Kritik terhadap Strategi Komunikasi Pemerintah dalam Penyampaian Informasi Bantuan Hewan Kurban
Pengamat politik Hendri Satrio, atau yang akrab disapa Hensa, memberikan kritik terhadap strategi komunikasi pemerintah dalam menyampaikan informasi mengenai bantuan hewan kurban Presiden pada perayaan Idul Adha. Menurutnya, langkah yang diambil melalui konferensi pers justru tidak tepat dan berpotensi memicu polemik yang tidak perlu.
Hensa menilai bahwa informasi tersebut seharusnya disampaikan melalui siaran pers agar tidak terkesan terlalu besar dan memancing perhatian publik secara berlebihan. Ia menyoroti bahwa penggunaan forum konferensi pers untuk menyampaikan jumlah hewan kurban Presiden dinilai tidak memiliki urgensi tinggi dan justru menciptakan framing bahwa isu tersebut sangat penting.
“Ini problem dasar, pejabat negara nggak bisa bedain mana yang layak press conference, mana yang cukup siaran pers. Hal-hal ringan dibikin seolah-olah penting, akhirnya jadi bola liar ke mana-mana dan memancing polemik yang sebenarnya nggak perlu,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan lemahnya sensitivitas komunikasi di lingkaran pemerintahan, yang seharusnya memahami dampak dari setiap format penyampaian informasi. Hensa bahkan mempertanyakan apakah Presiden mengetahui detail strategi komunikasi tersebut, mengingat dampaknya justru bisa merugikan citra Presiden sendiri.
“Kalau sampai Presiden tahu, itu justru makin runyam. Niatnya baik, tapi cara menyampaikannya jadi terkesan pamer. Dalam perspektif tertentu, itu bisa dianggap riya. Akhirnya yang kena siapa? Presidennya juga, seolah-olah berbuat baik tapi dipersepsikan keliru,” katanya.
Selain soal kurban, Hensa juga mengkritik konferensi pers yang membahas ketidakhadiran Presiden dalam Salat Idul Adha di Jakarta karena agenda ke luar negeri. Menurutnya, hal tersebut kembali menunjukkan ketidaktepatan dalam menentukan bobot informasi yang layak disampaikan melalui konferensi pers.
Ia menilai langkah tersebut tidak strategis dan justru membuka ruang polemik yang tidak relevan dengan kepentingan publik.
“Hal seperti Presiden tidak Salat Idul Adha di Jakarta karena ke Perancis itu cukup disampaikan lewat siaran pers, selesai. Nggak perlu panggung besar. Ketika dibikin press conference, seolah-olah ini isu besar, padahal bukan. Ujungnya apa? Polemik lagi, isu nggak penting jadi ramai,” ujarnya.
Hensa menambahkan, persoalan ini bukan pada substansi kegiatan Presiden, melainkan cara penyampaiannya ke publik yang dinilai tidak tepat. Ia menilai, momentum keagamaan seperti Idul Adha tetap memiliki makna penting, namun keputusan komunikasi yang berlebihan justru mengaburkan pesan utama dan memicu perdebatan yang tidak relevan.
“Bukan soal penting atau tidaknya kegiatannya, tapi bagaimana itu dikomunikasikan. Ketika hal-hal seperti ini dibesar-besarkan lewat press conference, fokus publik jadi bergeser. Yang seharusnya khidmat, malah jadi bahan polemik,” ujar Hensa.
Menurut dia, kesalahan dalam pengelolaan komunikasi publik berpotensi menimbulkan distraksi yang tidak perlu terhadap agenda Presiden. “Akibatnya energi publik habis di hal-hal yang sebetulnya bisa disampaikan secara sederhana. Ini bukan soal kegiatannya, tapi strategi komunikasinya yang kurang tepat,” tutup Hensa.
Rincian Bantuan Hewan Kurban Presiden
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyerahkan 1.098 sapi kurban pada perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau tahun 2026. Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro mengatakan sapi yang disumbangkan Presiden tersebut berasal dari peternak lokal.
“Sehingga diharapkan momentum ini mereka (peternak lokal) dapat jadikan sebagai momentum untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas sapi, karena mereka tahu setiap tahun Bapak Presiden akan meminta mereka untuk menyediakan sapi korban,” katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, (26/5/2026).
Presiden kata Juri berharap Idul Adha kali ini menjadi momentum untuk pengembangan industri peternakan di Indonesia secara mandiri. Sekaligus juga sebagai momentum dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.
“Dan memenuhi kebutuhan pangan, khususnya daging sapi dalam negeri,” katanya.
Presiden kata Juri, memberikan arahan agar sapi-sapi yang disumbangkan tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya kepada masyarakat yang membutuhkan di daerah masing-masing.
“Baik melalui pemerintah daerah, melalui lembaga-lembaga yang tadi ditunjuk maupun kepada masyarakat atau tokoh-tokoh yang dipercaya untuk menyalurkan hewan kurban Bapak Presiden,” katanya.
Sapi-sapi yang akan dibagikan Presiden Prabowo Subianto pada Idul Adha 2026 itu dibeli menggunakan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp100 miliar.
“Jadi sumber anggarannya dari APBN ya melalui anggaran Bantuan Presiden, Bantuan Kemasyarakatan Presiden,” jelasnya.







