Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Tugas Guru Non-ASN Berakhir Tahun 2026, Disdik Kota Batu Jawab Isu SE Mendikdasmen

    17 Mei 2026

    Kasus LCC Viral, Juri dan MC MPR Diadukan dan Diminta Dipecat

    17 Mei 2026

    Gubernur Jatim Khofifah Sambut 58 Bhikkhu Asing di Surabaya, Bawa Pesan Damai

    17 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 17 Mei 2026
    Trending
    • Tugas Guru Non-ASN Berakhir Tahun 2026, Disdik Kota Batu Jawab Isu SE Mendikdasmen
    • Kasus LCC Viral, Juri dan MC MPR Diadukan dan Diminta Dipecat
    • Gubernur Jatim Khofifah Sambut 58 Bhikkhu Asing di Surabaya, Bawa Pesan Damai
    • Apa Itu Free Float Saham? Pengertian, Dampak, dan Rumusnya
    • Karen mengaku jadi korban kekerasan mertua, Dede Sunandar dikecewakan: Aku harap dia melindungi aku
    • Tidak Bisa Menyentuh Hajar Aswad? Ini Doa dan Cara Tawaf Saat Haji
    • Smartwatch Tidak Selalu Akurat: Sains Ungkap 6 Cara Perangkat Ini Menipu Kita
    • Sering Ngantuk dan Haus? Bisa Jadi Terlalu Banyak Gula
    • 6 Keunggulan Kuliah di PTKIN, Pendaftaran UM-PTKIN 2026 Masih Dibuka Sampai 30 Mei
    • Akhir Pekan Panjang 3 Hari, 4 Wisata Menarik di Tasikmalaya untuk Liburan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Uncategorized»Summit Xi dan Trump di tengah sikap saling curiga

    Summit Xi dan Trump di tengah sikap saling curiga

    adm_imradm_imr17 Mei 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pada 13-15 Mei 2026 tampaknya tidak dimaksudkan untuk menghasilkan “grand bargain” baru antara Amerika Serikat dan China. Sejak awal, ekspektasi terhadap summit tersebut memang relatif rendah. MajalahThe Economist bahkan menyebutnya sebagai summit of suspicion yakni pertemuan di tengah sikap saling curiga yang semakin dalam antara dua kekuatan terbesar dunia.

    Namun justru di situlah arti penting summit ini. Dalam situasi global yang semakin tidak stabil sebagaimana ditandai oleh perang Ukraina yang belum selesai, konflik Iran yang memanas, fragmentasi ekonomi global, hingga rivalitas teknologi yang semakin tajam, sepertinya Washington dan Beijing sama-sama menyadari bahwa hubungan mereka terlalu penting dan terlalu berbahaya untuk dibiarkan tanpa komunikasi langsung di tingkat tertinggi.

    Karena itu, meskipun tidak menghasilkan terobosan besar, summit Trump–Xi sejauh ini tampaknya cukup berhasil dalam satu hal penting: menjaga rivalitas strategis kedua negara tetap terkendali. Dunia saat ini tampaknya lebih takut pada eskalasi hubungan AS-China ke arah yang lebih buruk daripada berharap lahirnya persahabatan baru antara kedua negara.

    Dari sisi atmosfer dan simbolisme, Beijing memberikan sambutan yang sangat megah kepada Trump. Upacara kenegaraan penuh, perjamuan resmi, hingga kunjungan simbolik ke Temple of Heaven menunjukkan bahwa China ingin menampilkan diri sebagai kekuatan besar yang percaya diri, stabil, dan terbuka terhadap dialog.

    Media resmi China secara konsisten menggunakan bahasa seperti “cooperation”, “stability”, dan “strategically stable relationship”. Xi Jinping bahkan menegaskan bahwa China dan Amerika “harus menjadi mitra, bukan rival”. Di mata Beijing, citra stabilitas tampaknya menjadi bagian penting dari pesan diplomatik China kepada dunia, terutama ketika banyak kawasan lain justru dilanda konflik dan ketidakpastian.

    Namun di balik suasana hangat tersebut, realitas strategisnya tetap keras. Taiwan masih menjadi isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara. Xi secara terbuka memperingatkan bahwa salah menangani Taiwan dapat membawa kedua negara ke arah konflik. Pada saat yang sama, Washington tetap mempertahankan berbagai pembatasan teknologi terhadap China, termasuk di bidang semikonduktor dan artificial intelligence.

