Kedutaan Besar Amerika Serikat Mendorong Pertemuan Langsung antara Lebanon dan Israel
Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Lebanon pada Kamis (30/4/2026) mengajak agar dilakukan pertemuan langsung antara Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Sejak konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali meletus pada awal Maret 2026, perwakilan dari kedua negara telah bertemu dua kali di Washington. Pertemuan ini merupakan pertemuan langsung pertama antara Lebanon dan Israel dalam beberapa dekade.
Perundingan tersebut berhasil mencapai gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai pada 17 April 2026, dan diperpanjang selama tiga pekan. Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar AS menyebutkan bahwa pertemuan langsung antara Presiden Aoun dan Perdana Menteri Netanyahu yang difasilitasi oleh Presiden Trump akan memberikan kesempatan bagi Lebanon untuk memperoleh jaminan nyata terkait kedaulatan penuh, integritas teritorial, keamanan perbatasan, dukungan kemanusiaan dan rekonstruksi, serta pemulihan otoritas penuh negara atas setiap jengkal wilayahnya, dengan jaminan dari Amerika Serikat.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, dalam konferensi persnya menyampaikan bahwa perundingan langsung antara Lebanon dan Israel akan terwujud dalam waktu dua minggu.
Israel Terus Lakukan Pelanggaran Gencatan Senjata
Meski adanya gencatan senjata, Israel masih terus melancarkan serangan di Lebanon, khususnya di wilayah selatan. Pada hari Kamis, lebih dari 20 orang, termasuk dua tentara Lebanon dan tiga paramedis, tewas, sementara lebih dari 70 orang lainnya terluka dalam serangan tersebut. Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi terhadap 15 kota dan desa di Lebanon selatan.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. Ia menyatakan bahwa jumlah korban tewas dan terluka semakin meningkat dari hari ke hari. “Tekanan harus diberikan kepada Israel untuk memastikan mereka menghormati hukum dan konvensi internasional serta menghentikan penargetan terhadap warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi bantuan kemanusiaan dan kesehatan,” tambah Aoun.
Lebanon Desak Israel Patuhi Ketentuan Gencatan Senjata
Sebelumnya, Aoun menyatakan bahwa Lebanon sedang menunggu AS untuk menetapkan tanggal perundingan dengan Israel. Namun, ia bersikeras bahwa Israel harus terlebih dahulu mematuhi gencatan senjata sebelum perundingan dilaksanakan. Dalam hal ini, Israel dituntut untuk menghentikan serangan terhadap Lebanon, menarik pasukannya, membebaskan para tahanan, dan meninggalkan apa yang disebut sebagai zona penyangga “Garis Kuning.”
“Pemerintah Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat berupaya memisahkan pembicaraan ini dari perundingan AS dengan Iran. Namun, dengan eskalasi pertempuran yang terus berlanjut, tampaknya satu-satunya hal yang dapat memperlambatnya adalah tekanan lebih lanjut dari Trump terhadap Israel untuk menghentikannya,” kata jurnalis Al Jazeera, Malcolm Web.
Lebih dari 2.500 Orang Tewas Akibat Serangan Israel di Lebanon
Sementara itu, anggota parlemen Hizbullah, Ibrahim al-Musawi, menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah Lebanon di tengah serangan Israel yang terus berlanjut. Ia menuding pemerintah telah berpaling dan mengabaikan orang-orang yang telah berkorban. “Yang lebih buruk dari semua ini adalah ketika siapa pun dari Departemen Luar Negeri AS berbicara dan mengumumkan suatu kesepakatan, kami tidak mendengar satu pun komentar atau klarifikasi dari mereka. Kami akan mengibarkan bendera kemenangan di semua desa di selatan yang diduduki,” ujarnya.
Pertempuran antara Israel dan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret 2026, setelah sekutu Iran tersebut menyerang Israel sebagai respons atas perang Israel-AS terhadap Iran beberapa hari sebelumnya. Sejak saat itu, serangan Israel telah menewaskan 2.586 orang di Lebanon, melukai 8.020 lainnya, dan memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi.









