Peran Teknologi Satelit dalam Kemandirian Nasional
PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menilai pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian antariksa nasional. Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan akses menuju luar angkasa kini menjadi kebutuhan penting bagi setiap negara yang ingin menjaga kedaulatan dan ketahanan nasionalnya.
“Antariksa bukan lagi menjadi sekadar pilihan,” ujar Adi saat peresmian operasi Satelit Nusantara Lima (SNL) atau N5 di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (11/5/2026). Menurut Adi, globalisasi dan perkembangan teknologi telah mengubah peta geopolitik dunia. Sejumlah negara bahkan mulai membatasi layanan komunikasi, navigasi, hingga akses citra penginderaan jauh dari satelit.
Dengan kondisi saat ini, kata Adi, teknologi satelit menjadi salah satu indikator kekuatan dan kemandirian bangsa. Adi menilai Indonesia harus berani mengandalkan kapasitas sendiri dan tidak bergantung pada pihak lain. Ia menegaskan negara-negara besar kini berlomba membangun sistem, jaringan, dan teknologi satelit sendiri karena infrastruktur digital bukan lagi sekadar urusan bisnis.
“Mereka membangun sistem sendiri, satelit sendiri, teknologi sendiri, jaringan sendiri. Mengapa? Karena mereka memahami infrastruktur digital dan komunikasi masa depan bukan hanya soal bisnis, tetapi juga mencakup masalah pertahanan, keamanan, dan masa depan negara itu sendiri,” sambung Adi.
Keuntungan Strategis Lokasi Biak
Dalam konteks itu, Adi menyebut pembangunan bandar antariksa nasional menjadi sangat penting. Ia mengatakan posisi Indonesia di garis khatulistiwa memberikan keuntungan strategis untuk peluncuran satelit orbit ekuatorial maupun geostasioner.
“Indonesia terletak di garis khatulistiwa yang merupakan lahan parkir paling strategis untuk meluncurkan satelit orbit ekuatorial, termasuk geostasioner,” lanjut dia. Adi menyambut positif rencana pembangunan bandar antariksa di Biak melalui kerja sama internasional bersama Rusia, India, dan Turki. Adi mengatakan Biak memiliki keunggulan teknis dibanding sejumlah lokasi peluncuran satelit lain di dunia.
“Peluncuran dari Biak dapat menghemat bahan bakar sampai 15 persen dan menambah berat muatan hingga 25 persen, apalagi dibandingkan dengan lokasi peluncuran seperti Cape Canaveral, Florida,” ungkap Adi.
Namun demikian, Adi menegaskan pembangunan akses menuju luar angkasa tidak bisa dilakukan sendiri oleh sektor swasta. Menurut dia, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, dan mitra internasional.
“Access to space adalah hal yang tidak dapat diperjuangkan oleh pihak swasta sendiri. Misi besar ini memerlukan orkestrasi bersama,” ucap Adi.

Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso bersama Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Kepala Staf Kepresidenen Dudung Abdurachman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie, serta Komisaris Utama PSN Sofyan Djalil dan Komisaris PSN Retno Marsudi saat peresmian operasi Satelit Nusantara Lima di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (11/5/2026). – (Muhammad Nursyamsi/Infomalangraya.com)
Investasi Besar di Sektor Antariksa
Adi mengatakan PSN selama ini telah berinvestasi besar di sektor antariksa nasional. Dalam 10 tahun terakhir, perusahaan telah menjalankan tiga program satelit geostasioner dengan nilai investasi lebih dari Rp 23 triliun.
“Menuju kemandirian antariksa, kita tidak bisa tetap menjadi pengguna, namun harus menjadi pemain,” kata Adi.
Tantangan dalam Pengelolaan Digital dan Antariksa
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan Komdigi saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengelola dua sektor strategis sekaligus, yakni ranah digital dan antariksa. Menurut dia, kedua sektor tersebut harus berjalan beriringan dengan pendekatan berbeda, namun tetap saling mendukung demi menjaga kepentingan nasional Indonesia.
“Satu lagi, dunia antariksa yang sama luasnya, memerlukan proses yang tidak cepat dan membutuhkan kehati-hatian, bukan emosi. Dua hal ini harus berjalan sama-sama baik karena terkait kedaulatan Indonesia,” ujar Meutya saat peresmian operasi Satelit Nusantara Lima (SNL) atau N5 di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Ia mengatakan perkembangan teknologi digital berlangsung sangat cepat, sementara pengembangan sektor antariksa membutuhkan proses panjang dan tingkat kehati-hatian tinggi. Meutya mengaku sadar pemerintah harus mampu menyeimbangkan pengelolaan kedua sektor tersebut agar tetap sejalan dengan kepentingan strategis bangsa.
Meutya menilai keberhasilan pengembangan Satelit Nusantara Lima menjadi bukti proyek strategis nasional hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama lintas sektor. Ia menyebut kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra internasional menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan industri antariksa nasional.
“Tadi disampaikan oleh Pak Adi, Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara, kunci keberhasilan adalah kolaborasi,” sambung Meutya.
Menurut Meutya, pemerintah memahami bahwa era digital dan industri antariksa kini berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Oleh sebab itu, ia menilai penguasaan teknologi antariksa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis nasional yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
“Pemerintah sadar betul di era digital yang begitu cepat, di era ketika antariksa atau space is no longer an option, maka kita perlu bekerja sama,” lanjut Meutya.
Peran Pemerintah dalam Transformasi Digital
Meutya memastikan Kementerian Komunikasi dan Digital akan terus memperkuat komunikasi dengan seluruh pelaku industri digital dan antariksa di Indonesia. Dia menilai komunikasi tersebut penting agar pemerintah dapat memahami kebutuhan industri sekaligus mempercepat pembangunan ekosistem digital nasional.
“Tim kami akan terus disiagakan dan ditugaskan untuk berkomunikasi baik dengan seluruh stakeholder. Dan ini tidak hanya dengan PSN, tetapi juga dengan pihak lainnya,” ucap Meutya.
Meutya mengatakan pemerintah saat ini aktif berdiskusi dengan berbagai perusahaan dan pelaku industri digital untuk memperkuat transformasi digital nasional. Menurut dia, pembangunan ekosistem digital tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan besar dari sektor industri sebagai motor utama inovasi.
“Tim kami cukup aktif berbincang dengan banyak industri lain karena kami meyakini ekosistem ini dibangun bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi justru titik beratnya ada pada industri,” sambungnya.
Meutya juga membuka peluang dukungan pemerintah terhadap industri yang bergerak di bidang digital dan transformasi digital nasional. Ia menegaskan pemerintah siap membahas dukungan teknis maupun kebijakan yang memungkinkan untuk memperkuat daya saing industri dalam negeri.
“Jika memang ada dukungan yang dapat dilakukan pemerintah kepada industri yang terkait dengan digital ataupun transformasi digital di tanah air,” kata Meutya.







