Perajin Tahu di Banyuwangi Mengeluhkan Kenaikan Harga Kedelai Impor
Perajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur, menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga kedelai impor yang terus meningkat. Hal ini memengaruhi keuntungan usaha mereka, sehingga membuat mereka khawatir akan kesulitan menjaga kelangsungan bisnis.
Dampak Kenaikan Harga Kedelai
Harga kedelai dalam lima bulan terakhir telah naik sebesar Rp2 ribu per kg. Pada Desember 2025, harga kedelai mencapai Rp8.500 per kg, namun saat ini sudah mencapai Rp10.500 per kg. Kenaikan ini berdampak signifikan pada biaya produksi, terutama bagi para perajin tahu yang menggunakan bahan baku impor.
Nurul Hakim, salah satu perajin tahu di Kelurahan Penantigan, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan bahwa kenaikan harga kedelai sangat mengganggu usahanya. Ia menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir, ia dan para perajin lainnya terus berjuang untuk tetap bertahan di tengah tekanan harga bahan baku yang meningkat.
Proses Produksi Tahu
Hakim menjalankan usaha tahu sejak tahun 2005, yang awalnya dimulai oleh orang tuanya sejak tahun 1979. Di dapur samping rumahnya yang diberi nama House of Tofu, ia melakukan seluruh proses pembuatan tahu, mulai dari penggilingan kedelai hingga pemotongan tahu.
Di dapur tersebut, terdapat berbagai alat modern yang digunakan dalam proses produksi. Namun, suasana di dalamnya tidak terlihat rapi seperti dapur-dapur biasa. Setiap hari, kecuali Jumat dan Minggu, aktivitas pembuatan tahu dilakukan setiap pagi.
Seorang pekerja membantu Hakim dalam proses penggilingan kedelai. Sebanyak 1,25 kuintal kedelai digiling hingga halus, lalu dimasukkan ke dalam panci besar yang dipanaskan dengan tungku kayu. Sementara itu, seorang pekerja lainnya memisahkan ampas dan sari pati kedelai menggunakan kain besar. Ampas digunakan sebagai pakan ternak atau bahan tempe gembos, sedangkan sari pati dipadatkan dalam cetakan untuk dibuat menjadi tahu.
Tahu yang sudah padat memiliki bentuk kotak besar, sekitar 60 cm x 60 cm. Hakim kemudian memotong tahu-tahu putih sesuai ukuran yang biasa ia jual. Saat ini, tahu putih dijual seharga Rp4 ribu per 10 biji, sedangkan tahu goreng dijual lebih mahal, yaitu Rp5.500 per 10 biji.
Kesulitan dalam Menjaga Harga Jual
Hakim mengatakan bahwa meskipun harga bahan baku naik, ia tidak bisa langsung menaikkan harga jual. “Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami kenaikan harga kedelai yang drastis pada tahun 2019, ketika harga kedelai naik dua kali lipat dari Rp7 ribu per kg menjadi Rp14 ribu per kg. Saat itu, ia harus menaikkan harga jual sekitar 60 persen.
Namun, saat ini, meskipun harga kedelai mencapai Rp10.500 per kg, keuntungan masih ada, meskipun semakin tipis. Selain itu, biaya listrik juga meningkat, yang memengaruhi pengeluaran usaha. Biaya listrik yang biasanya sebesar Rp1,2 juta per bulan kini meningkat menjadi Rp1,7 juta.
Kedelai Lokal vs. Kedelai Impor
Indonesia mengimpor antara 2,2 juta ton hingga 2,6 juta ton kedelai setiap tahunnya, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Meskipun Indonesia juga memproduksi kedelai lokal, jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri.
Hakim pernah mencoba menggunakan kedelai lokal dari Jember, Banyuwangi, dan Bali. Ia mengatakan bahwa rasanya lebih enak dan gurih, namun harga kedelai lokal juga mengikuti harga impor. Sayangnya, ukuran kedelai lokal yang kecil membuat perajin tempe lebih boros dalam penggunaannya.
Harapan Perajin Tahu
Hakim berharap agar harga kedelai bisa terkendali dan tidak terus meroket. Ia khawatir usahanya akan terdampak buruk jika biaya produksi melebihi pendapatan. “Apalagi sekarang listrik juga naik. Sehingga pengeluaran juga bertambah,” katanya.
Dengan situasi ini, para perajin tahu seperti Hakim terus berusaha mencari solusi agar dapat tetap bertahan di tengah tekanan harga bahan baku yang tinggi. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan dukungan dan kebijakan yang lebih baik untuk mendukung sektor UMKM.







