Kehidupan di Dbroo Kitchen: Tempat Belajar dan Berkembang bagi Anak-anak dan Mahasiswa
Di tengah suasana yang biasanya penuh dengan aktivitas produksi camilan, pagi itu Dbroo Kitchen terasa berbeda. Tawa anak-anak terdengar bersahutan sambil menggulung adonan bekatul egg roll yang baru diberikan. Dengan celemek kecil yang menggantung di leher, mereka sibuk membuat adonan untuk kemudian menuang topping hingga memperhatikan instruksi dengan wajah antusias.
“Ini benar tidak bu seperti ini?” tanya seorang anak sembari menunjukkan adonan.
“Kalau begini gimana?” tanya seorang anak lainnya di bagian ujung barisan.
Mereka adalah anak-anak TK yang tengah belajar menjadi “karyawan magang” dalam sesi cooking class Dbroo Kitchen. Sang pemilik UMKM, Yuliani Setiawati, seketika menghampiri meja anak-anak yang mulai kesulitan menggulung adonan egg roll. Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai bank itu tampak sabar mendampingi peserta satu per satu.
Awal Mula Kegiatan Cooking Class
Yulia mengaku kegiatan cooking class awalnya hanya selingan. Namun lama-lama justru menjadi aktivitas yang paling ia tunggu. Dari situ, ia mulai membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar langsung di tempat produksinya yang beralamat di Karangasem, Laweyan, Kota Solo. Tak hanya anak TK, Dbroo Kitchen juga kerap didatangi pelajar dan mahasiswa untuk magang, penelitian, maupun mengerjakan tugas kuliah.
Sejak 2022, mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Dian Nuswantoro hingga Universitas Veteran Bangun Nusantara datang silih berganti ke tempat usahanya. Di sela produksi harian, Yulia tetap harus membagi waktu mendampingi peserta cooking class maupun mahasiswa magang.
“Saya cuma bisa membagi pengalaman dan sedikit ilmu yang saya punya. Semoga bisa membantu adik-adik mengerjakan tugas,” katanya.
Pendekatan Santai dan Kepercayaan
Saat mendampingi mahasiswa program Wirausaha Merdeka atau WMK, para peserta sudah datang membawa prototype produk masing-masing. Yulia membantu mereka mulai dari membeli bahan baku, proses produksi, sampai pemasaran. Menurutnya, pendekatan yang santai membuat mahasiswa maupun anak-anak lebih cepat akrab.
“Anak-anak sekarang pintar-pintar. Dikasih tahu sedikit langsung kerja. Lebih ke pendekapan sebagai teman supaya tidak canggung,” ujarnya.
Dari kegiatan itu, usahanya justru makin dikenal dari mulut ke mulut. Beberapa mahasiswa bahkan memesan snack untuk kebutuhan kampus.
Perjalanan Menuju Kesuksesan
Perjalanan Yulia membangun usaha bermula setelah ia berhenti bekerja pada 2019. Awalnya ia berjualan donat rumahan yang dititipkan di angkringan dan lapak susu segar. Persaingan usaha membuatnya belajar soal kualitas produk dan kemasan. Hingga akhirnya pada 2020, ia mulai mengenal potensi bekatul setelah bergabung dengan komunitas UMKM dan Rumah BUMN Solo.
Dari bahan yang kerap dianggap limbah penggilingan padi itu, Yulia mencoba membuat brownies, donat, hingga egg roll. Dari situlah lahir produk andalannya, Bekroll atau bekatul egg roll. Tak disangka, camilan berbahan bekatul tersebut justru menjadi produk yang paling banyak menarik perhatian.
Pengembangan Produk dan Harapan Masa Depan
Pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan menjadi bekal saat mengikuti proses kurasi UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR. Yulia mengaku sempat tidak percaya diri karena peserta yang mendaftar berasal dari berbagai daerah dengan produk unggulan masing-masing. Namun kesempatan itu akhirnya datang. Bahkan, Yulia sudah dua kali mengikuti program expo UMKM yang mempertemukannya dengan calon pembeli dan jaringan pasar lebih luas.
Meski begitu, Yulia sadar perjalanan usaha masih panjang. Keinginan menembus pasar ekspor dalam skala besar hingga kini masih terkendala proses perizinan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), standar keamanan pangan yang dibutuhkan untuk memperluas pasar internasional.
Menurut Yulia, proses pengurusan sertifikasi tersebut membutuhkan biaya cukup besar bagi pelaku usaha kecil. Namun ia memilih tetap melangkah pelan-pelan sambil memperkuat kualitas usaha.
Bagi Yulia, langkah kecil itu sudah menjadi kemajuan besar. Ia ingin menunjukkan bahwa bahan pangan sederhana yang sering dipandang sebelah mata tetap bisa memiliki nilai lebih jika diolah secara serius.
Peran Rumah BUMN dalam Mendukung UMKM
Rumah BUMN Solo memberikan dukungan berupa pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman. Program yang ditawarkan mencakup berbagai pelatihan tematik, termasuk pelatihan berbasis momen seperti workshop takjil saat bulan Ramadan.
Contoh produk yang dibuat dalam workshop tersebut antara lain es kuwut, mochi, dan kue bawang dengan modal kurang dari Rp50.000. Seluruh program pelatihan di Rumah BUMN Solo disediakan secara gratis bagi para peserta.
Hingga kini terdapat sekitar 85.157 UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya. Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19.
Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru. Kriteria utama untuk menjadi mitra adalah memiliki semangat wirausaha, baik yang sudah punya usaha maupun yang baru ingin memulai.
Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM. Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring. Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi.
“Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambah Condro.







