Evaluasi Menu Program Makan Bergizi Gratis di SDN 11 Telaga Biru
Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 11 Telaga Biru, Aten Radjak Kadir, meminta evaluasi terhadap menu program makan bergizi gratis (MBG) yang diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini dilakukan setelah sejumlah siswa mengalami mual, muntah, dan sakit perut setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Tuladenggi pada Kamis (21/05/2026).
Sebanyak 27 siswa Kelas 3 SDN 11 Telaga Biru mengalami gejala tersebut. Dari jumlah tersebut, 15 siswa sudah kembali masuk sekolah pada Jumat (22 Mei 2026). Pantauan wartawan Tribun Gorontalo pada hari yang sama menunjukkan suasana di sekolah mulai kembali normal. Sejumlah siswa terlihat belajar di kelas, sementara sebagian lainnya mengikuti latihan upacara bendera di halaman sekolah.
Aten berharap menu MBG ke depan lebih bervariasi dan kualitas kebersihan makanan semakin diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menilai variasi menu penting karena program MBG setiap hari dikonsumsi siswa di sekolah.
“Kalau kami dari sekolah ini selalu berharap dari pihak SPPG itu memberikan makanan terhadap siswa-siswa kami harus berganti-ganti. Jangan misalnya dalam beberapa hari berturut-turut menu sayurnya itu-itu saja karena anak-anak juga pasti merasa bosan,” ujar Aten saat diwawancarai di ruang kepala sekolah usai pertemuan dengan SPPG pada Jumat (22 Mei 2026).
Menurutnya, variasi menu penting diperhatikan karena program MBG setiap hari dikonsumsi siswa di sekolah. Ia berharap ke depan penyedia MBG bisa menghadirkan menu berbeda setiap hari sehingga kualitas makanan tetap terjaga.
“Jadi saya berharap bisa diganti-ganti setiap hari menunya. Kemudian juga kebersihannya lebih diperhatikan lagi agar tidak terjadi hal-hal seperti yang dialami anak-anak pada kemarin,” katanya.
Aten mengaku dirinya turut mencicipi makanan MBG sebelum dibagikan kepada para siswa. Menurutnya, setiap pengiriman makanan biasanya terdapat satu porsi tambahan untuk tester pihak sekolah.
“Kemarin itu saya yang tidak puasa, jadi saya yang mencicipi tester yang ada. Biasanya memang selalu dilebihkan satu omprengan untuk pihak sekolah,” ujarnya.
Saat itu, dirinya hanya memakan buah pepaya dan tidak mencicipi lauk lainnya seperti ikan, nasi maupun sayur kangkung.
“Saya makan buah pepayanya saja, sementara ikan sama sayurnya itu saya tidak sentuh. Jadi saya juga awalnya tidak menduga kalau anak-anak kemudian mengalami muntah dan sakit perut,” jelasnya.
Katanya, peristiwa kepanikan mulai terjadi sekitar pukul 09.30 Wita ketika sejumlah siswa tiba-tiba muntah usai menyantap makanan MBG. Awalnya pihak sekolah mengira siswa hanya tersedak sayur kangkung.
“Satu orang mulai muntah itu awalnya kami pikir mungkin tenggorokannya kesangkut daun kangkung. Saya sempat bilang coba minum air dulu, tapi ternyata setelah itu dia mulai mengeluh sakit perut,” katanya.
Tidak lama kemudian siswa lain mulai muntah secara beruntun hingga berlarian keluar kelas.
“Ada lagi yang lari keluar muntah, jadi beberapa orang itu muntah sampai di selasar. Di situ guru-guru sudah mulai panik karena jumlah siswa yang sakit terus bertambah,” terangnya.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah langsung menghubungi puskesmas dan meminta guru membawa siswa untuk mendapat penanganan medis. Menurut Aten, awalnya ada delapan siswa yang dibawa ke puskesmas.
Namun tidak lama kemudian jumlah siswa yang mengalami keluhan kembali bertambah.
“Setelah delapan orang dibawa ke puskesmas, tiba-tiba nyusul lagi empat orang. Selang satu jam kemudian ada lagi yang sakit perut dan rasa mual, jadi kami terus bolak-balik membawa anak-anak ke puskesmas,” katanya.
Ia mengaku situasi saat itu membuat seluruh guru panik karena fokus utama mereka adalah menyelamatkan siswa.
“Guru-guru sudah buru-buru cari penyelamatan, ada yang ambil perlengkapan di UKS dan ada yang bantu menenangkan anak-anak. Karena yang muntah dan sakit itu bukan cuma satu orang,” jelasnya.

Meski dugaan sementara mengarah pada buah pepaya dalam menu MBG, hingga kini belum ada hasil resmi terkait penyebab pasti para siswa mengalami mual dan muntah. Aten sendiri mengaku tidak mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi pepaya tersebut.
“Kalau saya makan pepaya aman. Jadi saya juga tidak menduga itu dari buah pepaya, mungkin saja karena kondisi buah yang saya makan masih segar,” ujarnya.
Ia menduga kondisi pepaya yang tersisa di kelas berbeda dengan yang sempat dicicipinya.
“Mungkin saja karena kemarin itu sisa-sisa makanan yang dikumpulkan di wadah kelas tiga kebanyakan buah pepaya dan memang baunya juga dominan pepaya,” katanya.
Meski demikian, Aten menegaskan pihak sekolah belum berencana menolak program MBG maupun mengganti penyedia SPPG. Menurutnya, banyak siswa masih merasakan manfaat dari program tersebut.
“Saya pribadi selaku pimpinan sekolah merasa sayang kepada anak didik saya, tapi di lain pihak sebagian besar siswa memang menggunakan manfaat dari program pemerintah ini dengan baik,” ujarnya.
Ia juga memastikan pihak sekolah tidak pernah memaksa siswa untuk mengonsumsi MBG.
“Kami selalu menjaga jangan sampai ada pemaksaan dari guru ataupun dari saya selaku pimpinan sekolah. Kalau ada siswa yang memang tidak mau makan, kami tidak pernah memaksa,” katanya.
Selain itu, Aten menerangkan beberapa ia juga sempat menolak menu MBG. Kadang kala saat ini juga pengiriman terlambat sehingga banyak yang ditolak. Namun kemarin ia pun menyesal tidak sempat menolak menu tersebut.
“Kemarin itu memang saya rencana mau komplen kenapa ada kangkung tapi sebelum komplen sudah lebih dulu ada yang muntah-muntah,” bebernya.
Dugaan sementara, para siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi salah satu menu MBG, yakni buah pepaya. Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi terkait hasil pemeriksaan penyebab pasti peristiwa tersebut.
Pihak SDN 11 Telaga Biru, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar pertemuan tertutup di sekolah. Pertemuan itu membahas kronologi kejadian hingga langkah evaluasi ke depan. Aktivitas belajar mengajar di sekolah tetap berjalan seperti biasa.






