Peran dan Komentar dari Tim Kolaborasi Pembuat Film Pesta Babi
Tim kolaborasi pembuat film Pesta Babi menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Yasinta, yang telah mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta untuk mempersoalkan film Pesta Babi. Tim ini terdiri dari berbagai lembaga seperti Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc. Mereka menekankan bahwa keputusan Mama Yasinta harus dipahami dengan baik dan tidak disudutkan.
Mama Yasinta Moiwend adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang telah lama berjuang untuk dirinya sendiri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini dimulai. Dalam keterangan tertulis mereka pada Sabtu, 30 Mei 2026, tim kolaborasi tersebut meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sambil tetap berusaha memahami perubahan sikap yang terjadi.
Latar Belakang Mama Yasinta
Mama Yasinta merupakan tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Suku Marind-Anim di Merauke, Papua Selatan. Ia muncul dalam film Pesta Babi dan poster promosinya. Perempuan paruh baya ini juga mendapatkan penghargaan S.K. Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen karena perjuangannya dalam mempertahankan tanah ulayat masyarakat adat dari proyek food estate.
Sejak video pengakuan keberatan Mama Yasinta atas penggunaan wajahnya dalam film Pesta Babi tersebar pada 23 Mei lalu, ia belum dapat dihubungi atau ditemui langsung. Tim produksi mengaku masih berupaya membuka jalan komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya. Mereka berharap dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sambil melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian masalah yang begitu besar di Tanah Papua.
Pengakuan dan Kekecewaan Mama Yasinta
Dalam video keberatan yang tersebar pada 23 Mei lalu, Yasinta mengaku kecewa karena wajahnya ditampilkan dalam film dan digunakan dalam poster promosi film tersebut. Ia juga menyatakan bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk bekerja di perusahaan guna merenovasi rumahnya. Menurut dia, ia sudah tidak bergabung dengan lembaga bantuan hukum atau LBH Papua Pusaka yang sering mengadvokasi perjuangan masyarakat adat.
Yasinta bersama masyarakat suku Marind lainnya, termasuk pria bernama Aris, pernah menolak pembukaan lahan di Papua. Ia mengklaim tidak menyangka partisipasinya menjadi viral dan menjadi aset untuk film Pesta Babi. “Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” kata Yasinta dalam keterangan tertulis, Ahad, 24 Mei 2026.
Tindakan Lanjutan dan Respons Publik
Pada Jumat, 29 Mei 2026, Yasinta mendatangi kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya untuk membicarakan soal film dokumenter Pesta Babi yang menampilkan dirinya. Menurut dia, keberadaannya di film Pesta Babi dilakukan tanpa izin. “Kenapa wajah saya ditampilkan di depan banyak orang tanpa seizin dari saya?” tutur Yasinta.
Pengakuan Mama Yasinta tersebut menjadi perbincangan di tengah derasnya represi pemutaran film Pesta Babi. Beberapa warganet berkomentar bahwa pengakuan Mama Yasinta dibuat ketika berada di bawah tekanan.
Tanggapan dari Sutradara Film
Menanggapi kemunculan video pengakuan Yasinta, sutradara film Pesta Babi, Dhandy Laksono, menyatakan bahwa ia berhak membuat keputusan apa pun. “Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan,” kata dia lewat unggahan di Instagramnya pada Senin, 25 Mei 2026. Tempo telah diizinkan untuk mengutipnya.
Amelia Rahima Sari berkontribusi dalam penulisan artikel ini.






