Tantangan dan Peluang Sektor Otomotif Indonesia
Sektor otomotif di Indonesia menghadapi berbagai tantangan pada tahun ini, terutama setelah pemerintah menghentikan pemberian insentif bagi kendaraan listrik. Meskipun demikian, sektor ini tetap memiliki harapan untuk mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa peningkatan penjualan kendaraan listrik selama beberapa tahun terakhir sebagian besar dipengaruhi oleh insentif yang diberikan pemerintah. Ia menilai bahwa segmen kendaraan listrik mulai marak sejak 2019 dan tumbuh pesat saat kelas menengah mengalami penurunan pendapatan. “Tahun ini menjadi ajang pembuktian apakah penjualan mobil listrik akan terus berkelanjutan setelah pengurangan insentif pemerintah,” ujarnya dalam sebuah diskusi podcast.
Dalam obrolan tersebut, Joshua Pardede, Division Head Economic Research Permata Bank, menjelaskan kondisi sektor otomotif nasional pada 2025. Penjualan mobil yang biasanya mencapai 1 juta unit per tahun, terkontraksi 7% menjadi 803.000 unit. Segmen mobil penumpang atau passenger car tercatat anjlok 8,9%, sementara kendaraan niaga turun 1%.
Menurut Joshua, penurunan daya beli mendorong konsumen menahan belanja sekaligus memicu fenomena down trading maupun penundaan belanja otomotif. Indikasinya terlihat dari penjualan mobil baru yang menurun, sementara penjualan mobil bekas justru meningkat.
Meski demikian, jika merujuk pada kinerja beberapa bulan terakhir, penjualan mobil mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pendorong utamanya adalah perbaikan penjualan mobil listrik yang secara keseluruhan tahun lalu melonjak mendekati 140%. Lonjakan tersebut mengerek proporsi kendaraan ramah lingkungan dalam total penjualan otomotif menjadi sekitar 13%.
Pangsa mobil listrik terhadap total penjualan mobil terus meningkat dari waktu ke waktu, dengan pertumbuhan paling tajam pada kendaraan berharga Rp400 juta hingga Rp500 juta. “Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pembelinya adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Artinya daya belinya sebenarnya cukup resilien. Lalu di sisi lainnya, di tahun lalu cukup banyak mobil listrik hadir dengan harga yang terjangkau,” beber Joshua.
Dia melanjutkan, rata-rata kendaraan listrik dijual di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta, sehingga memberikan tawaran menarik bagi konsumen sekaligus menjadi tantangan bagi kendaraan konvensional. Data terakhir menunjukkan segmen low cost green car (LCGC) bahkan mengalami penurunan cukup dalam.
Salah satu penyebabnya adalah pemberian insentif bagi kendaraan listrik. Pada tahun lalu, pemerintah mengguyur insentif yang cukup signifikan sehingga penjualan melonjak tajam. Namun, konfigurasi pasar tahun ini berpotensi berubah karena pemerintah sudah mengakhiri insentif untuk kendaraan listrik.
Sensitivitas Harga
Kukuh menilai lonjakan penjualan kendaraan listrik selama ini semata-mata didorong oleh konsumen yang mengejar insentif. Karena itu, tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen kendaraan listrik.
“Ada dua sisi, konsumen masih mau beli atau kemudian produsen mau mempertahankan harga yang sudah pernah diberlakukan di tahun lalu,” ucapnya. Menurutnya, jika terjadi perubahan harga, konsumen biasanya cenderung menahan belanja. Sensitivitas harga ini terbukti pada masa pandemi, di mana penjualan mobil sempat anjlok hingga hanya 530.000 unit per tahun.
Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena dapat memicu pengurangan tenaga kerja dan penutupan pabrik yang berimbas pada efek domino pada pemasok komponen. Hal inilah yang tidak diinginkan pemerintah, sehingga kebijakan insentif diluncurkan agar harga mobil tetap terjangkau dan penjualan kembali bergeliat.
Kukuh melanjutkan, penggunaan kendaraan listrik belum benar-benar mengakar dalam benak masyarakat. Rata-rata pemilik kendaraan listrik masih memiliki kendaraan konvensional lain yang digunakan saat bepergian ke luar kota, seperti mudik. Bahkan, di Jakarta, kepemilikan kendaraan listrik kerap dimanfaatkan untuk mengakali aturan ganjil-genap yang diterapkan pemerintah. Tantangan lain adalah kecepatan pengisian daya yang masih jauh dari kepraktisan pengisian bahan bakar konvensional.
Alternatif: Kendaraan Hybrid
Kukuh berpendapat, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan infrastruktur pendukung kendaraan listrik yang belum masif di luar Jawa membuat kendaraan jenis hybrid lebih cocok menjadi alternatif kendaraan ramah lingkungan.
Dia menjelaskan, sejumlah penelitian perguruan tinggi telah membuktikan kontribusi positif kendaraan hybrid pada pengurangan emisi dan efisiensi penggunaan bahan bakar. Hybrid juga memberikan alternatif menarik karena pengguna tidak perlu repot memikirkan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), jarak jangkauannya mumpuni, dan penjualannya relatif stabil.
Belakangan, lanjutnya, muncul teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), yaitu kendaraan dengan kombinasi bahan bakar maksimal dan pengisian energi listrik secara optimal yang mampu menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali tanpa harus melakukan pengisian bahan bakar atau pengisian daya.
Pada kesempatan tersebut, Kukuh juga belum yakin bahwa perbaikan angka penjualan kendaraan bermotor pada kuartal-kuartal akhir 2025 menjadi tanda perbaikan daya beli masyarakat. Berdasarkan data historis Gaikindo, rebound penjualan kendaraan baru terjadi jika pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus di atas 6%. Bila pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5%, sektor otomotif akan stagnan karena kondisi ini sudah berlangsung sejak 2013, dengan angka penjualan hanya berkisar 1 jutaan unit. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, total penjualan tercatat di bawah 1 juta unit.
“Kita tentunya berharap gerakannya ke arah positif ya, namun kita tidak bisa sendirian dan perlu dicatat ya, kalau kita memang mau mempertahankan, kalau kita sedang melangkah menuju negara yang lebih maju yang basisnya tentunya adalah manufaktur,” pungkasnya.







