Kehidupan Berasrama di SRMP 16 Kota Malang
Kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang ternyata mampu menciptakan kenyamanan tersendiri bagi para siswa. Meskipun diwarnai aturan disiplin ketat dan jadwal kegiatan yang padat, banyak siswa justru merasa betah tinggal di asrama bersama teman-temannya. Salah satu contohnya adalah Begja Sudira W, siswa kelas 7C di SRMP 16 Kota Malang, yang merasa sangat betah tinggal di asrama.
“Di sini enak, nyaman dan semuanya terjamin. Kami dapat makan. Dapat laptop. Senang banget rasanya,” ucapnya saat ditemui Infomalangraya.com, Senin (11/5/2026). Meski jauh dari orang tua, Begja yang memiliki cita-cita menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) itu justru merasa kerasan. Ia merasa mendapatkan banyak ilmu dan bisa hidup lebih mandiri. Apalagi dengan sejumlah fasilitas yang ada, membuat dirinya bisa senang bisa menimba ilmu di Sekolah Rakyat.
“Dapat ilmunya cukup banyak. Terus dapat pengalaman dan saya bisa mandiri. Bisa lebih kuat karena tidak sama orang tua. Meskipun kangen. Tapi saya masih bisa ketemu tiap dua Minggu sekali,” ungkapnya.
Berbagai Kegiatan untuk Membentuk Kedisiplinan
Di SRMP 16 Kota Malang, siswa tak hanya diajarkan untuk belajar mata pelajaran di dalam kelas, tetapi juga diajarkan untuk lebih disiplin. Berbagai kegiatan disiapkan oleh sekolah untuk membuat siswa tidak mudah bosan. Mulai dari pembinaan kedisiplinan bersama TNI Lanud Abdulrachman Saleh, materi ketertiban dari kepolisian, hingga aktivitas keseharian di asrama menjadi pengalaman baru bagi siswa.
“Kami memang mengupayakan berbagai kegiatan supaya anak-anak tidak merasa bosan,” kata Waka Humas SRMP 16 Kota Malang, Rosita Devi Ramadhani.
Selain itu, suasana kebersamaan antar siswa menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka nyaman tinggal di asrama. Rosita bahkan mengungkapkan ada siswa yang justru ingin kembali ke sekolah setelah dijemput pulang oleh orang tua.
“Kadang anaknya malah ingin balik lagi ke sekolah karena senang bermain dan berkumpul dengan teman-temannya,” ungkapnya.
Tantangan dari Orang Tua dan Solusi yang Dilakukan
Meski begitu, tantangan justru datang dari sebagian orang tua yang belum terbiasa berpisah dengan anak. Menurut Rosita, beberapa siswa keluar dari sekolah bukan karena merasa tidak nyaman, melainkan karena orang tua merasa berat melepas anak tinggal di asrama.
Dari total 100 siswa yang awalnya menimba ilmu di SRMP 16 Kota Malang, kini hanya tinggal 94 siswa. “Rata-rata itu orang tuanya yang tidak bisa jauh dari anak,” jelasnya.
Sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan emosional siswa dan keluarga, sekolah menerapkan sistem untuk bertemu keluarga tiap dua minggu sekali secara bergantian. Siswa diperbolehkan pulang selama satu hari sebelum kembali ke asrama pada sore harinya. Kebijakan tersebut diterapkan agar siswa tetap memiliki kedekatan dengan keluarga, namun tidak kehilangan ritme kedisiplinan kehidupan asrama.
“Kalau terlalu lama di rumah biasanya anak jadi terlalu nyaman dan kembali ke sekolahnya agak susah. Jadi kami bikin setiap dua Minggu sekali yang digilir antar siswa laki-laki dan siswi perempuan,” ujarnya.
Proses Adaptasi dan Pembentukan Kebiasaan Positif
Rosita menjelaskan, proses adaptasi siswa tidak mudah karena sebagian besar berasal dari lingkungan yang belum terbiasa dengan pola hidup disiplin dan teratur. Karena itu, pihak sekolah menggandeng berbagai pihak untuk membantu pembentukan kebiasaan positif siswa. Salah satunya bekerja sama dengan SMK Taruna Nala untuk mengajarkan keterampilan dasar kehidupan asrama seperti melipat pakaian, menata lemari, hingga merapikan tempat tidur.
“Memang butuh proses membiasakan anak-anak agar bisa disiplin dan rapi. Kami sampai mengundang kakak-kakak dari Taruna Nala untuk mengajarkan langsung cara melipat pakaian dan tata tempat tidur,” ucapnya.
Tak hanya itu, setiap Jumat sekolah mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang berisi aktivitas pembiasaan hidup mandiri. Guru dan pendamping turut mendampingi siswa mencuci pakaian, mengecek kebersihan asrama, hingga membiasakan pola hidup bersih.
Tantangan di Bidang Akademik
Di bidang akademik, SRMP 16 Kota Malang juga menghadapi tantangan tersendiri. Rosita mengungkapkan masih ada sejumlah siswa yang belum lancar membaca dan berhitung. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah membuat kelompok pendampingan khusus literasi dan numerasi yang dilaksanakan setiap Senin dan Rabu.
“Anak-anak yang kurang dalam literasi dan numerasi kita kelompokkan lalu kita dampingi khusus,” ungkapnya.
Fasilitas yang Masih Perlu Ditingkatkan
Saat ini, SRMP 16 Kota Malang masih menempati gedung sementara dan menunggu pembangunan gedung permanen yang direncanakan berada di sekitar kawasan Islamic Center Kota Malang. Meski fasilitas pembelajaran seperti smartboard, laptop, perpustakaan, laboratorium IPA dan komputer sudah tersedia, sekolah masih kekurangan fasilitas olahraga yang memadai.
“Yang masih kurang memang fasilitas olahraga karena kami masih memakai gedung sementara,” tandasnya.







