Penjelasan Manajer PSM Makassar Mengenai FIFA Registration Ban
FIFA Registration Ban adalah sanksi disiplin yang diberikan oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) kepada klub sepak bola. Sanksi ini melarang klub mendaftarkan pemain baru dalam bursa transfer tertentu. Sanksi ini biasanya diberikan karena adanya perselisihan keuangan atau pelanggaran aturan yang telah diatur oleh FIFA.
Pada bulan Maret 2026, PSM Makassar kembali masuk daftar FIFA Registration Ban. Nama klub asal Makassar tersebut tercantum pada tanggal 9 dan 20 Maret 2026. Akibat sanksi ini, tim Juku Eja dilarang mendaftarkan pemain maupun pelatih selama tiga periode bursa transfer berikutnya. Pendaftaran pemain baru hanya bisa dilakukan setelah masalah yang menyebabkan sanksi tersebut selesai.
Kehadiran sanksi ini menimbulkan kekhawatiran dari suporter dan pecinta PSM Makassar. Mereka khawatir banned FIFA akan memengaruhi kedatangan pemain maupun pelatih baru ke klub kesayangan mereka. Namun, Manajer PSM Makassar Muhammad Nur Fajrin memberikan penjelasan bahwa komunikasi dengan para pemain, calon rekrutan, dan pelatih tetap terbuka.
Menurut Fajrin, hal ini wajar karena isu tentang sanksi FIFA sudah menjadi konsumsi publik. Ia menjelaskan bahwa pihak manajemen selalu menyampaikan kondisi secara transparan. “Kami beri penjelasan kepada pemain dan pelatih,” ujarnya saat ditemui di Stadion Kalegowa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (29/3/2026).
Fajrin juga yakin bahwa proyeksi dan rencana PSM Makassar tetap mampu menarik minat pemain maupun pelatih untuk bergabung. “Jika mendapatkan penjelasan dan proyeksi perencanaan yang jelas dari kita, mereka tetap ada keinginan datang ke PSM Makassar,” tambah alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.
Selain itu, Fajrin menegaskan bahwa semua pihak jangan hanya melihat masalah yang dihadapi PSM Makassar. Klub yang berdiri sejak 2 November 1915 ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak orang ingin datang. “Jangan hanya melihat masalahnya, harus dilihat banyak hal baik yang menarik buat orang tertarik datang ke Makassar,” tuturnya.
Banyak yang mengira bahwa banned FIFA kali ini terjadi karena masalah hak pemain yang masih ada di tim. Namun, Fajrin membantah kabar tersebut. Ia menjelaskan bahwa sanksi FIFA tidak terkait dengan pemain yang ada di PSM Makassar atau yang baru saja meninggalkan klub. “Ini pemain terdahulu, saya tak bisa sebutkan namanya. Bukan pemain yang ada di PSM Makassar dan bukan yang baru saja meninggalkan PSM Makassar,” katanya.
Respons Manajemen PSM Makassar Terkait Banned FIFA
Manajemen PSM Makassar angkat bicara terkait banned FIFA yang dialaminya. PSM Makassar kembali masuk daftar FIFA Registration Ban per Maret 2026. Nama klub ini tercantum pada tanggal 9 dan 20 Maret. Akibatnya, tim berjuluk Juku Eja ini tidak boleh mendaftarkan pemain baru dalam tiga periode bursa transfer ke depan. Mereka baru bisa mendaftarkan pemain jika telah menyelesaikan masalah tersebut.
Fajrin menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menyelesaikan banned FIFA. Namun, ia menekankan bahwa semua butuh waktu. Tidak serta merta bisa cepat diselesaikan. “Banned FIFA akan menjadi tanggung jawab kita,” tegasnya saat ditemui di Stadion Kalegowa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (29/3/2026).
Ia juga menjelaskan kondisi keuangan PSM Makassar saat ini. Menurut Fajrin, selama dua bulan sisa kompetisi, keuangan tim hanya mengandalkan sponsor dan dukungan dari pemilik klub, Sadikin Aksa. Pasalnya, penghasilan klub dari penjualan tiket pertandingan menurun. Jumlah suporter hadir dalam 12 laga kandang PSM Makassar cuma 34.619 penonton. Rata-rata jumlah penonton per pertandingan hanya 2.885 orang.
PSM Makassar berada di urutan 12 dari 18 klub jumlah kehadiran suporter terbanyak di stadion. Di lain sisi, Fajrin menyebut bahwa PSM Makassar harus membayar denda akibat pelanggaran disiplin. Manajemen telah merogoh kantong Rp 780 juta hanya untuk membayar sanksi denda.
“Kita selesaikan, tapi harus realistis. Kondisi keuangan kita dua bulan sisa mengandalkan sponsor dan support owner,” ujar Fajrin. “Kita tahu sendiri ticketing drop, tak ada pendapatan dari tiket. Di satu sisi kita harus menanggung denda karena pelanggaran disiplin,” tambahnya.
Maka dari itu, Fajrin kembali menyampaikan bahwa pihaknya butuh waktu untuk menyelesaikan persoalan banned FIFA. Ada struktur dan cash flow, sehingga butuh perencanaan. “Komitmen kita mengatur pendapatan PSM Makassar, cash flow. Akan kita selesaikan pada waktunya,” tegasnya.







