Angkringan Plataran Senopati, Destinasi Kuliner Baru di Yogyakarta
Yogyakarta kini memiliki destinasi kuliner baru yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Angkringan Plataran Senopati. Tempat ini menjadi solusi bagi para pelaku usaha yang terdampak akibat kebijakan pembatasan bus pariwisata di kawasan inti Sumbu Filosofi sejak awal 2026. Dengan konsep angkringan modern, Plataran Senopati menawarkan pengalaman makan malam yang unik dan ramah lingkungan.
Latar Belakang Pembukaan Angkringan Plataran Senopati
Pembukaan Angkringan Plataran Senopati tidak hanya bertujuan untuk menarik pengunjung, tetapi juga sebagai upaya para juru parkir (jukir) yang kehilangan lahan penghasilan mereka. Sebelumnya, para jukir mengandalkan pendapatan dari kendaraan besar seperti bus pariwisata. Namun, setelah kebijakan pembatasan tersebut diterapkan, lahan parkir mereka menjadi kosong dan tidak lagi digunakan.
Para jukir memutuskan untuk membentuk koperasi dan mengumpulkan modal bersama. Modal awal sebesar Rp 102 juta berasal dari iuran 68 anggota yang masing-masing menyetor Rp 1,5 juta. Uang tersebut digunakan untuk membangun gerobak, instalasi lampu, hingga perkakas dapur. Kini, tempat ini menjadi pusat kuliner yang lebih tertata dan ramah lingkungan.
Konsep Angkringan Modern
Plataran Senopati mengusung konsep angkringan modern dengan suasana yang nyaman dan bersih. Ketua Koperasi Senopati, Harjito, menjelaskan bahwa penutupan akses bus pariwisata memberikan dampak besar bagi komunitas. Ia menyebut bahwa ketergantungan pada kendaraan kecil atau mobil pribadi tidak cukup untuk menopang pendapatan anggota yang jumlahnya ratusan orang.
“Selama ini kalau kita dikatakan mati, ya mati betul, karena sudah tidak bisa apa-apa (sejak bus dilarang). Padahal komunitas di sini kalau dihitung dengan keluarga dan anak-anaknya bisa sampai 1.500 jiwa. Mereka sulit untuk makan,” ujarnya.
Kini, area parkir yang sebelumnya sepi berubah menjadi kawasan kuliner dengan konsep dapur bersih yang lebih tertata. Angkringan Plataran Senopati menjadi ruang usaha bagi puluhan UMKM dengan sajian khas seperti nasi kucing, sate usus, dan wedang ronde. Seluruh makanan yang dijual merupakan titipan para pedagang yang tengah berupaya bangkit kembali.
Pengelolaan Harga dan Menu
Koordinator Plataran Senopati, Andi Irwanto, menegaskan bahwa pihak yang ikut andil dalam Plataran Senopati berkomitmen melawan praktik “ngepruk” atau memasang harga di luar batas kewajaran. Menu dan harga pun sudah tertera sehingga pengunjung bisa melihatnya langsung.
“Sudah ada daftar harga dan menu, semua tertera. Aman, tidak ada nuthuk. Menu harian semua khas Yogya, ada ronde, jahe, sereh, dan macam-macam. Intinya kita main aman saja soal harga agar warga juga mau datang,” tegasnya.
Jam Operasional dan Fasilitas
Operasional Plataran Senopati dimulai dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Sejumlah fasilitas seperti toiler juga disediakan tepat di depan Bank Indonesia. Menurut aturan dari Wali Kota Yogyakarta, last order di Plataran Senopati adalah pukul 23.00 WIB sehingga pukul 00.00 WIB mereka sudah tutup.
“Sementara seperti itu, arahan dari Pak Wali Kota untuk operasionalnya dari jam 16.00 sore sampai jam 24.00 malam. Jam 23.00 WIB last order. Jadi, jam 24.00 sudah clear,” paparnya.
Di Plataran Senopati, wisatawan bisa menikmati syahdunya malam Titik Nol Kilometer tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Diskusi dengan Pemerintah Kota
Dibangunnya Plataran Senopati merupakan hasil diskusi panjang dengan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Salah satu titik di sisi barat TKP Senopati kini resmi ditutup dan dialihfungsikan menjadi kawasan kuliner untuk penataan area tersebut. Sementara itu, kendaraan kecil seperti Elf dan mobil pribadi diarahkan ke sisi tengah dan timur agar alur pergerakan tetap tertib.
“Apalagi banyak teman-teman yang kemarin sempat ambil pinjaman modal di bank sebelum tahu ada kebijakan penutupan bus ini. Jadi kita betul-betul kebingungan. Harapannya dengan ini (sentra kuliner) laku, ekonomi bisa terangkat lagi,” ungkapnya.
Konsep Penataan Kawasan
Koordinator Plataran Senopati, Andi Irwanto, menjelaskan konsep penataan kawasan yang tengah diterapkan. Ia menyebut bahwa konsep tersebut mengacu pada arahan Wali Kota Yogyakarta dengan model pemberdayaan seperti yang diterapkan di Alun-Alun Utara. Salah satu fokus utama adalah penerapan konsep dapur bersih serta pengelolaan UMKM yang lebih terstruktur di kawasan tersebut.
“Dapur bersih itu otomatis kita tidak masak-memasak, cuma air saja yang dimasak. Lainnya titipan semua dari eks pedagang Senopati dan teman-teman UMKM. Saat ini ada 33 pedagang lapak, 20 pedagang asongan, dan 15 jukir yang ikut berdaya di sini,” urainya.
Skema ini diharapkan dapat kembali menggerakkan roda ekonomi para pedagang lama maupun pelaku UMKM yang terlibat. Pada akhirnya, kawasan Senopati ditargetkan menjadi sentra kuliner yang lebih tertata, produktif, dan berdaya saing.







