Kehidupan Seorang Ibu Rumah Tangga yang Berhasil Membangun Usaha Pempek Unik
Di balik keberhasilannya membangun usaha pempek khas Jambi, yaitu Dapoer Ibu Hayra, ada kisah perjuangan seorang ibu rumah tangga bernama Aprisia Susanti. Ia adalah pemilik dari usaha tersebut yang berlokasi di Gang Seruni Nomor 21, Kampung Baru, Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Dari nol, ia berhasil menciptakan inovasi baru dalam dunia pempek dengan menghadirkan rasa sambal yang unik dan menarik.
Awal Mula Perjalanan Bisnis
Bu Santi, demikian ia akrab disapa, awalnya hanya menjadi reseller pempek. Namun, melihat minat yang tinggi dan untung yang cukup besar, ia mulai berani untuk mencoba membuat pempek sendiri. “Saya mulai jadi reseller sejak 2012, lalu pada 2016 saya memutuskan untuk memproduksi sendiri,” ceritanya.
Pada masa itu, ia memanfaatkan media sosial sebagai sarana berjualan. “Dulu saya hanya reseller, tapi cukup sukses karena banyak yang memesan,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah anak-anaknya mulai bersekolah, Bu Santi memiliki waktu luang yang lebih banyak. Dari situ, ia memutuskan untuk mencoba membuat pempek sendiri. “Daripada hanya menunggu anak sekolah seperti ibu-ibu lain, saya lebih memilih berkarya di rumah,” katanya.
Pengembangan Usaha
Awalnya, pempek buatannya hanya dicicipi oleh keluarga. Suaminya menjadi orang pertama yang memberikan dukungan penuh. “Suami bilang ‘Enak Bu.’ Anak-anak juga suka. Akhirnya saya posting lagi, ternyata teman-teman bilang rasanya enak dan mulai banyak yang pesan,” kenangnya.
Pada tahun 2018, usahanya mulai berkembang setelah dikenalkan ke dunia UMKM melalui program pembinaan dari dinas. Dari sana, Dapoer Ibu Hayra mulai ditata lebih serius. Berbagai legalitas dan sertifikasi pun diurus satu per satu. “Alhamdulillah sekarang sudah lengkap. Ada halal, HAKI, NIB, BPOM, SKP, dan sekarang sedang mempersiapkan SNI supaya bisa lebih luas lagi pemasarannya,” jelasnya.
Tantangan dan Inovasi
Meski usahanya berkembang pesat, Bu Santi mengakui bahwa persaingan bisnis menjadi tantangan terbesar. “Sekarang hampir semua orang jual pempek,” katanya. Untuk tetap eksis di pasar, ia harus lebih sering berinovasi dan rajin memasarkan produknya lewat media sosial.
Selain itu, tantangan lain datang dari harga bahan baku yang sering melonjak drastis, terutama menjelang bulan Ramadan. “Kalau bulan puasa itu bukan naik harga lagi, tapi ganti harga,” candanya. Untuk mengantisipasi hal itu, Bu Santi memilih menyetok bahan baku sejak jauh hari sebelum Ramadan.
Kualitas dan Keberagaman Produk
Meskipun harga bahan baku naik, Bu Santi tetap mempertahankan kualitas rasa. Ia memilih tidak mengurangi komposisi bahan demi menjaga cita rasa yang sudah dipercaya pelanggan. “Kita konsisten rasa. Walaupun bahan mahal, tetap pakai kualitas yang sama,” tegasnya.
Kini, Pempek Dapoer Ibu Hayra dikenal sebagai spesialis pempek frozen siap saji 24 jam yang bisa dibeli kapan saja. Produk yang tersedia sangat beragam, mulai dari pempek lenjer, adaan, kulit, kapal selam, tekwan, model, hingga lenggang. Salah satu produk favorit pelanggan adalah paket pempek campur berisi empat varian, yakni kulit, lenjer, telur, dan adaan.
Distribusi dan Permintaan Luas
Permintaan pelanggan datang dari berbagai daerah. Produk Pempek Dapoer Ibu Hayra bahkan pernah dikirim ke Kalimantan, Kendari, Papua, Batam, Singapura, Malaysia, hingga Jerman sebagai oleh-oleh. “Alhamdulillah sudah sampai luar negeri juga,” katanya bangga.
Dalam sebulan, Bu Santi mengaku minimal menggunakan sekitar 50 kilogram ikan untuk produksi. Saat musim ramai seperti Ramadan dan menjelang Lebaran, kebutuhan produksinya bisa melonjak hingga 150 kilogram. Omzet usahanya pun cukup fantastis. Dalam kondisi normal, omzet bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan dan meningkat berkali-kali lipat saat musim lebaran.
Prinsip Berbisnis yang Sederhana
Meski telah berkembang besar, Bu Santi tetap mempertahankan prinsip sederhana dalam berbisnis, yaitu jujur dan menjaga kualitas. “Saya yakin kalau usaha pakai hati yang bersih dan jujur, insya Allah ada jalannya,” tuturnya.






