Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Di tengah dinamika perang yang terjadi di berbagai belahan dunia, ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta persaingan sumber daya strategis global, peta kekuatan dunia sedang mengalami perubahan signifikan. Dunia yang selama beberapa dekade dipimpin oleh Amerika Serikat kini mulai menunjukkan tanda-tanda transisi menuju era baru. Dalam era ini, kompetisi tidak lagi hanya terbatas pada pengaruh politik, tetapi juga melibatkan kendali atas infrastruktur dasar dari kehidupan modern.
Dari situasi memanasnya Selat Hormuz akibat konflik antara Iran, Israel, dan AS, hingga pengembangan pusat data AI dan tambang mineral tanah jarang, semuanya saling terkait dalam satu tema utama: perebutan kendali atas masa depan dunia. Tiga tulisan dari media internasional, Al Jazeera, TRT World, dan Fox News, menunjukkan bahwa rivalitas antara AS dan China tidak lagi terbatas pada perang dagang atau militer semata. Kompetisi itu telah masuk ke wilayah yang lebih dalam, termasuk energi, teknologi, rantai pasok, hingga kemampuan negara-negara untuk mengendalikan ketergantungan global.
Perubahan Geopolitik di Timur Tengah
Wenran Jiang, direktur pendiri China Institute di Universitas Alberta, melihat perubahan tersebut dari sudut pandang geopolitik Timur Tengah. Dalam tulisannya di Al Jazeera, ia menyebutkan bahwa posisi Amerika Serikat kini semakin bergantung pada China di tengah krisis Selat Hormuz. Menurutnya, setelah keterlibatan militer AS dalam konflik Iran, Washington menghadapi tekanan besar akibat gangguan jalur energi global.
“Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat rentan, semakin bergantung pada kerja sama China untuk melepaskan diri dari bencana yang disebabkan oleh diri sendiri,” tulis Jiang.
Pandangan Jiang menunjukkan bahwa China tidak lagi hanya sebagai penantang AS, tetapi juga sebagai kekuatan yang mampu menentukan stabilitas krisis global. Dalam konteks Selat Hormuz, Beijing dinilai memiliki pengaruh diplomatik yang cukup besar terhadap Iran sehingga Washington harus membuka komunikasi lebih intens dengan Xi Jinping. Namun, Jiang menilai Beijing tidak sedang terburu-buru menyelamatkan AS. China justru sedang memainkan “permainan jangka panjang” dengan tujuan membangun arsitektur keamanan multipolar di Timur Tengah sekaligus memperkuat posisi strategisnya dalam isu Taiwan dan pengaruh Jepang di Asia Timur.
Kolonialisme Teknologi di Era AI
Sementara itu, tulisan Seyithan Ahmed Ates di TRT World membawa pembaca pada medan kompetisi yang berbeda: kecerdasan buatan atau AI. Jika Wenran Jiang melihat perebutan pengaruh geopolitik, Ates memotret bagaimana dunia sedang memasuki bentuk baru kolonialisme teknologi. Menurutnya, AI telah membelah dunia ke dalam dua blok utama: Amerika Serikat dan China sebagai pusat kekuatan, sementara Eropa serta negara-negara berkembang berada dalam posisi mengejar ketertinggalan.
“Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat sedang membangun keunggulan struktural di seluruh rantai nilai AI,” tulis Ates.
Ia menjelaskan bahwa dominasi AI bukan sekadar soal peneliti pintar atau perusahaan teknologi besar. AI membutuhkan pusat data, chip semikonduktor, cloud computing, energi murah, dan investasi modal dalam jumlah sangat besar. Negara yang tidak memiliki fondasi tersebut, menurut Ates, berpotensi menjadi bergantung secara permanen pada sistem yang dikendalikan negara lain.
