Pengabdian 22 Tahun dalam Pelayanan Jemaah Haji
Suharto Baijuri, seorang petugas pelayanan jemaah haji di Balikpapan, telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua dekade dalam menjalankan tugasnya. Selama masa kerjanya, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam mendampingi jemaah lansia dan yang memiliki tingkat literasi yang rendah. Menjelang pensiun, ia menyebut tahun ini sebagai momen paling berkesan dalam perjalanan pengabdiannya.
Perjalanan Karier dalam Pelayanan Haji
Suharto Baijuri saat ini menjabat sebagai Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Balikpapan. Ia akan memasuki masa pensiun dalam waktu sekitar empat bulan ke depan. Sebelumnya, ia tercatat sebagai Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan. Di akhir 2025, ia juga dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kemenhaj Balikpapan, seiring dibentuknya kementerian baru tersebut.
Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, urusan haji berada di bawah Kementerian Agama, lalu berkembang menjadi Badan Haji sebelum akhirnya ditingkatkan menjadi kementerian tersendiri melalui persetujuan DPR.
Pengalaman dalam Melayani Jemaah Haji
Selama 22 tahun bertugas, Suharto Baijuri konsisten melayani jemaah haji di embarkasi, membantu proses keberangkatan hingga kepulangan jemaah ke Tanah Suci. Meski belum pernah bertugas langsung ke Arab Saudi sebagai bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), pengalamannya di embarkasi memberinya banyak cerita berkesan.
Dinamika jemaah haji setiap tahun selalu menghadirkan pengalaman unik. Mulai dari jemaah haji yang tersesat di area embarkasi, kebingungan mencari kamar, hingga yang belum memahami penggunaan fasilitas dasar seperti toilet. Ada juga jemaah haji yang mengalami demensia, bingung arah bahkan hanya untuk ke masjid. Itu sering terjadi.
Tidak hanya itu, ia juga pernah menemui jemaah yang masih membawa kebiasaan saat di Tanah Suci, seperti melempar batu seolah sedang melaksanakan ritual lempar jumrah, meski sudah kembali ke tanah air. Suharto Baijuri mengakui, pelanggaran barang bawaan juga kerap ditemukan, terutama dari jemaah haji yang berasal dari daerah pelosok.
Minimnya informasi membuat sebagian jemaah haji membawa barang seperti beras atau bahkan kompor karena khawatir kesulitan makan selama di Tanah Suci. “Dulu memang minim edukasi. Tapi sekarang sudah lebih baik karena adanya teknologi dan informasi,” ujarnya.
Tantangan dalam Mendampingi Jemaah Lansia
Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama karena sebagian besar jemaah haji merupakan lanjut usia yang belum familiar dengan teknologi. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya memperkuat peran ketua rombongan dan ketua regu dalam mendampingi jemaah haji. “Kita edukasi ketua rombongan dan ketua regu agar terus mendampingi, terutama jemaah haji lansia yang tidak menguasai IT,” jelasnya.
Dalam menjalankan tugas, Suharto Baijuri mengaku harus bekerja tanpa mengenal waktu. Jadwal keberangkatan dan kedatangan jemaah haji yang bisa terjadi tengah malam membuat waktu istirahat sangat terbatas. “Kadang hanya bisa merem sebentar saat duduk. Tapi karena melayani tamu Allah, rasa lelah itu seperti tidak terasa,” ungkapnya.
Harapan dan Kepercayaan dalam Pelayanan
Baginya, kebahagiaan terbesar adalah melihat jemaah berangkat dan kembali dengan selamat. Ia juga berupaya mengubah pola pikir sebagian jemaah haji lansia yang menganggap pergi haji sebagai perjalanan menuju kematian. “Itu yang kita luruskan. Haji itu ibadah, bukan untuk mencari mati. Hanya berpindah tempat ibadah saja,” tegasnya.
Menjelang masa pensiun, Suharto Baijuri mengaku momen tahun ini menjadi puncak perjalanan pengabdiannya. Ia bahkan dipercaya menjadi sekretaris dalam pelayanan haji tahun ini, yang dianggapnya sebagai bentuk kepercayaan sekaligus penghargaan. “Ini rasanya puncaknya. Setelah sekian tahun melayani, tahun ini jadi momen yang paling berkesan,” katanya.
Suasana haru tak terbendung saat ia menceritakan perjalanan panjangnya. Air mata Suharto Baijuri pun menetes, mengingat kenangan bersama ribuan jemaah yang pernah ia layani. Ia mengaku akan merindukan suasana embarkasi, hiruk pikuk kedatangan jemaah haji, hingga iring-iringan keberangkatan yang selalu menjadi momen emosional setiap tahun.
Persiapan Menuju Masa Pensiun
Meski belum memiliki rencana pasti setelah pensiun, Suharto Baijuri mengaku bangga telah menuntaskan tugasnya sebagai pelayan jemaah haji. “Kita tidak pernah berharap imbalan. Yang menilai itu Allah. Yang penting kita sudah berbuat untuk banyak orang,” tutupnya.







