Penggerebekan yang Mengguncang Rumah Tangga Dosen
Penggerebekan yang dilakukan oleh istri sah seorang dosen, Dedek Kusnadi (DK), di sebuah kamar kos menimbulkan berbagai pernyataan dari pihak-pihak terkait. DK, yang merupakan wakil dekan di satu fakultas Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, membantah bahwa dirinya berada hanya berdua dengan seorang perempuan di dalam kamar saat kejadian.
Pernyataan Dosen DK
DK menjelaskan bahwa saat penggerebekan, terdapat tiga orang di dalam ruangan tersebut. Ia menegaskan bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada seorang laki-laki lain bersamanya. Menurutnya, situasi itu berawal dari pertemuan dengan perempuan tersebut di sebuah toko kecantikan. Namun, kejadian berubah ketika terjadi keributan terkait masalah utang.
Saat itu, DK menghubungi seorang pria bernama Yoli, yang disebut sebagai oknum anggota TNI. Yoli menawarkan pendampingan dan menyarankan DK untuk tidak sendirian. DK menyebut bahwa Yoli sempat menjemput perempuan tersebut dan berencana menuju Korem. Namun, rencana tersebut batal karena perempuan memilih beristirahat di indekos.
Setelah sampai di indekos, DK dan Yoli berbincang-bincang selama sekitar 10 menit. Ketika ada yang menggedor kamar, DK merasa panik dan langsung menyuruh Yoli untuk menyembunyikan diri di kamar mandi. Perempuan tersebut juga ikut bersembunyi karena takut.
DK menegaskan bahwa pemberitaan yang menyebut dirinya berduaan di kamar tidak sesuai dengan kenyataan. Ia menilai bahwa proses penggerebekan ini sudah diatur dan tidak benar adanya.
Pernyataan Kuasa Hukum Istri
Kuasa hukum istri DK, Putra Tambunan, memberikan tanggapan terhadap video klarifikasi yang tersebar di media sosial. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan seting seperti yang dituduhkan dalam video tersebut.
Putra menyampaikan bahwa informasi tentang keberadaan DK di klinik kecantikan didapatkan dari saudara istri DK. Oleh karena itu, pihaknya mengikuti DK dari rumah kos hingga ke beberapa tempat sebelum akhirnya menemukan dia di kamar kos.
Putra juga menjelaskan bahwa oknum TNI yang bersama DK bukanlah yang menjemputnya. Ia menyebut bahwa DK pergi duluan dan kemudian dihampiri oleh seorang ibu-ibu. Setelah itu, kawan dari oknum TNI datang untuk membawa perempuan tersebut pulang ke kamar kos.
Istri DK mendapatkan informasi bahwa DK berada di kamar kos tersebut sebelum penggerebekan terjadi. Ia meminta pihaknya untuk mendampinginya karena tidak berani datang sendirian. Putra menegaskan bahwa kliennya menanyakan keberadaan perempuan tersebut di Polsek Telanaipura pasca-penggerebekan.
Upaya Damai yang Dilakukan
Pihak kuasa hukum DK, Muhamadiyah, menyatakan bahwa upaya damai dengan istri DK akan terus dilakukan hingga keputusan yang inkrah. Ia menegaskan bahwa pernikahan dilakukan atas dasar cinta dan bahwa pihaknya ingin menjaga masa depan anak-anak serta kebutuhan rumah tangga.
Muhamadiyah menyebut bahwa pihaknya telah melakukan penyesuaian seperti pakaian dan waktu kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa rekaman video yang dimiliki DK menunjukkan bahwa ia tidak sendirian saat penggerebekan.
Elas Anta Dermawan, kuasa hukum DK lainnya, menekankan bahwa pihaknya mengedepankan itikad untuk berdamai. Ia menyatakan bahwa hubungan pernikahan ini sudah cukup lama dan bahwa psikologi anak harus dijaga dengan baik.
Dia menegaskan bahwa jika tidak menemui titik damai, pihaknya siap menghadapi proses hukum yang ada. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kasus yang menimpa tokoh publik asal Jambi tersebut.
Kesimpulan
Peristiwa penggerebekan ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara dosen dan istri sahnya. Meski DK membantah bahwa dirinya berduaan dengan wanita, pihak istri tetap mempertahankan sikap untuk tidak rujuk dan melanjutkan proses perceraian. Sementara itu, pihak kuasa hukum DK terus berusaha mencari solusi damai demi kepentingan keluarga.







