Murid di Australia Dilarang Akses Media Sosial, Beralih ke Buku dan Telepon Jadul
Di sekolah dasar Bertram Primary School di Perth, Australia Barat, murid-murid tidak mengenal media sosial. Mereka masih belum memiliki akun medsos karena undang-undang melarang anak di bawah usia 16 tahun untuk membuat atau memiliki akun di platform media sosial yang dibatasi usia. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa mereka belum terbiasa menggunakan media sosial.
Sekolah ini merupakan mitra dari SD Negeri 023 Pajagalan Kota Bandung, Jawa Barat. Di dalam kelas, para murid belajar Bahasa Indonesia dan menampilkan berbagai elemen budaya Indonesia seperti wayang, batik, dan tarian. Tidak hanya itu, mereka juga mempraktikkan percakapan Bahasa Indonesia dan menyampaikan salam-salam seperti “Halo, Pak, Bu” serta “Selamat malam”.
Austin, seorang siswa kelas 6, mengatakan bahwa dia dan teman-temannya belum memiliki akun media sosial. Alasannya adalah undang-undang yang melarang anak di bawah usia 16 tahun untuk mengakses platform media sosial. Selain itu, banyak mahasiswa dan remaja di Australia mulai meninggalkan kecanduan smartphone dan beralih ke telepon jadul (dumbphone) yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan singkat.
Fenomena BookTok dan Kebiasaan Membaca Buku
Dr Nasya Bahfen, dosen La Trobe University, Melbourne, mengatakan bahwa fenomena BookTok telah muncul sejak pandemi Covid-19. Gerakan ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai lebih senang membaca buku daripada memegang ponsel. Banyak mahasiswa dan remaja mencari pacar yang kutu buku daripada yang ketagihan ponsel.
Fenomena BookTok dimulai pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, saat pembatasan wilayah akibat lockdown memaksa orang-orang menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian. Akibatnya, buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers).
Penerbit dan toko buku di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil tersebut. Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover sempat merajai daftar bestseller fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal. Puncak fenomena BookTok tercapai pada rentang tahun 2022 hingga 2023, di mana BookTok tidak lagi sekadar subkultur internet tersembunyi, melainkan telah mendikte pasar arus utama (mainstream).
Toko Buku Kembali Laris
Dampak BookTok terhadap industri retail buku di Australia sangat masif dan membalikkan prediksi banyak analis yang awalnya mengira generasi muda akan meninggalkan buku fisik demi gawai. Novel romantis, yang sebelumnya tidak menjadi pusat perhatian, kini menjadi salah satu genre yang paling diminati. Buku-buku seperti “It Ends with Us” berhasil menarik minat pembaca Gen Z dan Milenial.
Toko buku besar kini memiliki rak khusus untuk novel romantis. Acara penandatanganan buku romantis besar-besaran diadakan di pusat konvensi. Pembaca novel romantis mengantre untuk pembukaan toko buku khusus novel romantis Romancing the Novel di Paddington, Sydney tahun lalu.
Kesimpulan
Perubahan perilaku masyarakat di Australia menunjukkan bahwa generasi muda mulai lebih sadar akan dampak negatif penggunaan smartphone dan media sosial. Banyak dari mereka memilih untuk beralih ke buku dan telepon jadul sebagai alternatif. Fenomena BookTok juga memberikan dampak positif terhadap industri buku, dengan peningkatan penjualan novel romantis yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap buku tetap tinggi meskipun teknologi digital berkembang pesat.





