Menteri Luar Negeri Iran Menegaskan Ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran tidak percaya kepada pihak Amerika Serikat dan hanya akan melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan dalam proses diplomasi. Pernyataan ini disampaikan di tengah mandeknya proses negosiasi antara kedua negara terkait konflik kawasan Timur Tengah, isu nuklir Iran, hingga pengamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di New Delhi, India, pada Jumat (15/5/2026), Araghchi menjelaskan bahwa Iran hanya bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat apabila Washington menunjukkan keseriusan dalam proses diplomasi. Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya menghadiri pertemuan para menteri luar negeri BRICS.
Situasi di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi isu utama dalam konflik karena jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Araghchi menyebut kondisi saat ini sangat rumit. Ia menjelaskan bahwa semua kapal diizinkan melintasi selat tersebut dengan syarat berkoordinasi dengan angkatan laut Iran. Namun, pengecualian diterapkan kepada kapal-kapal yang negaranya sedang berperang dengan Teheran.
Melalui unggahannya di media sosial X, Araghchi juga menyampaikan komitmen Iran untuk menjaga keamanan di Selat Hormuz. “Iran akan selalu menjalankan tugas sejarahnya sebagai pelindung keamanan di Hormuz,” tulisnya.
Sebagai informasi, Iran telah menutup selat tersebut bagi sebagian besar pengiriman logistik setelah AS dan Israel memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari. Padahal, selat ini biasanya menangani sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas jalur laut di dunia.
Negosiasi yang Mandek
Hubungan antara AS dan Iran sempat menunjukkan harapan ketika keduanya mengumumkan gencatan senjata bulan lalu. Namun, hingga kini kedua negara masih kesulitan menyusun kesepakatan damai yang langgeng. Proses perundingan yang dimediasi oleh Pakistan bahkan ditangguhkan sejak pekan lalu.
Hal ini terjadi setelah Iran dan AS sama-sama menolak proposal terbaru yang diajukan oleh masing-masing pihak. Menurut Araghchi, pesan yang kontradiktif dari pihak AS telah memicu keraguan Iran mengenai niat Washington yang sebenarnya.
Meski demikian, ia menilai proses mediasi yang dilakukan Pakistan belum gagal, melainkan hanya sedang menghadapi kesulitan. Ketegangan ini diperparah oleh rekam jejak konflik dalam 13 bulan terakhir, di mana AS dan Israel tercatat telah membatalkan dua putaran perundingan sebelumnya dengan meluncurkan kampanye serangan udara ke wilayah Iran.
Araghchi menambahkan bahwa saat ini Iran berupaya mempertahankan gencatan senjata demi memberikan kesempatan pada jalur diplomasi. Namun, di sisi lain, Teheran juga menyatakan siap jika harus kembali bertempur.
Isu Utama yang Mengganjal Negosiasi
Isu utama yang mengganjal negosiasi antara Iran dan AS meliputi ambisi nuklir Iran serta kendali atas Selat Hormuz. Kedua negara terus berusaha mencari solusi yang dapat mengakhiri ketegangan.
Peluang Mediasi China
Beberapa jam sebelum Araghchi berbicara, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Trump mengklaim telah sepakat dalam pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Teheran harus segera membuka kembali Selat Hormuz.
Ketika ditanya apakah Teheran terbuka terhadap peluang mediasi oleh Beijing, Araghchi menyatakan bahwa Iran sangat mengapresiasi upaya dari negara mana pun yang memiliki kemampuan untuk membantu. “Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China,” kata Araqchi. “Kami adalah mitra strategis, dan kami tahu bahwa pihak China memiliki niat baik. Jadi, apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membantu diplomasi akan kami sambut baik,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Araghchi berharap agar proses diplomasi ini dapat segera membuahkan hasil yang positif bagi mobilitas global. “Kami berharap, dengan kemajuan negosiasi, kami akan mencapai kesimpulan yang baik sehingga Selat Hormuz dapat sepenuhnya aman dan kami dapat mempercepat normalisasi lalu lintas di selat tersebut,” pungkasnya.







