Penjelasan Resmi Mengenai Keterlambatan Bus Persebaya Surabaya di Bali
Keterlambatan bus penjemputan yang dialami oleh Persebaya Surabaya saat tiba di Bali menjelang sesi latihan resmi akhirnya mendapat penjelasan dari pihak penyelenggara. Panitia pelaksana Arema FC menyatakan bahwa kejadian tersebut murni disebabkan oleh masalah teknis, bukan kesengajaan.
Erwin Hardiyono, Ketua Panpel Arema FC, langsung memberikan pernyataan terkait situasi ini. Ia menyampaikan permintaan maaf sekaligus menjelaskan kronologi kejadian agar tidak menjadi spekulasi berlebihan di kalangan publik.
Peristiwa tersebut terjadi saat Persebaya Surabaya dijadwalkan melakukan Official Training (OT) di Bali United Training Center pada Senin sore. Moment ini merupakan bagian penting dari persiapan jelang Derbi Jawa Timur yang sangat dinantikan.
Rojak, Koordinator Panitia Lokal, menjelaskan detail kejadian secara terbuka. Ia menegaskan bahwa armada bus sebenarnya sudah tersedia tepat waktu di lokasi penjemputan. Pukul 14.00 WITA, bus pertama sudah tiba di lokasi hotel. Namun, pada pukul 14.15 WITA diketahui ada masalah pada AC bus yang mati. Panitia langsung meminta bus pengganti segera dikirim agar pemain tetap nyaman.
Situasi ini memaksa panitia untuk segera mencari solusi alternatif. Kenyamanan pemain menjadi prioritas utama agar tidak mengganggu persiapan tim menjelang pertandingan penting. Akhirnya, bus pengganti dengan kualitas lebih baik tiba pada pukul 14.55 WITA. Namun, karena waktu yang semakin mepet, sebagian pemain Persebaya Surabaya memilih berangkat lebih dulu menggunakan transportasi lain.
Beberapa pemain terlihat menggunakan taksi online menuju lokasi latihan di Bali United Training Center. Panpel Arema FC menegaskan bahwa mereka telah menjalankan tanggung jawab sesuai regulasi yang berlaku. Mereka juga merespons laporan resmi terkait kendala tersebut dengan cepat.
“Sebagai bentuk tanggung jawab, kami negosiasikan agar jadwal OT mereka diundur menjadi pukul 17.00 – 18.00 WITA di Bali United Training Center. Awalnya dijadwalkan pukul 16.00 WITA,” jelas Rojak.
Keputusan itu diambil setelah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Penyesuaian jadwal menjadi solusi terbaik agar kedua tim tetap mendapatkan hak persiapan secara maksimal.
Di balik kejadian ini, ada proses panjang terkait penentuan lokasi latihan. Panpel Arema FC sebenarnya telah berupaya mengakomodasi kebutuhan Persebaya Surabaya sejak jauh hari. Pada Rabu (22/4/2026), Manajer Persebaya Surabaya, Alex Tualeka, telah menjalin komunikasi dengan panitia. Diskusi tersebut membahas opsi lokasi latihan yang sesuai dengan kebutuhan tim.
Awalnya, Stadion Kapten I Wayan Dipta tidak bisa digunakan karena dipakai untuk laga Bali United kontra PSM. Panpel pun sempat menawarkan jadwal latihan malam hari pukul 20.00 WITA. Namun, pihak Persebaya Surabaya menginginkan latihan pada sore hari agar sesuai dengan jam pertandingan. Permintaan itu kemudian ditindaklanjuti dengan mencari alternatif lokasi latihan.
Panpel Arema FC akhirnya berhasil mengamankan Bali United Training Center sebagai solusi. Upaya ini menunjukkan adanya kerja sama yang cukup baik antara kedua pihak.
Insiden keterlambatan bus pun turut dibahas dalam forum Match Coordination Meeting (MCM). Dalam pertemuan tersebut, panitia menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada tim tamu. Respons dari manajemen Persebaya Surabaya terbilang cukup positif. Mereka memahami kendala yang terjadi bukanlah sesuatu yang disengaja.
Situasi ini menunjukkan komunikasi antar pihak berjalan dengan baik. Ketegangan yang sempat muncul tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Erwin Hardiyono juga mengungkap tantangan besar dalam persiapan pertandingan ini. Ia menyebut waktu persiapan yang sangat terbatas menjadi faktor utama munculnya kendala teknis. Menurutnya, izin resmi dan rekomendasi dari kepolisian serta operator liga baru diterbitkan pada 22 April 2026. Artinya, panitia hanya memiliki waktu efektif sekitar lima hari untuk memindahkan seluruh persiapan dari Malang ke Bali.
Kondisi tersebut tentu bukan hal mudah bagi panitia. Banyak aspek teknis yang harus disiapkan dalam waktu singkat, termasuk transportasi, akomodasi, hingga fasilitas latihan. Meski demikian, Panpel Arema FC memastikan semua pihak tetap berkomitmen menjaga profesionalitas. Mereka juga berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada tim tamu.
“Kami berharap hal ini menjadi pelajaran berharga dan tidak perlu dibesar-besarkan secara negatif. Semua sudah dicarikan solusi terbaik dan situasi antara kedua pihak tetap kondusif menjelang pertandingan,” pungkas Erwin.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan teknis dalam setiap penyelenggaraan pertandingan besar. Detail kecil seperti transportasi ternyata bisa berdampak signifikan jika tidak diantisipasi dengan matang. Namun, sikap terbuka dan komunikasi yang baik menjadi kunci meredam potensi konflik. Kedua tim kini bisa kembali fokus menatap laga Derbi Jawa Timur yang sudah dinanti banyak pihak.
Dengan situasi yang tetap kondusif, duel panas antara Persebaya Surabaya dan Arema FC dipastikan tetap berjalan menarik. Atmosfer persaingan tetap terjaga tanpa harus ternodai polemik di luar lapangan.







