Sejarah Tengkleng, Kuliner Khas Solo yang Berawal dari Kekurangan
Tengkleng adalah salah satu hidangan khas Solo yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang terkait dengan perjuangan masyarakat pada masa lalu. Makanan ini lahir di tengah krisis pangan selama masa penjajahan Jepang, ketika rakyat harus mencari cara untuk bertahan hidup dengan bahan-bahan yang terbatas.
Pada masa itu, masyarakat Solo memanfaatkan tulang dan jeroan kambing yang biasanya tidak dikonsumsi oleh para penjajah maupun kalangan bangsawan. Daging terbaik digunakan untuk orang-orang berada, sedangkan rakyat kecil hanya diberi sisa-sisanya. Dari situ, mereka mengolah bagian-bagian tersebut menjadi masakan yang lezat dengan racikan rempah-rempah seperti jahe, kunyit, serai, lengkuas, daun salam, daun jeruk, kemiri, pala, cengkeh, bawang merah, dan bawang putih.
Asal Usul Nama Tengkleng
Nama tengkleng memiliki cerita unik yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Solo pada masa lalu. Konon, istilah “tengkleng” berasal dari bunyi “kleng-kleng-kleng” yang terdengar saat tulang kambing diletakkan di atas piring seng (gebreng) yang biasa digunakan oleh masyarakat kecil pada masa itu. Bunyi nyaring dari benturan tulang dengan piring seng inilah yang diyakini menjadi asal mula nama tengkleng.
Sensasi Menikmati Tengkleng
Salah satu daya tarik utama tengkleng adalah cara menikmatinya yang berbeda dari olahan kambing lainnya. Masyarakat Solo mengenal istilah “dibrakoti” atau “dikrikiti”, yaitu menggigit dan mengerat daging yang masih menempel pada tulang hingga bersih. Meski hanya tersisa sedikit daging, sensasi menemukan dan menikmati bagian tersebut justru menjadi kenikmatan tersendiri bagi para penikmat tengkleng.
Selain itu, sumsum yang terdapat di dalam tulang juga menjadi bagian yang paling diburu. Banyak penikmat tengkleng yang menikmati hidangan ini dengan cara menghisap sumsum secara perlahan untuk merasakan gurihnya kaldu alami dari tulang kambing.
Proses Memasak yang Panjang
Kelezatan tengkleng tidak lepas dari proses memasaknya yang membutuhkan waktu cukup lama. Tulang kambing direbus berjam-jam hingga sari dan kaldu alami keluar sepenuhnya. Semakin lama proses perebusan berlangsung, rasa kuah akan semakin gurih dan kaya cita rasa.
Setelah itu, kuah kaldu dipadukan dengan berbagai rempah pilihan yang berfungsi mengurangi aroma prengus kambing sekaligus memberikan rasa yang khas. Pada beberapa resep, kuah tengkleng juga dicampur santan encer sehingga menghasilkan rasa yang lebih gurih dan nikmat.
Proses memasak yang panjang inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa harga tengkleng saat ini relatif lebih mahal dibandingkan beberapa kuliner tradisional lainnya.
Dari Makanan Rakyat Menjadi Ikon Kuliner Solo
Seiring berjalannya waktu, tengkleng yang dahulu lahir dari keterbatasan kini justru menjelma menjadi kuliner legendaris yang diburu wisatawan. Warung makan yang menyajikan tengkleng kini mudah ditemukan di berbagai wilayah Solo Raya. Banyak wisatawan sengaja datang untuk menikmati sensasi mengerat daging di sela-sela tulang kambing yang dimasak dengan kuah rempah khas.
Tengkleng menjadi bukti bahwa kreativitas masyarakat dalam menghadapi masa sulit mampu melahirkan warisan kuliner yang bertahan lintas generasi. Dari makanan sederhana yang lahir di tengah krisis pangan, tengkleng kini menjadi salah satu identitas kuliner Kota Solo yang terkenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia.







