Pengalaman Nelayan Karimun yang Terombang-Ambing di Laut Selama Empat Hari
Tengku Iskandi, seorang nelayan asal Kabupaten Karimun, menceritakan pengalamannya yang tak terlupakan saat terombang-ambing di laut selama empat hari hingga akhirnya masuk ke perairan Malaysia. Ia mengungkapkan bagaimana perjalanan panjang dan berbahaya yang ia alami serta bagaimana akhirnya ia berhasil diselamatkan.
Awal Kronologi Kehilangan Kontak
Menurut Tengku Iskandi, kejadian itu dimulai pada tanggal 7 Mei 2026, saat ia bersama rekan-rekannya berangkat menjaring ikan sekitar pukul 17.00. Mereka tidak menyadari bahwa mesin kapal mereka sedang dalam kondisi rusak. Setelah sampai di lokasi penangkapan ikan, mereka mulai menarik jaring dan kembali ke tempat semula. Namun, ketika mencoba menghidupkan mesin kembali, mesin hanya hidup selama 15 menit sebelum mati lagi.
Kondisi ini membuat mereka kesulitan untuk kembali ke daratan. Mereka mencoba memperbaiki mesin, tetapi tidak berhasil. Akibatnya, mereka memutuskan untuk melemparkan jangkar, tetapi jangkar tersebut tidak dapat menempel dengan baik, sehingga kapal mereka terbawa arus.
Kekurangan Persediaan Makanan dan Minuman
Selama empat hari di laut, persediaan makanan dan minuman mereka habis. Tengku Iskandi mengatakan bahwa mereka hanya membawa bekal untuk dua kali makan. Setelah itu, air yang tersisa hanya cukup untuk satu kali masak nasi. Mereka berusaha memberi tahu orang-orang di sekitar melalui lambaian tangan, tetapi tidak ada yang bisa membantu.
Pada hari kedua, ketiga, dan keempat, mereka tidak memiliki makanan atau minuman sama sekali. Kondisi cuaca juga tidak mendukung; pada hari pertama, angin kencang dan hujan turun, membuat usaha perbaikan mesin semakin sulit. Mereka juga khawatir terjebak di jalur kapal tanker, yang bisa saja menabrak mereka.
Dibantu oleh Nelayan Malaysia
Akhirnya, setelah empat hari berada di laut, mereka sampai di perairan Malaysia. Di sana, sebuah kapal nelayan dari Malaysia melihat mereka dan memberikan bantuan berupa air, mi, dan roti. Tengku Iskandi sempat meminta nomor telepon abangnya agar informasi tentang keberadaan mereka bisa disampaikan.
Pada hari keempat, tepatnya jam 17.00, abangnya memanggil mereka dan memberi tahu bahwa penjemputan akan segera dilakukan. Setelah dijemput, mereka kembali ke Karimun, tetapi karena cuaca buruk, Tengku Iskandi harus kembali ke rumah lebih dulu, sementara abangnya menunggu penjemputan lanjutan.
Kesehatan dan Pemulihan
Setelah tiba di Karimun, Tengku Iskandi langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyarankan pemeriksaan lengkap, termasuk rontgen. Namun, ia memilih untuk pulang dan istirahat. Ia mengatakan bahwa tubuhnya lemah akibat kurang makan selama dua hari, dan penyakit magh kambuh. Ia diberi obat dan diperiksa kondisi tubuhnya, yang akhirnya dikatakan stabil.
Pengalaman Berharga
Meskipun kejadian ini sangat menegangkan, Tengku Iskandi mengatakan bahwa ia tetap ingin melaut. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih waspada dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum berlayar.
Ia telah melaut sejak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), sehingga pengalamannya di laut sudah sangat lama. Saat ini, ia berusia 35 tahun dan telah melaut selama sekitar 20 tahun.