    Dengan kata lain, hubungan AS-China saat ini tampaknya tidak bergerak menuju persahabatan baru, tetapi menuju sesuatu yang lebih realistis: rivalitas strategis yang dikelola agar tidak lepas kendali. Banyak analis Barat melihat bahwa kini kedua pihak semakin memahami risiko eskalasi yang terlalu jauh.

    Interdependensi ekonomi antara Amerika dan China kini tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sumber stabilitas, seperti pada era optimisme globalisasi dahulu. Sebaliknya, ketergantungan ekonomi justru semakin dilihat sebagai potensi kerentanan strategis yang dapat digunakan sebagai alat tekanan politik maupun ekonomi.

    Karena itu, baik Washington maupun Beijing kini sama-sama berusaha mengurangi ketergantungan di sektor-sektor yang dianggap vital, mulai dari semikonduktor, artificial intelligence, rare earths, hingga supply chains strategis. Dalam konteks seperti itu, summit Trump–Xi lebih tepat dipahami sebagai upaya mengelola rivalitas agar tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka, bukan sebagai upaya rekonsiliasi hubungan kedua negara.

    Menariknya, posisi tawar China dalam summit kali ini tampaknya tidak lemah. Konflik Iran dan ketegangan di Selat Hormuz membuat stabilitas energi global kembali menjadi isu besar. Dalam konteks itu, Beijing memahami bahwa Washington juga membutuhkan kerja sama China, setidaknya untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi global.

    Selain itu, China saat ini memegang posisi penting dalam rare earths, supply chains, dan berbagai sektor teknologi strategis. Banyak analis Barat bahkan mulai melihat bahwa rivalitas AS-China kini telah bergeser jauh melampaui sekadar trade war. Persaingan kedua negara kini mencakup teknologi, AI, mineral strategis, keamanan maritim, ruang angkasa, hingga pengaruh geopolitik global.

    Namun menariknya, di tengah rivalitas tersebut, kedua pihak tampaknya justru akan semakin sering bertemu. Trump dilaporkan telah mengundang Xi Jinping untuk melakukan kunjungan balasan ke White House pada September 2026. Selain itu, keduanya juga diperkirakan kembali bertemu dalam KTT APEC di Shenzhen pada November 2026 dan KTT G-20 di Miami pada Desember 2026.

    Rangkaian pertemuan tersebut menunjukkan satu kenyataan penting: hubungan AS-China saat ini mungkin penuh kecurigaan, tetapi kedua pihak tampaknya sama-sama sadar bahwa komunikasi tingkat tinggi tetap diperlukan untuk mencegah rivalitas berubah menjadi krisis terbuka. Banyaknya summit bukan berarti hubungan keduanya membaik secara fundamental. Justru bisa dibaca sebaliknya: rivalitas mereka kini terlalu besar dan terlalu berbahaya untuk dibiarkan tanpa “pagar pengaman” diplomatik.

    Bagi dunia, terutama negara-negara menengah seperti Indonesia, perkembangan ini penting dicermati. Sebab dunia tampaknya tidak sedang bergerak menuju “Perang Dingin baru” dalam arti klasik, tetapi menuju era persaingan strategis jangka panjang yang tetap diwarnai interdependensi ekonomi.

    Dalam situasi seperti itu, tantangan bagi banyak negara bukan memilih salah satu pihak, melainkan menjaga ruang gerak strategisnya sendiri. Sebab baik Washington maupun Beijing kini semakin melihat hubungan internasional bukan lagi sekadar soal kerja sama, tetapi juga soal pengaruh, kemampuan bertahan, dan perimbangan kekuatan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Akhirnya rilis, Honda Vario 125 2026 tampil makin mewah dengan fitur kelas sultan yang menggoda

    By adm_imr17 Mei 20262 Views

    Trump: China ingin terus beli minyak dari Iran

    By adm_imr17 Mei 20261 Views

    Bertemu Xi Jinping, Trump minta China bantu redakan krisis Hormuz

    By adm_imr17 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Tugas Guru Non-ASN Berakhir Tahun 2026, Disdik Kota Batu Jawab Isu SE Mendikdasmen

    17 Mei 2026

    Kasus LCC Viral, Juri dan MC MPR Diadukan dan Diminta Dipecat

    17 Mei 2026

    Gubernur Jatim Khofifah Sambut 58 Bhikkhu Asing di Surabaya, Bawa Pesan Damai

    17 Mei 2026

    Apa Itu Free Float Saham? Pengertian, Dampak, dan Rumusnya

    17 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?