Kebiasaan Unik Masyarakat Jawa Tengah dalam Menyebut Sepeda Motor
Di beberapa wilayah di Jawa Tengah, terdapat kebiasaan unik yang masih sering ditemui hingga kini. Banyak masyarakat menyebut sepeda motor dengan istilah “Honda”, meskipun kendaraan yang digunakan bukanlah merek Honda. Kalimat seperti “Aku arep nyilih Hondane” (mau pinjam sepeda motornya), “Honda-ne diparkir nang ngarep” (sepeda motornya diparkir di depan), atau “Tuku Honda anyar” (beli sepeda motor baru) sangat umum terdengar dalam percakapan sehari-hari.
Menariknya, istilah ini tidak hanya digunakan untuk merek Honda, tetapi juga menjadi sebutan umum untuk sepeda motor secara keseluruhan. Fenomena ini terjadi karena pengaruh besar merek Honda di Indonesia selama bertahun-tahun. Sama seperti masyarakat yang menyebut air mineral dengan nama “Aqua” atau pasta gigi dengan nama “Pepsodent”, nama Honda perlahan berubah menjadi sebutan umum untuk kendaraan roda dua.
Dominasi Honda pada Era 1980-an hingga 1990-an
Pada era 1980-an hingga akhir 1990-an, Honda memang menjadi salah satu merek sepeda motor paling dominan di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah. Saat itu, kepemilikan sepeda motor mulai meningkat seiring berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat. Di banyak daerah, motor Honda bahkan menjadi simbol kendaraan keluarga yang dianggap paling awet dan mudah dirawat.
Beberapa model legendaris seperti Honda Astrea Star, Astrea Prima, Astrea Grand, Supra, hingga CB series menjadi sangat populer pada masa itu. Motor-motor tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bekerja, berdagang, pergi ke sawah, hingga bepergian antarkota. Pada era 1990-an, motor Honda terkenal karena konsumsi bahan bakarnya yang irit dan mesin yang tahan lama.
Bengkel umum juga relatif mudah menangani motor Honda karena konstruksinya sederhana dan suku cadangnya mudah ditemukan. Faktor inilah yang membuat Honda cepat diterima masyarakat pedesaan maupun perkotaan.
Pengalaman Masyarakat Jawa Tengah
Kerdi (59) warga Semarang Barat yang memiliki beberapa sepeda motor lawas, mengatakan bahwa pada era 1990-an penjualan motor Honda memang sangat mendominasi dibanding merek lain. “Dulu orang beli motor pertimbangannya sederhana, yang penting awet, irit, dan gampang servis. Honda paling dicari waktu itu, terutama Astrea Grand sama Supra,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat saat itu bahkan sering menyebut semua motor dengan istilah Honda karena populasi motor Honda jauh lebih banyak di jalan. “Kalau ada orang lewat naik motor, sering langsung disebut ‘ono wong numpak Honda’, padahal belum tentu mereknya Honda,” katanya sambil tertawa.
Cerita serupa disampaikan Fajar (63) warga Kendal, yang mengalami langsung era kejayaan motor bebek Honda di tahun 1990-an. Ia mengatakan pada masa tersebut motor Honda menjadi kendaraan impian banyak keluarga. “Dulu kalau sudah punya Astrea Grand itu rasanya bangga sekali. Dipakai ke pasar, antar anak sekolah, semuanya kuat. Motor Honda itu identik sama kendaraan keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, populernya Honda pada masa itu juga dipengaruhi kondisi jalan di beberapa daerah yang belum semuanya bagus. Masyarakat membutuhkan kendaraan yang tangguh dan mudah diperbaiki jika rusak. “Jalan dulu masih banyak batu dan belum mulus seperti sekarang. Honda terkenal bandel dan jarang rewel,” tambahnya.
Penjelasan dari Pengamat Otomotif
Adapun Djohan Prima, pengamat otomotif asal Semarang, menilai kebiasaan menyebut motor dengan nama Honda terjadi karena faktor sosial dan kedekatan emosional masyarakat terhadap merek tertentu. “Dulu populasi motor Honda memang sangat dominan di Jawa Tengah. Karena terlalu sering dilihat dan digunakan, akhirnya nama Honda berubah menjadi istilah umum untuk motor,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan itu juga dipengaruhi budaya percakapan masyarakat Jawa yang cenderung menyederhanakan penyebutan suatu barang berdasarkan merek paling populer. Selain dominasi produk, jaringan dealer dan bengkel Honda yang tersebar luas turut memperkuat pengaruh tersebut.
Kehadiran Astra Motor Jateng hingga kota kecil dan pedesaan membuat masyarakat semakin akrab dengan nama Honda dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena kedekatan masyarakat Jawa Tengah dengan Honda juga tercermin dalam jargon yang digunakan Astra Motor Jateng, yakni “Honda Motore Wong Jawa Tengah”.
“Jargon tersebut menggambarkan bagaimana Honda telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, mulai dari kendaraan bekerja, berdagang, hingga kebutuhan mobilitas keluarga sehari-hari,” terangnya.






