
Kondisi Awak Kapal Aman
Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita, memastikan kondisi awak kapal dalam keadaan aman. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Kemlu untuk menyiapkan skema pelintasan. “PIS bersama dengan Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujar Vega.
Vega menambahkan, koordinasi diplomatik masih berlangsung intensif, termasuk melalui komunikasi dengan otoritas Iran. PIS juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam menangani situasi tersebut.
Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah Iran merespons serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Ketegangan itu berdampak pada jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global. Akibat gangguan di jalur tersebut, distribusi energi dunia sempat terhambat dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Di dalam negeri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan tertahannya dua kapal tanker tersebut tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan, termasuk dari Amerika Serikat.