Di titik inilah tulisan Ates menjadi menarik. Ia memperlihatkan bahwa pertarungan AI bukan lagi sekadar kompetisi inovasi, tetapi perebutan kedaulatan masa depan. Amerika Serikat masih unggul dalam investasi AI dan pusat data. Namun China bergerak cepat mengejar melalui publikasi ilmiah, paten, dan pengembangan model AI mutakhir. Bahkan menurut data yang dikutip Ates, pangsa China dalam 100 makalah AI paling berpengaruh di dunia meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Yang paling kritis dalam tulisan itu adalah peringatan mengenai ketergantungan teknologi. Ates menilai negara yang tidak menguasai infrastruktur AI berisiko kehilangan ruang gerak politik di masa depan.
“Ketergantungan pada platform AI asing akan menjadi kerentanan strategis,” tulisnya.
Ketergantungan pada Mineral Kritis
Pandangan tersebut memiliki irisan kuat dengan tulisan Young Kim di Fox News. Jika Ates berbicara tentang AI, Young Kim berbicara tentang fondasi fisik yang menopang seluruh revolusi teknologi itu: mineral kritis dan tanah jarang.
Dalam artikelnya, anggota Kongres dari Partai Republik itu menggambarkan bagaimana kehidupan modern Amerika sebenarnya sangat bergantung pada material yang selama ini dikuasai China.
“Mineral-mineral penting secara diam-diam menggerakkan setiap aspek kehidupan modern Amerika,” tulis Young Kim.
Ia menjelaskan bahwa mulai dari mesin kopi, lemari pendingin, televisi, mobil listrik, hingga sistem persenjataan militer Amerika, semuanya membutuhkan mineral strategis seperti litium, tembaga, dan rare earth elements. Persoalannya, China saat ini menguasai sebagian besar rantai pasok global mineral tersebut.
Menurut Kim, Beijing “telah menghabiskan puluhan tahun dan ratusan miliar dolar untuk memonopoli pasar mineral penting.” Nada tulisan Kim jauh lebih keras dibanding dua penulis sebelumnya. Ia melihat dominasi China bukan sekadar tantangan ekonomi, melainkan ancaman keamanan nasional Amerika. Ketika Beijing membatasi ekspor mineral tanah jarang, dampaknya langsung terasa pada industri pertahanan dan manufaktur AS.
Namun di balik nada keras itu, sebenarnya terdapat pengakuan implisit: Amerika mulai menyadari bahwa ketergantungannya terhadap China telah masuk terlalu dalam.
Kesimpulan: Era Ketergantungan Strategis Baru
Di titik ini, ketiga tulisan tersebut sesungguhnya bertemu pada satu kesimpulan besar yang sama. Dunia sedang bergerak menuju era ketergantungan strategis baru. Jika pada abad ke-20 minyak menjadi alat utama pengaruh geopolitik, maka pada abad ke-21 posisi itu mulai diambil alih oleh AI, data, chip, energi, dan mineral kritis. Negara yang menguasai rantai pasok teknologi akan memiliki pengaruh politik global yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
China tampaknya memahami perubahan ini lebih awal. Beijing tidak hanya membangun kekuatan militer atau perdagangan, tetapi juga menanam pengaruh pada lapisan terdalam ekonomi global: energi, manufaktur, semikonduktor, mineral, dan AI.
Sebaliknya, Amerika Serikat mulai menghadapi dilema baru. Di satu sisi, Washington masih menjadi kekuatan teknologi terbesar dunia. Namun di sisi lain, banyak fondasi industri strategisnya justru bergantung pada China.
Karena itu, rivalitas AS-China hari ini bukan lagi sekadar soal siapa negara paling kuat. Persaingan keduanya kini lebih menyerupai perebutan kendali atas “urat saraf” peradaban modern. Dan dunia di luar dua kekuatan itu, termasuk Eropa serta negara-negara berkembang, mulai menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah mereka mampu membangun kemandirian strategis, atau justru akan menjadi penonton dalam tatanan dunia baru yang dibentuk Washington dan Beijing.







