Celotehan Bayi: Bukan Hanya Lucu, Tapi Alat Komunikasi Penting
Celotehan bayi sering dianggap sebagai suara yang acak dan lucu. Namun, di balik kekocakan tersebut, terdapat makna penting yang bisa menjadi indikator perkembangan sosial dan komunikasi mereka. Penelitian menunjukkan bahwa setiap bunyi yang keluar dari mulut bayi adalah cara mereka berkomunikasi dengan dunia sekitar.
Celotehan sebagai alat komunikasi
Menurut Michael Goldstein, penulis utama dan profesor psikologi di Universitas Cornell, celotehan berfungsi sebagai alat komunikasi yang membantu bayi menjelajahi dunia sosial sejak usia sangat dini.
Bayi memiliki energi yang masih terbatas sehingga mereka menggunakan strategi sederhana untuk belajar berinteraksi. Salah satunya adalah dengan menunjukkan perilaku gerakan, ekspresi wajah, dan celotehan.
Melalui celotehan, bayi mengamati reaksi orang di sekitarnya. Mereka belajar bagaimana orang di sekitarnya merespons. Misalnya, ketika bayi mengoceh dan orang dewasa menanggapi dengan senyuman, suara, atau gerakan, bayi mulai memahami bahwa ocehan mereka memiliki efek pada orang lain.
Dengan cara ini, bayi perlahan memahami bagaimana dunia sosial bekerja dan mulai belajar aturan dasar komunikasi, bahkan sebelum mereka mampu mengucapkan kata-kata yang jelas.
Bayi mengharapkan respons

Sama seperti orang dewasa, bayi pun mengharapkan respons dari orang di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa bayi berusia lima bulan akan meningkatkan celotehan menjadi lebih banyak ketika orang dewasa menatap mereka dengan wajah netral, tidak bereaksi atau merespons mereka.
Hal ini menandakan bahwa bayi secara bertahap belajar mengantisipasi respons dari orang di sekitarnya. Respons dari orang dewasa, seperti meniru suara, tersenyum, atau sekadar memberikan perhatian, memberikan petunjuk penting bagi bayi.
Mengapa penting merespons celotehan bayi?

Melalui celoteh, bayi mencoba menyampaikan sesuatu tentang dunia yang mereka amati. Hal ini penting untuk diberikan respons, karena dengan begitu bayi akan menyadari bahwa suara mereka didengar dan diperhatikan.
Selain itu, menanggapi celotehan bayi juga mendukung tumbuh kembangnya. Ketika celotehannya direspons dengan kata-kata, bayi akan lebih mudah memahami interaksi sosial, membangun rasa percaya diri, dan mengasah keterampilan bahasa yang menjadi dasar kemampuan mereka dalam berkomunikasi.
Kapan bayi mulai berceloteh?

Bayi biasanya mulai berceloteh secara konsisten pada usia 4 hingga 6 bulan.
Sebelum mencapai tahap berceloteh, bayi sudah melalui fase awal sekitar usia 2–3 bulan, ketika mereka mulai mengeluarkan suara-suara lembut sebagai bentuk percobaan awal dalam berinteraksi melalui suara.
Tahapan berceloteh pada bayi

Awal celotehan bayi biasanya dimulai dengan suara-suara lembut, seperti “ooo” atau “aaa,” yang dikenal sebagai fase cooing. Suara ini merupakan cara bayi untuk mulai bereksperimen dengan komunikasi sebelum mereka bisa mengucapkan kata-kata yang jelas.
Setelah itu, bayi mulai mengeluarkan kombinasi konsonan dan vokal, misalnya “babababa” atau “dadadada.” Celotehan ini menjadi langkah pertama bagi bayi untuk meniru pola bicara orang dewasa dan mencoba memahami bagaimana suara mereka bisa memengaruhi lingkungan sekitarnya.
Seiring waktu, celoteh bayi berkembang menjadi lebih kompleks. Bunyi yang dihasilkan mulai terdengar seperti percakapan sungguhan dengan intonasi yang meniru orang dewasa, meski belum membentuk kata yang bermakna.
Bagaimana jika bayi tidak berceloteh?

Meskipun setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, keterlambatan berceloteh bisa menjadi sinyal bahwa kemampuan komunikasi bayi perlu diperhatikan lebih serius. Orangtua dapat memperhatikan perilaku bayi, apakah bayi menanggapi suara, mencoba meniru suara dan menunjukkan minat untuk berkomunikasi.
Jika bayi belum menunjukkan tanda-tanda berceloteh hingga usia 9–10 bulan, orang tua sebaiknya mengonsultasikan hal ini dengan dokter spesialis anak. Dokter dapat melakukan evaluasi tumbuh kembang untuk memastikan apakah ada keterlambatan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Cara agar bayi berceloteh lebih aktif untuk berkomunikasi

Mama bisa membantu proses belajar komunikasi si kecil dengan menanggapi celotehan mereka dan melibatkan bayi dalam berbagai interaksi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Lakukan kontak mata – Menatap bayi saat mereka berceloteh membantu membangun koneksi emosional dan rasa percaya. Kontak mata memberi sinyal bahwa celotehan mereka diperhatikan, sehingga bayi merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berkomunikasi.
- Jelajahi lingkungan bersama bayi – Ajak bayi melihat benda-benda di sekitar atau berjalan-jalan di rumah. Anda bisa menunjuk objek dan menyebutkan namanya, misalnya “apel.” Aktivitas ini membantu bayi mengaitkan kata dengan benda, sekaligus melatih interaksi sosial.
- Menyanyikan lagu – Membuat bayi belajar meniru suara, meniru intonasi dan ritme yang menjadi dasar kemampuan berbicara dan komunikasi sosial.
- Membaca atau menunjukkan gambar – Dapat menarik perhatian bayi sekaligus mendorong mereka untuk berceloteh. Aktivitas ini membantu si kecil belajar memperhatikan orang lain, memahami interaksi, serta meningkatkan keterampilan sosial, kosakata, dan minat mereka untuk berkomunikasi.







