Perjalanan Perdana Menteri India ke Eropa dan Timur Tengah
Perdana Menteri India, Narendra Modi, memulai tur ke lima negara pada Jumat (15/5/2026) dengan mengunjungi Uni Emirat Arab terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa. Tur ini mencakup kunjungan ke Belanda, Swedia, Norwegia, dan Italia. Dalam perjalanan ini, Modi akan membahas berbagai isu penting seperti perdagangan, investasi, dan kerja sama di bidang teknologi dan energi.
Uni Emirat Arab kini semakin dekat dengan AS dan Israel, sementara Arab Saudi juga menjalin hubungan yang lebih kuat dengan Pakistan, Mesir, dan Turki. Di tengah situasi ini, India mencoba untuk memperluas jaringan kemitraannya. Kunjungan ini dibayangi oleh kekhawatiran terkait stabilitas energi dan rantai pasok akibat konflik Iran dan Amerika Serikat.
Gangguan di jalur pelayaran Teluk dan Selat Hormuz terus memicu volatilitas di pasar minyak dan gas. Hal ini meningkatkan tekanan pada negara-negara pengimpor energi, termasuk India. Namun, perjalanan ini juga menunjukkan upaya India untuk mendiversifikasi kemitraan ekonomi dan strategis, sekaligus memposisikan diri sebagai pusat manufaktur dan teknologi utama.
Kehadiran India di Eropa
Tur selama enam hari ini juga mencakup kunjungan ke Belanda, Swedia, Norwegia, dan Italia. Kunjungan ini berlangsung setelah India dan Uni Eropa menyepakati perjanjian perdagangan bebas pada Januari, yang disebut Modi sebagai “ibu dari semua kesepakatan.” Uni Eropa telah lama memandang India—negara dengan populasi terbesar di dunia—sebagai pasar utama.
Kementerian Luar Negeri India mengatakan kunjungan Modi akan “memperdalam kemitraan India dengan Eropa, khususnya hubungan perdagangan dan investasi, seiring dengan selesainya FTA India-Uni Eropa.” Para pengamat menilai ini menunjukkan meningkatnya keterlibatan India dengan Eropa Utara.
“Bagi India, keterlibatan dengan negara-negara Nordik dilakukan pada waktu yang strategis untuk memosisikan negara ini sebagai mitra ekonomi, teknologi, dan energi bersih yang terpercaya dalam tatanan global yang berubah cepat,” kata Anil Wadhwa, mantan duta besar India untuk Italia dan Polandia, kepada AFP.
Persiapan untuk Kehadiran di Eropa
Kunjungan ini dimulai di Uni Emirat Arab, rumah bagi sekitar 4,5 juta komunitas India. Kawasan Teluk tetap menjadi sumber utama impor minyak dan gas petroleum cair (LPG) India, dan pembicaraan selama kunjungan akan berfokus pada penguatan keamanan energi India, kata Kementerian Luar Negeri India.
Namun kunjungan ini juga bertujuan memperkuat posisi India di kawasan Teluk di tengah konflik Timur Tengah. “Lingkungan internasional baru kini sedang terbentuk,” kata K.C. Singh, mantan duta besar India untuk Iran dan UEA. “Retakan di dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan konfrontasi terbuka Iran-UEA telah mengubah geopolitik kawasan.”
Modi bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di New Delhi pada Kamis. India, pembeli minyak terbesar ketiga di dunia, biasanya memperoleh sekitar setengah impor minyak mentahnya melalui Selat Hormuz, jalur vital yang beberapa kali terganggu sejak perang dimulai.
Perjalanan ke Eropa
Modi melanjutkan perjalanan ke Belanda pada Jumat malam, dengan agenda pembahasan peningkatan perdagangan bilateral senilai 27,8 miliar dolar AS tahun lalu, serta kerja sama di bidang pertahanan, semikonduktor, air, pertanian, dan kesehatan. Pada Minggu, Modi menuju Swedia untuk menghadiri forum pemimpin bisnis Eropa bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, sebelum berangkat ke Norwegia sehari kemudian untuk menghadiri KTT India-Nordik.
“Cahaya utara mungkin jauh dari wilayah tropis, tetapi tujuan yang ingin kita capai semakin sama,” tulis anggota parlemen India Shashi Tharoor di Indian Express. “Di saat turbulensi era Trump mengguncang norma global, India dan negara-negara Nordik memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas dan tatanan dunia.”
India, yang mengoperasikan pangkalan penelitian Arktik di Kepulauan Svalbard, Norwegia, juga memantau dampak terbukanya jalur pelayaran akibat mencairnya es di Kutub Utara. “Kepentingan India di Arktik bukan sekadar akademis; mencairnya es kutub berdampak langsung pada musim monsun India dan ketahanan pangan kami,” tambah Tharoor.
Perjalanan Modi akan ditutup di Italia pada 19 Mei, di mana ia akan bertemu Perdana Menteri Giorgia Meloni, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengannya.
China Beri Wejangan ke Trump
Pemerintah China menyampaikan pesan tegas kepada Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait konflik yang terus memanas antara AS, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (15/5/2026), bertepatan dengan hari terakhir kunjungan Trump dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Beijing.
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, China menilai perang melawan Iran tidak membawa manfaat dan justru berpotensi memperburuk stabilitas global, termasuk mengganggu perekonomian dunia serta jalur perdagangan internasional. Beijing menegaskan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu dampak yang jauh lebih luas, mulai dari krisis keamanan kawasan hingga terganggunya rantai pasokan energi dunia, terutama di wilayah Teluk dan Selat Hormuz.
Xi Jinping Ingin Bantu Capai Kesepakatan
Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Presiden China Xi Jinping disebut ingin mengambil peran lebih aktif dalam mendorong penyelesaian damai antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah tersebut muncul setelah pemerintah China sebelumnya secara terbuka meminta seluruh pihak menghentikan eskalasi konflik dan mengutamakan jalur diplomasi dibanding melanjutkan aksi militer.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Xi Jinping berharap konflik di kawasan dapat segera diselesaikan melalui kesepakatan damai yang melibatkan semua pihak terkait. Dalam wawancara dengan FOX News, Trump mengatakan Presiden China bahkan menyatakan kesiapan membantu proses penyelesaian konflik apabila diperlukan.
China Soroti Pentingnya Selat Hormuz
Keterlibatan China dalam upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran disebut bukan tanpa alasan. Selain faktor keamanan kawasan, Beijing juga menaruh perhatian besar terhadap stabilitas jalur perdagangan energi internasional, khususnya di Selat Hormuz. Pemerintah China menilai wilayah tersebut memiliki peran sangat vital bagi perekonomian dunia karena menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting secara global.






