Penyakit Lupus: Pengertian dan Pentingnya Deteksi Dini
Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang memengaruhi berbagai organ tubuh. Kondisi ini tidak hanya menyerang individu biasa, tetapi juga beberapa figur publik seperti penyanyi Indonesia Isyana Sarasvati dan artis internasional Selena Gomez. Hal ini menjadi pengingat bahwa lupus merupakan penyakit serius yang memerlukan diagnosis dan penanganan sejak dini untuk mencegah kerusakan organ.
Menurut dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, lupus memang sulit dicegah sepenuhnya karena penyebab pastinya belum diketahui. Namun, risiko kemunculannya dapat ditekan melalui pengendalian faktor pencetus dan penerapan pola hidup sehat.
Langkah Pencegahan yang Efektif
Beberapa langkah pencegahan lupus dapat dimulai dengan mengurangi paparan faktor-faktor yang berpotensi memicu penyakit. Beberapa di antaranya ialah:
- Membatasi paparan sinar matahari berlebihan
- Menghindari bahan kimia tertentu
- Mengurangi paparan polusi udara
- Menjaga diri dari infeksi bakteri maupun virus yang diketahui dapat memicu lupus
- Stop merokok, itu juga salah satu upayanya
- Memperbaiki kekurangan vitamin D karena menjadi salah satu faktor risiko munculnya lupus maupun penyakit autoimun lain
Selain itu, stres dan obesitas juga menjadi faktor risiko penting dalam perkembangan lupus. Oleh karena itu, menjaga berat badan ideal serta mengendalikan stres sangat dianjurkan.
Contoh Figur Publik yang Hidup dengan Lupus
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menyatakan kesadaran masyarakat terhadap lupus perlu terus ditingkatkan karena penyakit ini sering sulit dikenali dan menyerupai banyak kondisi lain. Ia mencontohkan sejumlah figur publik yang hidup dengan lupus, termasuk penyanyi Indonesia Isyana Sarasvati dan artis dunia Selena Gomez. Bahkan, Selena Gomez harus melakukan transplantasi ginjal karena kegagalan ginjal akibat SLE.
Lupus paling banyak menyerang perempuan muda usia 15 hingga 45 tahun. Karena gejalanya beragam, proses diagnosis bahkan bisa memakan waktu hingga enam tahun. Padahal, kerusakan organ dapat terjadi dalam lima tahun setelah diagnosis ditegakkan sehingga deteksi dan terapi dini menjadi sangat penting.
Perkembangan Penanganan Lupus
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, pendekatan terapi lupus kini tidak hanya berfokus mengatasi kekambuhan atau flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi dan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut juga bertujuan mencegah kerusakan organ serta mengurangi penggunaan glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.
Rekomendasi serupa turut disampaikan The European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) yang menekankan pentingnya remisi, pencegahan flare, pembatasan kerusakan organ, dan pengurangan penggunaan steroid dalam penanganan SLE.
Terapi Biologis sebagai Harapan Baru
Esra menyebut saat ini penanganan lupus telah berbasis sains dengan pemahaman yang lebih jelas terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran interferon tipe I. Tersedia terapi inovatif yang bekerja lebih terarah untuk membantu mengendalikan aktivitas lupus.
Salah satu inovasi terbaru ialah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia untuk SLE yang bekerja menghambat jalur interferon tipe I, yang diketahui berperan dalam patogenesis lupus.
Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, menyatakan pendekatan terapi lupus kini bergerak menuju pengobatan yang lebih spesifik dan berbasis bukti ilmiah. Pendekatan penanganan SLE kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti.
Kontrol Rutin untuk Kualitas Hidup Pasien
Meski lupus merupakan penyakit kronis, dr. Sandra menegaskan pasien tetap memiliki peluang menjalani hidup berkualitas dengan pengobatan dan pemantauan yang tepat. Kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, dan kepatuhan menjalani terapi menjadi faktor penting agar pasien dapat mencapai remisi lebih cepat dan terhindar dari kerusakan organ permanen.
Esra menambahkan, peningkatan kesadaran publik perlu terus diperkuat agar masyarakat mampu mengenali gejala lupus lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang tepat. Kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik.





