Sejarah Agraris Lamongan yang Berusia Ribu Tahun
Lamongan, sebuah kota di Jawa Timur (Jatim), tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional saat ini, tetapi juga memiliki sejarah panjang sebagai wilayah agraris yang maju sejak era kerajaan kuno. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi pusat pertanian, peternakan, hingga perdagangan hasil bumi sejak ribuan tahun lalu.
Banyak prasasti peninggalan masa Raja Airlangga hingga Majapahit yang ditemukan di wilayah Lamongan dan sekitarnya memberikan bukti nyata tentang peradaban agraris yang sudah berkembang. Prasasti-prasasti tersebut mencatat adanya aktivitas pertanian dan perdagangan pangan yang sangat aktif.
Jejak Pertanian Sejak Era Airlangga
Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, menjelaskan bahwa hampir seluruh prasasti masa Airlangga yang ditemukan di Lamongan menyebutkan aktivitas pertanian dan perdagangan pangan. Contohnya adalah Prasasti Cane, Patakan, Baru, Selorejo, atau Bularuk, yang menyebutkan perdagangan beras dan ternak.
Istilah “adagan bras” dalam prasasti tersebut merujuk pada perdagangan beras, yang menjadi tanda bahwa Lamongan pada masa itu sudah menjadi daerah surplus pangan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pertanian masyarakat telah berkembang maju, termasuk pengelolaan irigasi dan struktur desa pertanian.
Sawah dan Peternakan Jadi Penopang Ekonomi
Tidak hanya pertanian, kehidupan masyarakat Lamongan kuno juga didukung oleh sektor peternakan. Dalam beberapa prasasti ditemukan istilah seperti kbo untuk kerbau dan wdus yang berarti kambing. Kerbau digunakan untuk membajak sawah, sedangkan sapi dan kambing menjadi bagian penting dari ekonomi rumah tangga masyarakat desa.
Supriyo menjelaskan bahwa pertanian pada masa itu tidak berdiri sendiri. Sawah, peternakan, dan perdagangan saling terhubung, membentuk ekonomi desa yang stabil.
Masa Majapahit dan Perdagangan Rempah
Tradisi agraris Lamongan terus berkembang hingga masa Majapahit. Pada era ini, Lamongan mulai masuk jaringan perdagangan komoditas bernilai tinggi. Prasasti Biluluk II mencatat berbagai komoditas seperti sahang (merica), kapulaga, cabe Jawa, kemukus, hingga kapas.
Komoditas-komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi bagian penting dari perdagangan Nusantara. Keberadaan kapas diduga menjadi tanda berkembangnya aktivitas kerajinan tekstil masyarakat desa pada era Majapahit.
Warisan Sejarah yang Masih Hidup
Supriyo menilai bahwa predikat Lamongan sebagai lumbung pangan nasional saat ini merupakan kelanjutan dari tradisi agraris kuno yang sudah berlangsung sejak masa kerajaan. Hamparan sawah di Lamongan bukan hanya lahan pertanian modern, tetapi juga bagian dari warisan sejarah panjang peradaban Nusantara.
Setiap musim tanam di Lamongan dinilai bukan hanya aktivitas ekonomi masyarakat, melainkan juga pengingat bahwa tradisi pertanian di kawasan tersebut telah hidup sejak zaman Airlangga hingga Indonesia modern.
Kesimpulan
Dari berbagai prasasti dan catatan sejarah, dapat disimpulkan bahwa Lamongan memiliki peradaban agraris yang sangat maju sejak ribuan tahun lalu. Mulai dari perdagangan beras, peternakan, hingga perdagangan rempah-rempah, semua menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi bagian penting dari jalur ekonomi Nusantara. Tradisi ini masih terus berlanjut hingga saat ini, membuktikan bahwa warisan sejarah Lamongan tidak hanya tertulis dalam prasasti, tetapi juga hidup dalam kehidupan masyarakat setempat.







