Program Strategis Air Bersih Subang
PR Subang, SUBANG –
Pemerintah Kabupaten Subang telah menetapkan air minum dan air bersih sebagai salah satu dari delapan program strategis utama. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang sering kali terabaikan.
Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Rangga Subang (TRS) saat ini melayani sekitar 50.700 pelanggan di 25 kecamatan. Meski begitu, perusahaan masih menghadapi berbagai tantangan seperti pipa-pipa tua dan keterbatasan kapasitas cadangan. Dukungan anggaran dari pusat dan daerah menjadi kunci dalam mempercepat layanan air sehat bagi warga Subang, yang kini sedang berkembang menjadi kota industri.
Di balik deru pembangunan dan rencana besar Kabupaten Subang, terselip kebutuhan paling mendasar bagi setiap nyawa: air bersih. Air bukan hanya sekadar komoditas; ia adalah urat nadi kesehatan, martabat, dan hak dasar yang seringkali terlupakan di balik megahnya aspal jalanan.
Kini, ada angin segar yang berembus dari ruang-ruang perencanaan daerah. Pemerintah Kabupaten Subang secara resmi memasukkan penyediaan air minum dan air bersih ke dalam delapan program strategis prioritas. Langkah ini bukan sekadar deretan angka dalam dokumen rencana pembangunan, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa urusan perut dan dahaga rakyat adalah harga mati.
Direktur Utama Perumda TRS, Lukman Nurhakim, melihat kebijakan ini sebagai sebuah keberanian politik yang patut diapresiasi. Baginya, menempatkan air bersih sejajar dengan perbaikan infrastruktur jalan menunjukkan bahwa pemerintah daerah memahami esensi dari layanan dasar.
“Kita semua tahu, air bersih adalah hak dasar masyarakat. Selama ini, jarang ada penekanan yang sekuat ini terhadap layanan air minum dalam program strategis. Ini membuktikan adanya kemauan kuat untuk membenahi pondasi hidup warga,” tutur Lukman saat berbincang mengenai arah pembangunan daerah ke depan.
Namun, jalan menuju kedaulatan air di Subang masih terjal. Hingga saat ini, Perumda TRS baru mampu menjangkau sekitar 16 persen layanan untuk 50.700 pelanggan yang tersebar di 25 kecamatan. Potret nyata menunjukkan masih ada lima kecamatan, mulai dari pegunungan di Ciater hingga pesisir di Pusakajaya, yang keran perpipaannya belum tersambung.
Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut masih harus menggantungkan hidup pada sumur gali, aliran sungai, atau mata air yang kualitasnya belum tentu terjamin. “Parameternya bukan sekadar ada air. Tapi harus bersih, aman, sehat, dan layak konsumsi,” tambah Lukman menekankan pentingnya standarisasi kesehatan air.
Bagi Perumda TRS, tugas ini ibarat merawat jantung yang sudah menua. Persoalannya kompleks; mulai dari jaringan pipa yang sudah keropos dimakan usia, kapasitas cadangan (idle capacity) yang menipis, hingga fenomena kekeruhan alami di mata air Cibulakan Cijambe saat musim hujan tiba.
Meski dihimpit keterbatasan anggaran, upaya jemput bola terus dilakukan. Penggantian pipa tua dan pembangunan unit pengolahan air (Water Treatment Plant) di wilayah kota terus dicicil. Namun, Lukman menyadari bahwa Perumda tidak bisa berjalan sendirian di tengah pesatnya pertumbuhan penduduk Subang.
“Kami adalah perpanjangan tangan pemerintah. Dukungan lintas sektoral, baik pusat, daerah, maupun swasta, adalah daya ungkit yang kami butuhkan,” jelasnya penuh optimisme.
Menatap Subang Masa Depan
Seiring dengan transformasi Subang menjadi magnet industri baru, kebutuhan akan air bersih diprediksi akan melonjak drastis. Pendatang akan bermukim, pabrik-pabrik akan berdiri, dan tanpa sistem air bersih yang mumpuni, stabilitas sosial dan kesehatan bisa terancam.
Melalui program strategis ini, terselip sebuah harapan besar: dalam lima tahun ke depan, layanan air di Subang tak lagi sekadar “mengalir,” tapi benar-benar memberikan kesejahteraan. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari mulusnya jalan yang dilalui kendaraan, tapi juga dari jernihnya air yang mengalir di setiap dapur rumah warganya.







