Kenaikan Harga BBM Mengganggu Distribusi Logistik
Kenaikan harga solar non-subsidi dan kesulitan mendapatkan solar subsidi mulai mengganggu distribusi logistik serta menekan keuntungan perusahaan ekspedisi. Hal ini memengaruhi banyak sektor, termasuk transportasi dan pengiriman barang. Truk-truk yang biasanya menggunakan solar subsidi kini juga kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kendaraannya.
Beberapa sopir truk yang menjalankan rute pengiriman Surabaya – Banyuwangi mengungkapkan kesulitan mereka dalam mendapatkan BBM. Di beberapa SPBU, mereka tidak bisa mendapatkan BBM karena stok habis atau barcode yang tidak dapat digunakan. “Kebetulan saya aman karena BBM truk yang saya bawa sudah diisi dari perusahaan. Tapi teman-teman banyak yang kesulitan. Banyak barcode tidak bisa dipakai,” kata Ayok, sopir truk sebuah perusahaan di Sidoarjo saat perjalanan menuju Banyuwangi.
Bagoes Asmara, Marketing perusahaan ekspedisi Lintas Samudra Jaya, menyampaikan bahwa banyak keluhan dari sopir di perusahaan tersebut yang kesulitan mendapat solar. Beberapa laporan menyebutkan sulitnya mendapatkan BBM karena stok kosong. “Sopir kami yang sedang di Balikpapan dan beberapa daerah lain juga menceritakan demikian. Kita jadi repot, apalagi ketika di daerah pedalaman. Mau ngisi BBM full tank dan nambah di jerigen, takut dianggap menimbun,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM membuat perusahaan harus berputar otak. Sementara ini, mereka hanya bisa bersabar sambil menunggu kondisi. “Ketika harga BBM naik, pasti berdampak pada harga logistic. Dan berikutnya, tentu harga barang juga akan ikut naik. Namun, sementara ini kami belum berani menaikkan harga, nunggu keadaan dulu,” tambah Bagoes.
Harapan mereka adalah pemerintah mengambil kebijakan yang baik agar harga bahan bakar stabil. “Kabarnya, beberapa harga tiket kapal sudah naik. Kalau tidak salah, jurusan Semarang – Pontianak dan Jakarta – Pontianak sudah naik. Dan jika semua naik, tentu biaya logistik akan semakin mahal,” katanya.
Sindikat Joki UTBK di Surabaya Dibongkar
Polrestabes Surabaya berhasil membongkar sindikat praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang berlangsung di Gedung Rektorat Lantai 4 Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sebanyak 14 tersangka dibekuk dalam kasus ini. Belasan pelaku itu tidak hanya berlatar belakang sebagai mahasiswa, tetapi juga ada yang dari Karyawan Swasta, P3K Kantor Pemerintahan, hingga Dokter.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan menjelaskan bahwa 14 orang tersangka terbagi dalam beberapa klaster: Klaster Pelaksana atau Penerima Order sebanyak 5 orang, 3 di antaranya adalah Dokter; Klaster Pemberi Order 2 orang; Klaster Joki atau Pelaksana Lapangan 2 orang inisial N dan P; dan Klaster Pembuat KTP Palsu 5 orang. Aktor utama dalam tindak pidana ini adalah Tersangka K, sekaligus Pemilik Usaha Laundry.
Berdasarkan keterangan tersangka, sebagian besar pemohon Joki UTBK mengincar Fakultas Kedokteran. Alasan memakai joki karena tes relatif lebih sulit atau membutuhkan kecerdasan yang lebih. Tarif jasa joki mencapai Rp700 juta.
Pasar di Sidoarjo Rusak dan Sepi
Sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sidoarjo membutuhkan perbaikan fasilitas dan revitalisasi menyeluruh. Beberapa fasilitasnya dirasa kurang layak, banyak stand tidak beroperasi, dan data di Pemkab Sidoarjo menyebut bahwa target retribusi dari pasar tradisional tahun 2025 kemarin tidak terpenuhi.
Pemkab Sidoarjo telah menyiapkan anggaran Rp2,3 miliar untuk memperbaiki beberapa pasar, termasuk Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan komitmennya untuk segera melakukan pemetaan dan kajian terkait perbaikan sarana dan prasarana yang sudah tidak memadai.
Subandi juga mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dalam melakukan revitalisasi pasar tradisional yang cenderung tertinggal akibat maraknya pasar modern. Ia mengusulkan penerapan penarikan retribusi secara non tunai yang bisa dikawal oleh Diskominfo Sidoarjo. Selain itu, ada dashboard untuk mendata jumlah pasar tradisional, termasuk mendapat jumlah lapak atau kios pedagang yang bisa diakses para pihak.







