Kehidupan Mama Yasinta Moiwend yang Berubah Setelah Muncul di Film Pesta Babi
Mama Yasinta Moiwend, seorang aktivis asal Merauke, Papua, kembali menjadi perbincangan setelah mengungkapkan pengakuan mengejutkan terkait keterlibatannya dalam film Pesta Babi. Film ini sempat viral dan menjadi sorotan karena isu-isu lingkungan serta dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat di Papua Selatan. Namun, kini Mama Sinta merasa dirinya dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
Pengakuan Mengejutkan dari Mama Sinta
Dalam video wawancara terbaru, Mama Sinta mengaku bahwa ia tidak tahu sama sekali bahwa pernyataannya akan digunakan dalam film tersebut. Bahkan, ia menyebut bahwa dirinya tidak diberi tahu bahwa ia akan menjadi tokoh utama dalam film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypris Dale.
“Saya kecewa tentang Pesta Babi, itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya, saya kaget waktu mereka putar, kok saya tampil ke depan, apakah saya boneka atau ukiran Asmat. Itu sama saja mereka manfaatkan saya,” ujar Mama Sinta dengan nada kecewa.
Ia juga menjelaskan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Makassar, dan Jayapura untuk berdiskusi. Namun, tidak ada imbalan apa pun yang ia dapatkan selain kelelahan.
Perubahan Hidup dan Keputusan Tegas
Setelah mengungkapkan rasa kecewanya, Mama Sinta mengambil keputusan tegas. Ia menyatakan bahwa ia sudah tidak lagi bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Merauke. Alasannya adalah karena ia ingin mencari pekerjaan di perusahaan PSN, dengan harapan rumahnya bisa diperbaiki dan anak-anaknya mendapatkan kesempatan kerja.
“Ini dengan Mama Yasinta Moiwend yang sudah pernah viral di mana-mana. Jadi sekarang saya tidak bergabung lagi dengan mereka LBH, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan. Cari pekerjaan dengan rumah saya, saya ingin mau direhab karena rumah saya sudah tidak layak lagi. Dan ketiga anak saya, dia butuh pekerjaan juga. Itu yang saya harapkan ke depan,” jelas Mama Sinta.
Ia juga mengungkap bahwa awalnya ia diundang oleh seorang pria bernama Aris. Namun, ia merasa bahwa ajakan tersebut membuatnya terjebak dalam situasi yang tidak ia inginkan.
Penolakan Terhadap Film dan Dukungan pada PSN
Meski awalnya menolak film Pesta Babi, kini Mama Sinta justru menyatakan dukungan terhadap proyek PSN. Ia berharap pemerintah dapat membantu masyarakat melalui perusahaan yang ada di wilayah Wogikel.
“Untuk pembangunan kami ke depan, apalagi kamu yang orang Papua sudah usia, kami banyak kekurangan yang pertama itu penginapan kami. Kalau bisa pemerintah melihat kita. Pemerintah bisa bantu kita lewat perusahaan yang ada di Wogikel sekarang, kami dukung. Harapan kami lewat pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung perusahaan boleh lanjut sampai kami dapat hasil yang perusahaan telah berikan,” ujar Mama Sinta.
Pembelaan Dandhy Dwi Laksono
Atas pernyataan Mama Sinta yang belakangan ini ramai dibicarakan, sutradara film Pesta Babi yaitu Dandhy Dwi Laksono memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa publik tidak sepenuhnya tahu kondisi Mama Sinta saat ini.
“Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana,” tulis Dandhy dalam sebuah postingan di X.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak menghujat Mama Sinta, meskipun kini ia berada di pihak pemerintah. Dandhy menilai bahwa setiap orang berhak membuat pilihan hidup sesuai keinginan mereka sendiri.
Kesimpulan
Perjalanan Mama Yasinta Moiwend dari aktivis hingga menjadi tokoh dalam film Pesta Babi menunjukkan betapa kompleksnya situasi sosial dan politik di Papua. Meski awalnya merasa dimanfaatkan, kini ia memilih untuk bergerak menuju masa depan yang lebih stabil. Bagaimanapun, perubahan yang ia lakukan menunjukkan bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.







