Perempuan Muda dari Jepara Ciptakan Teknologi Inovatif untuk Budidaya Ikan
Roikhanatun Nafi’ah, seorang perempuan berusia 29 tahun asal Desa Lebuawu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, tidak menyangka bahwa karyanya dalam bidang inovasi teknologi akan mampu memberikan manfaat bagi ratusan pembudidaya tambak di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. Karya yang diberi nama Crustea ini, dikembangkan selama empat tahun terakhir, telah dirasakan manfaatnya oleh lebih dari 700 pelaku usaha di bidang pertambakan.
Teknologi yang dikembangkan berbasis iklim ini kini sudah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) ini dimulai dari Kota Pesisir Jepara dan kini telah diakui di tingkat internasional.
Nafi’ah, yang akrab disapa Nafi’ah, memulai perjalanan kariernya kurang dari lima tahun lalu. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa berkarya, bermanfaat bagi banyak orang, dan mampu menghadirkan solusi untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Sebagai lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan gelar Master of Industrial and System Engineering, Nafi’ah saat ini juga menjadi dosen Teknik Industri di Universitas Binus Semarang. Selain itu, ia juga sebagai Founder dan CEO dari Crustea, sebuah startup yang mengembangkan teknologi akuakultur cerdas dan ramah lingkungan.
Teknologi yang Membantu Pembudidaya Ikan
Crustea adalah solusi teknologi yang dirancang untuk membantu pembudidaya ikan tambak meningkatkan produksi, mengurangi biaya perawatan, serta meningkatkan penghasilan. Dalam wawancaranya, Nafi’ah menjelaskan bahwa membangun bisnis tidak hanya dilakukan dengan keinginan, tetapi butuh konsep jelas yang diaktualiskan dalam bentuk aksi nyata.
Pada 2021, Nafi’ah sering berinteraksi dengan penduduk pesisir dan mendengar berbagai keluhan mereka, terutama di bidang budidaya ikan. Keluhan tersebut meliputi produktivitas ikan yang belum optimal, ikan mudah mati, dan biaya operasional yang terlalu tinggi. Sebagai seorang ahli teknologi industri, Nafi’ah merasa perlu memberikan solusi permasalahan ini dengan jembatan teknologi.
Tiga Komponen Utama Teknologi Crustea
Di usia muda, Nafi’ah mulai merangkai tiga komponen penting yang diharapkan bisa membantu pemecahan masalah bagi penambak ikan:
- Aerator: Berfungsi untuk menghasilkan oksigen di dalam air yang lebih optimal. Aerator ini dapat membantu menstabilkan oksigen di dalam air, agar ikan lebih kuat dan produktivitas ikan bisa meningkat.
- Panel Surya dan AIoT Smart Energy: Berfungsi untuk mengubah sumber energi listrik berbahan bakar BBM menggunakan diesel dengan sumber energi ramah lingkungan.
- AIoT Water Controlling: Berfungsi sebagai alat kontrol kondisi air tambak, dalam rangka menekan risiko angka kematian ikan. Dengan sistem ini, kondisi air tambak bisa dikontrol dari jarak jauh, dan bisa menyalurkan sinyal alarm ketika air tambak dalam kondisi tidak stabil atau tercemar.
Dengan sistem ini, tingkat kematian ikan berkurang hingga 30 persen, biaya listrik berkurang hingga 80 persen untuk operasional menggunakan diesel, dan berkurang 30-40 persen untuk operasional menggunakan listrik.
Layanan Teknologi Crustea untuk Pelaku Usaha Budidaya Ikan
Melalui Crustea, Nafi’ah menawarkan dua layanan teknologi bagi para pelaku usaha budidaya ikan:
- Jual produk teknologi dengan sistem beli putus: Mitra bisa membeli produk inovasi teknologi tanpa ada embel-embel kerjasama.
- Jual produk teknologi dengan pendampingan kerjasama: Opsi layanan ini menyasar pelaku usaha budidaya ikan kategori skala menengah ke bawah dalam tahap pengembangan. Pendampingan dilakukan dari awal sampai panen dan pemasaran, dengan skema upaya membangun manajemen usaha dari hulu ke hilir.
Selain itu, Nafi’ah juga mulai merambah pada program revitalisasi lahan tidak produktif menjadi lahan produktif budidaya ikan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas budidaya ikan di Indonesia demi memenuhi permintaan pasar global yang sangat tinggi. Target terdekatnya adalah ekspor ke mancanegara oleh pelaku usaha binaannya.
“Teknologi ini bisa pakai energi terbarukan dan bisa pakai listrik. Harapan saya, inovasi ini bisa membangun dan menjadi solusi pelaku usaha budidaya ikan. Meningkatkan budidaya produktivitas ikan dan mengurangi biaya produksi. Penambak ini punya peran penting terhadap ketahanan pangan global, bagaimana harus tetap semangat dan tersenyum,” harap Nafi’ah.







