Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi pada Ekosistem Balap Motor
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya jenis Pertamax Turbo, mulai memberi dampak yang signifikan terhadap ekosistem olahraga otomotif. Regulasi baru yang diberlakukan pada musim kompetisi 2026, yang mewajibkan penggunaan BBM beroktan tinggi, menyebabkan para pelaku balap, mulai dari mekanik hingga pemilik bengkel, harus menghadapi peningkatan biaya operasional dan pendaftaran.
Dampak ini terasa langsung di tingkat teknis. Penggunaan Pertamax Turbo menjadi wajib karena spesifikasi mesin motor balap, terutama pada ajang drag race, membutuhkan bahan bakar dengan nilai Research Octane Number (RON) tinggi untuk menjaga performa optimal di lintasan. Hal ini membuat kebutuhan akan bahan bakar tersebut tidak dapat ditawar lagi.
Pemilik bengkel GYN Tech, Garindra Tegar Indriansyah, mengatakan bahwa ia cukup kaget dengan kenaikan harga Pertamax Turbo yang signifikan. Sebagai pelaku usaha yang sehari-hari bertumpu pada perawatan dan persiapan motor balap, ia kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk memastikan pasokan bahan bakar di bengkelnya tetap aman.
“Kompresi motor drag race itu kan tinggi, otomatis BBM-nya juga menggunakan yang punya RON tinggi,” ujarnya. Konsumsi bahan bakar beroktan tinggi ini, menurut Garindra, tidak hanya terjadi saat motor beradu cepat di hari perlombaan. Fase yang paling banyak menyedot bahan bakar justru berada pada tahap persiapan, di mana proses setting mesin, uji coba, hingga finalisasi spesifikasi dilakukan secara berulang setiap harinya.
“Kalau dikira-kira itu bisa butuh lebih dari lima liter per motor,” tambahnya.
Di luar biaya operasional harian bengkel, beban finansial ekosistem balap ini diproyeksikan akan semakin berat menyusul adanya pembaruan regulasi. Sejumlah pergelaran event balap resmi telah mengumumkan aturan baru yang berlaku per tahun 2026, di mana seluruh peserta yang mengikuti kompetisi diwajibkan menggunakan BBM jenis Pertamax Turbo.
Sesuai standar operasional perlombaan resmi, pihak panitia penyelenggara biasanya akan bertindak sebagai penyedia bahan bakar tersebut guna menjaga regulasi tetap ketat dan spesifikasi mesin peserta tetap setara. Namun, dengan naiknya harga dasar Pertamax Turbo, skema ini memunculkan kekhawatiran baru berupa potensi lonjakan biaya pendaftaran bagi para starter atau peserta.
“Sebelum naik, itu biaya pendaftaran Rp 370 ribu sudah free BBM 1 liter, lah ini setelah naik kemungkinan biaya pendaftaran juga akan ikut naik,” keluhnya.
Penyesuaian Biaya Operasional dan Pendaftaran
Banyak pihak yang khawatir akan kesulitan menghadapi peningkatan biaya operasional. Mekanik dan pemilik bengkel harus mempersiapkan anggaran tambahan untuk membeli Pertamax Turbo, yang kini memiliki harga yang lebih mahal dibanding sebelumnya. Hal ini juga berdampak pada calon peserta yang ingin mengikuti kompetisi balap motor, karena biaya pendaftaran dan pengeluaran lainnya akan meningkat.
Beberapa bengkel bahkan mulai mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah namun tetap memenuhi standar spesifikasi mesin. Namun, hal ini tidak selalu mudah, karena beberapa mesin balap hanya bisa bekerja optimal dengan BBM beroktan tinggi seperti Pertamax Turbo.
Selain itu, persiapan motor sebelum perlombaan juga memerlukan waktu dan biaya tambahan. Proses uji coba dan penyetelan mesin sering kali dilakukan berkali-kali agar motor siap tampil maksimal di lintasan. Dengan harga BBM yang meningkat, biaya yang dikeluarkan untuk proses ini juga akan bertambah.
Tantangan di Masa Depan
Regulasi yang diberlakukan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa dunia balap motor akan terus menghadapi tantangan terkait biaya operasional. Para pelaku industri harus lebih kreatif dalam mengatur anggaran dan mencari solusi untuk tetap menjaga kualitas serta kompetitivitas.
Namun, ada juga harapan bahwa pihak penyelenggara event balap akan memberikan dukungan tambahan, seperti subsidi atau bantuan biaya BBM, agar peserta tetap bisa mengikuti kompetisi tanpa terlalu terbebani oleh kenaikan harga bahan bakar.







