Kehidupan yang Terus Diterpa Banjir Rob di Desa Ambulu
Tidak ada lagi malam-malam tenang bagi warga pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Selama tiga tahun terakhir, banjir rob yang datang hampir setiap hari tidak hanya merendam rumah dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga mulai memengaruhi kondisi psikologis warga. Mereka hidup dalam ancaman air laut tanpa kepastian kapan bencana ini akan berakhir.
Kuwu Ambulu, Sunaji, menyebutkan bahwa penyakit terbesar yang dirasakan masyarakat saat ini bukan lagi gatal atau penyakit kulit akibat genangan air laut, melainkan tekanan mental karena hidup dalam kecemasan. “Biasanya sih gatal. Tapi gatal itu, mau gatal mau korengan, itu sebetulnya penyakit yang kita anggap kecil. Tapi penyakit yang terbesar itu penyakit mental,” ujar Sunaji saat diwawancarai.
Menurut dia, warga kini hidup dalam ketakutan setiap hari karena banjir rob datang tanpa bisa diprediksi seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka harus selalu bersiap mengangkat barang-barang rumah tangga ketika air laut mulai masuk ke permukiman mereka. “Karena mereka begitu stresnya U, ‘Oh, nanti jam sekian ada banjir rob.’ Mereka mesti mengangkat barang. Tidurnya pun tidak nyaman,” ucapnya.
Sunaji menuturkan, kondisi mental masyarakat yang terus tertekan juga mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan anak-anak di wilayah pesisir. Apalagi, banjir rob kerap datang pada jam-jam masyarakat beraktivitas pada malam hari. “Nah, ini yang menarik dan harus jadi perhatian bersama. Air rob itu datangnya persis mulai mengalir antara jam 5 sampai jam 10 malam. Puncaknya biasanya jam 8 malam,” jelas dia.
Menurut dia, waktu tersebut merupakan jam-jam penting ketika anak-anak belajar dan mengaji. Namun suasana itu kini berubah sejak rob terus datang hampir setiap hari. “Nah, puncak itulah kan puncaknya orang mengaji, orang belajar, orang hilir mudik. Ketika itu terjadi banjir, aktivitas pastinya menurun dan mental semangat untuk mengaji dan belajar itu pasti terganggu,” katanya.
Ia menilai, kondisi Desa Ambulu kini sudah masuk kategori darurat karena banjir rob tak lagi menjadi bencana musiman, melainkan ancaman rutin yang menghantui ribuan warga pesisir. Bahkan berdasarkan data pemerintah desa, sekitar 60 persen kawasan permukiman di Desa Ambulu kini terancam tenggelam. Tak sedikit rumah warga yang rusak dan kosong ditinggalkan pemiliknya akibat tak sanggup terus hidup di tengah genangan rob.
“Ada yang mengungsi, ada yang mungkin bosan, ada yang ditinggalkan, ada yang pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk mencari nafkah,” ujarnya. Sunaji mengaku sedih melihat kondisi desanya yang semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah desa sebenarnya sudah berupaya melakukan berbagai langkah penanganan. Salah satunya melalui pembangunan tanggul penahan tanah di pinggir sungai menggunakan Dana Desa. Selain itu, bantuan aspirasi DPR RI pada tahun 2024 juga telah digunakan untuk membangun tanggul sungai sepanjang sekitar 120 meter di Dusun 4. Namun panjang tanggul tersebut dinilai masih jauh dari cukup dibanding panjang sungai yang mencapai sekitar dua kilometer.
“Belum maksimal, karena panjang sungai itu kan dari ujung ke ujung sekitar dua kilometer, sementara yang ditangani baru 120 meter,” katanya. Sunaji juga mengungkapkan, banyak warga kini terpaksa terus meninggikan rumah mereka demi bertahan dari rob. Bahkan ada rumah warga yang sudah tiga kali ditinggikan hingga jarak lantai dengan atap hanya tersisa sekitar satu setengah meter.
“Jadi kalau dia masuk rumah itu harus membungkuk,” ujarnya. Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi bukti betapa berat kehidupan masyarakat pesisir yang setiap hari harus berdamai dengan banjir rob.
Sementara itu, pemerintah desa bersama masyarakat terus menyampaikan tuntutan agar pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Selain itu, warga juga meminta adanya penetapan status tanggap darurat, normalisasi irigasi pesisir, hingga pembebasan pajak tambak yang terbengkalai akibat rob. Sebab bagi masyarakat Ambulu, solusi sementara dinilai sudah tidak lagi cukup untuk menghadapi banjir rob yang terus datang dan perlahan mengikis kehidupan sosial maupun ekonomi warga pesisir.







